🦋 HAPPY READING 🦋
Siang ini, adalah waktu di mana Jerry sebentar lagi akan berangkat ke London. Di bandara, telah berkumpul Hildan dan teman-temannya. Yudha dan Dion. Serta Marlo dan Hendro. Berkumpul untuk mengantarkan Jerry, Aruni, dan Alian.
Alian ikut, namun hanya beberapa hari saja. Hanya untuk memberi tahu Jerry akan apa yang ia lakukan di London nantinya.
Maka dari itu, adik-adiknya ia titipkan pada Dion dan Yudha.
Dan sekarang Hildan sedang memeluk dengan erat abangnya itu. Sambil terisak dengan hidung yang merah dan mata bengkak.
"Aduh bayii, jadi makin mirip beruang kalo kayak gini," ujar Jerry sambil tertawa dan mengusap kepala Hildan.
Aruni sendiri juga tengah berpamitan dengan Ibu dan adiknya. Aruni dan Jerry itu sama, sama-sama anak sulung.
"Abang hati-hati pas terbang, terus jaga kesehatan, makan yang teratur, bobo yang cukup, jangan sakit, jangan lupain Hildan," peringat Hildan yang masih sesenggukan.
Astaga, Hildan benar-benar lucu. Masa iya bocah ini udah kuliah?
Setelah itu Hildan ganti memeluk Papanya. "Papa janji, loh, cuma beberapa hari?"
"Iya, janji bayii," Alian mengusak surai halus Hildan.
Akhirnya mereka semua berpamitan. Lalu ketiga tubuh mereka mulai hilang ditelan kerumunan itu.
Hildan terlihat masih memble di wajahnya.
Gemes. Batin Jean.
Yudha tanpa banyak bicara, langsung menggandeng tangan kecil Hildan. Membuat Hildan menoleh kebingungan. "biar ngga hilang," katanya.
Jean melihat itu, ia juga tak mau kalah, dong. Ia ambil juga tangan Hildan dari sisi kiri. "biar ngga hilang," kata Jean sambil melihat ke arah Yudha.
Ngapa ngeliatin gue? Batin Yudha sambil memelototi Jean.
Sementara yang lain hanya menatap jengah. Belum ada satu jam, sepertinya persaingan semakin ketat.
"Udah ayok pulang," ajak Dion selaku orang paling waras.
"Hildan semobil sama gue," ujar Yudha sembari berjalan.
Apa-apaan ini? Nggak, nggak, gue nggak boleh kalah!
"Kalo gitu, gue juga ikut Hildan."
"Lo nggak diajak,"
"Lah? Masa kalian mau berdua doang semobil? Mobilnya bang Dion ga cukup buat kita,"
"Cukup, cuma ber-enam, bukan se-RT."
"Tapi sempit, Bang."
"Kan, yang penting cukup,"
"Keenakan di lu nya, sini sempit-sempit an,"
"Bodo amat gue,"
Dan yap, perdebatan itu terus berlangsung hingga sampai di parkiran. Sungguh tak ada yang mau menengahi mereka. Hingga akhirnya Hildan membuka suara.
KAMU SEDANG MEMBACA
HILDAN'S STORY
FanfictionTentang Hildan yang menjadi bungsu di keluarganya. Memiliki kepribadian yang lembut, membuat semua orang nyaman padanya. Ia memiliki 3 orang kakak yang tampan dan menjadi incaran banyak wanita. Namun, fokus mereka hanya Hildan. Hildan juga memilik...
