11

147 15 0
                                        

"Bisakah ini berakhir? Sungguh aku tak tau yang namanya percintaan" Gumam seorang gadis bersurai hitam legam.

Dirinya menatap malas pemandangan di depannya. Bagaimana tidak? Leonora sedang berbicara dengan Arash tiba-tiba saja Celsi muncul dan mengajak bicara Arash.

Di tambah lagi Celsi menarik tangan Arash hendak pergi tapi Leonora menarik tangan Arash yang satu lagi, jadi lah saling tarik menarik.

Apalagi Leonora yang berbicara atas kasta nya, Celsi yang tak mau kalah membalas perkataan Leonora kalau dirinya itu terlalu norak.

Leonora jelas marah. Ia langsung memaki Celsi kalau dirinya hanya rakyat jelata.

Sungguh, drama pagi gratis.

"Seharusnya kau pergi, Celsi. Kelas rendah seperti mu tidak baik disini"

"Nona Leonora. Aku tau kalau aku ini kelas rendah, tapi apa kasta tinggi seperti anda pasta berbicara seperti itu?"

"Jangan sok menceramahi ku, sedati tadi aku berbicara dengan Pangeran Arash karena hal penting. Tapi kau tiba-tiba saja datang dan mengajak nya berbicara tak penting"

"Nona.. Aku tau itu. Tapi aku hanya ingin berbicara dengan Pangeran Arash... Pangeran juga tak masalah aku ajak bicara. Kenapa jadi nona yang sibuk?"

"Kau itu benar-benar..! Hey! Seharusnya kau menghormati orang seperti ku! Bukan malah melawan"

"Nona, anda lemah. Anda saja tak bisa menggunakan sihir anda dengan baik.. Berbeda dengan ku yang bisa menggunakan sihir"

".. Rakyat jelata tak sadar diri" Leonora melenggang pergi, malas meladeni binatang.

Celsi hanya menatap kepergian Leonora, ia pun ikut pergi menyusul Arash yang tadi pergi berlawanan arah.

Sedangkan gadis bersurai hitam legam ini? Ia menatap datar.

"Bisa katanya? Di latih saja kebanyakan menjerit"

Meanwhile.

"A-apa anda yakin? D-disini tinggi" ucap celsi gemetar.

"Sudah tak apa, lagi pula ini masih rendah"

"T-tapi.. "

"Banyak bicara" ia menarik tangan Celsi lompat dari batu ke daratan.

"WAAAAAA!!"

dirinya menatap datar, padahal hanya berkisar jarak 1-19 cm.

Meanwhile.

"AAAA!!" suara teriakan Celsi mengalihkan atensi mereka.

"Ada apa?" tanya gadis bersurai hitam legam.

"I-ini..! A-ada kupu-kupu!"

Ia lantas menatap ke arab kupu-kupu yang hingga di dahan samping Celsi berdiri.

".. Rasanya aku ingin memenggal kepala mu"

Meanwhile.

"HUWAAA!!"

Untuk sekian kalinya ia menutup telinga, teriakan Celsi membuat gendang telinga nya pecah.

"Aku cuma mengoleskan obat"

"T-tapi.. S-sakit.. " ucap Celsi.

Luka apa? Hanya luka gores, luka yang ia dapat saat berjalan dan tak sengaja tergores dinding.

"... Ah.. Telinga ku yang malang"

.

.

.

.

.

Di sebuah taman. Terlihat seorang gadis bersurai hitam dengan helaian putih duduk di rerumputan seraya memeluk sebuah telur naga berwarna hitam.

Angin siang hari berhembus menerpa dirinya, sejuk. Apalagi dirinya duduk di bawah pohon.

"Disini nyaman bukan?"

Ia menatap ke arah depan. Seorang pemuda bersurai putih berdiri di hadapannya.

"Raiden.. "

Si pemilik nama tersenyum, ia duduk di samping gadis bersurai hitam putih itu.

Manik merah nya melirik ke arah telur yang di peluk "hm? Sampai kapan kau akan memeluknya?"

"Sampai menetas.. Tak mungkin aku meninggalkan nya di kamar sendirian"

Krak.

Suara retakan mengalahkan atensi mereka. Telur naga itu mulai menetas, (Name) meletakan telur naga itu di hadapannya.

Krak.
Krak.
Krak.

Retakan retakan pada telur naga itu makin luas. Yang pertama keluar adalah kaki, (Name) menatap berbinar binar.

Raiden hanya diam menatap. Ekspresi nya biasa saja, walau alisnya menekuk.

Krak.

Pecahan terakhir muncul lah seekor bayi naga berwarna hitam, netra yang di miliki oleh bayi naga itu berwarna ungu cerah.

(Name) yang kegirangan langsung memeluk bayi naga itu, Raiden menatap datar (Name).

"Imut. Iya kan, Raiden" ujar (Name) tanpa menolehkan kepalanya.

"A... Ahaha.. Ya.. " ucap nya tak pasti. Manik merah itu melirik ke arah lain.

Husshh.

"III!" Raiden menghindar saat bayi naga itu menghembuskan nafas api.

(Name) hanya menatap biasa, ia malah senang dengan apa yang tadi naga kecil nya lakukan.

Raiden menatap cengo ke arah dirinya 'seleranya benar-benar di luar nalar'

"Lain kali jangan menghembuskan nafas api sembarangan, kau dengar Ryuu"

"Uuuu! ~"

<suara naga kek gimana? Aut gak tau sumpah, dah lah kek gitu aja>

"Kau menamainya Ryuu?" tanya Raiden.

"Iya, lagi pula lucu untuk seekor naga seperti dirinya" (Name) beranjak dari tempat nya.

"Duluan ya raiden, aku mau menidurkan Ryuu dulu" lanjut nya seraya berlari pergi dari taman.

Raiden hanya terdiam ".. Gadis aneh"

.

.

.

.

.

"Ayunkan pedang kayu mu 10X"

Di lapangan tempat latihan. Celsi sedang melatih sihirnya, ia di suruh mengayunkan pedang kayu 10X.

"Lanjut kau menyerang sasaran itu, gunakan sihir mu sebisa mungkin"

Yang melatih Celsi saat ini adalah seorang gadis bersurai hitam legam, yang tadi memperhatikan perdebatan nya bersama Leonora.

"Anu.. Apakah boleh beristirahat sebentar.. Shizune" ujar Celsi.

'Belum apa-apa sudah minta istirahat.. '
"Ya, setelah ini kau akan latihan lagi"

"Arigatou"

Celsi duduk di atas karpet yang sudah di sediakan, sedang Shizune duduk di batang kayu yang sudah roboh.

Beberapa menit Celsi istirahat, ia kembali latihan. Latihan menembak sasaran yang berupa kayu.

Cukup lama mengajari menembak, tapi tetap saja cara kerja menembak sihir cahaya itu sangat lambat.

' mau sampai kapan?? Hari sudah sore.. '




















Sekian lama akhirnya update lagi.. Huhu~

??: ih! Terhura nya.

Terharu bodoh.

👇✰(◍•ᴗ•◍)

𝙇𝙄𝙏𝙏𝙇𝙀 𝙎𝙄𝙎𝙏𝙀𝙍 •.:°❀×𝑻𝒉𝒆 𝑷𝒐𝒘𝒆𝒓×❀°:.• Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang