06. WEIRD

185 34 5
                                        


Wajah tenang yang sedang tertidur pulas itu tak pernah sekali pun Jisoo hilangkan dari pandangannya. Ketika sedang berada jauh di alam mimpi sana, jennie terlihat seperti manusia biasa pada umumnya.

Malahan, dia tampak seperti seorang anak kecil.

Siapa pun tak akan pernah menyangka, jika dia lah pemilik takhta tertinggi dalam golongan keluarga Kim. Jennie memiliki koneksi. Dan semua vampir bermarga Kim dapat ia kendalikan dengan tangannya sendiri.

Mereka-mereka yang satu keluarga dengannya bagaikan hidup dengan bom waktu yang tertanam dalam tubuh dan itu bisa meledak kapan pun, sesuai dengan keinginan Jennie.

Dan Jisoo juga, menjadi yang tak terkecuali.
Jika Jennie ingin, dia bisa meledakkan tubuh Jisoo saat ini juga.

Ternyata, Jisoo yang sedang memandangi wajah Jennie dengan tatapan yang sulit diartikan itu, tengah terbawa oleh pikirannya. Kejadian semalam membuat Jisoo bertanya-tanya, mengapa Jennie bisa begitu agresif?





Suara langkah kaki terdengar menggema di seluruh penjuru ruangan yang sunyi itu, seolah ingin menyambut Tuan nya dengan senyuman, Jisoo membuka pintu mansion dan menyapa Jennie dengan senyuman.

Tapi, tak ada balasan yang sama dari orang di hadapannya itu. Jennie menatap Jisoo dengan marah. Apakah dia membuat kesalahan

Dan begitu melihat sedikit bercak darah di sudut bibir Jennie, Wanita itu tersadar. Dengan rela, Jisoo menarik kerah bajunya, memperlihatkan leher mulusnya dan kala itu juga, gigi tajam menebus kulit, begitu agresif hingga darah miliknya sampai keluar, bak air mancur.

Setelah lebih dari lima ratus tahun lamanya, Jisoo kembali merasakan bagaimana rasanya aliran darah itu naik, seperti dengan senang hati menghampiri pemilik aslinya.

Di semua tubuh vampir yang menyandang marga Kim, mengalir darah milik Jennie yang bisa ia ambil kembali, kapan pun.

Malam itu, rasanya tubuh Jisoo seperti akan hancur. Jennie yang rakus, begitu haus akan darah, mengambil miliknya dengan gerakan tubuh tak terarah.

Dia memiliki tenaga yang cukup kuat untuk mendorong tubuh Jisoo, bahkan hingga membuat punggungnya terbentur berkali-kali pada tembok.

Dan entah yang ke berapa kalinya, tembok rumah milik Jennie itu hancur berantakan.


   “Hey, kau sudah bangun?” Jisoo menyapa, pada Jennie yang baru saja membuka mata.

Jennie menatap Jisoo, mencari-cari sesuatu dan ia bangun dari posisinya, menyandarkan punggungnya. “Apa aku melukaimu?” tanyanya. Tangannya bergerak meraih kerah kemeja Jisoo. “Biar kulihat.”

Jisoo terkekeh kecil, “tak separah biasanya.”

Dan yang pandangan mata Jennie dapatkan adalah bekas gigitan dengan beberapa tanda ciuman di sekitarnya.

Jennie yakin jika yang ia lakukan pasti menghasilkan luka yang lebih dari ini, dan Jisoo sudah menyembuhkannya sendiri.

   “Kan?” lanjut Jisoo, turut berbicara dengan tatapan matanya.

Jennie yang melihat bagaimana cara mata Jisoo melihat itu hanya bisa menghela napas. Ia lantas bangkit dari tempat tidurnya, “lain kali tahan aku jika aku berlebihan.” Dan melangkahkan kaki setelah menyelesaikan kalimatnya barusan.

Jisoo memerhatikan langkah Jennie yang membawanya menuju kamar mandi. Ia lantas memanggil, “Jennie.”

Dan si Pemilik nama berhenti tanpa membalikkan badannya.

   “Kau.. mengambil lebih banyak dari Lisa?” Jisoo bertanya.

Jennie yang masih berdiri ditempatnya itu lantas menyeringai dan Jisoo bisa melihatnya dengan jelas. Dia mempermainkan Lisa.

ETERNITY [On Going]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang