07. ANGER

275 42 2
                                        


Bak turut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Lisa, alam ikut meneteskan air langitnya, membasahi seluruh kota Seoul.

   “Gwaenchana, gwaenchana. Aku yakin kau akan mendapatkan pekerjaan yang lebih layak dari ini. Jangan menyerah, Lisa.”

Kalimat-kalimat penenang dari temannya itu memang cukup membantu. Tetapi, tetap, Lisa sendiri tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.

Ia merasa lelah karena kali ini pun dia tak kunjung diterima ditempatnya melamar kerja.
Dan ini sudah yang ketiga kalinya. Tiga tempat dengan hasil yang sama.

Helaan napas panjang Lisa lakukan, membuktikan seberapa frustrasi dirinya sekarang. “Sepertinya aku akan pulang, Chaeyoung-ah. Biarkan aku sendiri dulu untuk beberapa saat,” katanya dengan lemas.

Chaeyoung tak menolak, ia juga tak memaksa. Memastikan bahwa temannya pulang dengan selamat, Chaeyoung memesankan taksi untuk Lisa dan memintanya untuk memberi kabar jika sudah sampai.

Tetapi, sesampainya di rumah pun Lisa tidak melakukannya. Dia berbaring di ranjang nya yang tak begitu empuk itu dengan tengkurap. Tak ada yang dirinya lakukan lagi setelah itu.

Lisa tertidur, hingga malam menyambutnya.

Rasa lelah karena gagalnya dia dalam beberapa hal membuat Lisa rasanya ingin sekali menyerah. Jangan tanya apakah dia sudah mencoba untuk mengakhiri hidupnya atau tidak, Lisa pernah.

Dan Chaeyoung lah penyelamatnya. Jika bukan karena si teman satu-satunya itu, Lisa yang sekarang mungkin sudah tiada.

Sebuah ketukan pintu membuat Lisa dengan tak rela meninggalkan tempat tidurnya. Kala melihat siapa yang bertamu, dengan wajah suram dan senyuman yang dipaksakan Lisa menyambut kedatangan Ibu kos.

    “Apa yang terjadi? Semakin hari kau semakin kurus dan lihatlah! Sekarang pun terlihat begitu menyeramkan. Kau berantakan Lisa,” ujar Ibu Kos.

Lisa tak merespons. Dia membiarkan Ibu Kos memasuki rumah miliknya itu, memeriksa dapur Lisa yang mana hanya terisi makanan instan di lemari nya. Itu pun hanya tinggal beberapa biji saja.

Tak cukup untuk beberapa hari ke depan. Jangankan beberapa hari, dua hari pun sepertinya tidak.

    “Aku akan meminjamkan uangku p—

    “Tidak, Ahjuma. Aku belum membayar uang kos selama sebulan ini. Aku tidak ingin merepotkan mu dengan uang itu. Aku masih berusaha untuk mencari pekerjaan. Aku akan segera membayarnya.”

Melihat keadaan Lisa yang begitu memprihatinkan, rasa iba memenuhi hati Ibu Kos. Dia tahu seberapa besar perjuangan Lisa untuk sampai pada saat ini.

Meski Lisa sudah sering menunggak, tetapi Ibu Kos paham akan keadaannya dan dia tak pernah memaksa Lisa untuk segera membayar.

Lagi pula, pada awalnya rumah yang Lisa tinggali ini hanyalah sebuah gudang dan ketika Lisa datang, memohon untuk diberi tempat tinggal, baru lah dia merubah nya.

Sembari menaruh barang bawaannya, Ibu Kos menghela napas dan melirik Lisa sesaat. “Aku membawakan mu beberapa lauk untuk dimakan nanti. Jangan terlalu banyak memakan makanan instan, Lisa.” Pesannya.

Meski hidupnya berat, Lisa tetap bersyukur karena setidaknya ada yang dengan senang hati membantu dan Ibu Kos adalah salah satunya.

Mereka berbincang cukup lama hingga akhirnya Lisa kembali sendirian di rumah kecilnya itu.

Membayangkan bahwa dirinya akan seperti ini lagi hingga beberapa tahun ke depan, rasanya Lisa tak suka, ia tak rela masa mudanya akan berakhir dengan sedikit hal membahagiakan.

ETERNITY [On Going]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang