"Mm. Kau juga ... cepat atau lambat, kau mungkin akan mengalami hal yang sama."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kita hanya mengikuti perintah, Hyung. Karena itu kita harus tetap melihat situasi. Jika tuan kita yang sekarang tampak mulai melemah, kita harus bersiap untuk berpindah. Mari selesaikan pekerjaan kita lebih dahulu. Jika para Tuan Muda itu kembali, laboratorium ini harus sudah kita kosongkan agar jejaknya hilang dan tak mampu mereka temukan."
Itu adalah apa yang pernah Jehyun katakan pada anggotanya. Sayangnya, Jehyun kalah cepat. Kembalinya Kim Yechan dan kembalinya Yang Hyuk, sedikit banyak itu mempengaruhi banyak hal dalam rencana yang sudah ia susun selama ini.
Junghoon ditahan. Jehyun pun tak lolos dari sergapan.
Jehyun juga tahu bahwa dendam padanya adalah hal yang paling membuat Kim Yechan dan Yang Hyuk berusaha keras untuk menangkapnya.
Walau jelas mereka melewatkan yang terpenting.
Yang harus ditangkap selain mereka adalah Ketua Han. Ayah Junghoon sekaligus pria yang sudah dianggap anak oleh Jehyun.
Jehyun adalah pembuat rencana. Namun, jika tak ada dana yang mengalir dari Han Group ke project-nya, semua tak akan berjalan.
Entah sebenarnya dia atau ketua Han yang manipulatif di sini. Pria itu bahkan mencuci tangan dengan menyerahkan anaknya sendiri.
Sekarang, Jehyun mulai memikirkan bagaimana keadaan Junghoon.
"Jadi, apa kau memiliki obatnya?"
Jehyun semula tak ingin menjawab pertanyaan Jaehan, namun saat teringat dengan Junghoon, ia pun melunakkan keras di hatinya, "Bagaimana keadaan Junghoon?"
"Aku benci dengan seseorang yang menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lainnya."
Hela lelah terdengar dari balik jeruji perak, "Aku akan memberitahu, tapi setidaknya katakan padaku jika anak itu baik-baik saja dimanapun dia berada."
"Mm. Junghoon juga temanku, jadi aku pastikan dia baik-baik saja."
Jaehan ingat jika luka Junghoon tak sebanyak Jehyun. Ia sendiri tidak tahu kenapa Yechan dan Hyuk begitu keras pada mereka berdua.
"Jadi, apa kau tahu obatnya?"
Jehyun menatapnya, tatapannya sedikit dalam. Dari sana Jaehan tahu jika pasti apa yang ia inginkan tidak akan mudah untuk didapat ataupun dilakukan.
"Pergilah ke Yeomra. Cari wadah baru untuk jiwamu. Lakukan persis seperti yang Kim Yechan lakukan di masa lalu. Jalan itu akan menyelamatkanmu ..."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
**
"Apa katamu?"
Jehyun menghela, mencoba menjelaskan sebisanya.
"Dari Alpha menjadi Enigma, kekuatan besar yang tiba-tiba ... perlahan bisa menggerogoti sel-sel yang semula baik-baik saja. Mereka dipaksa tumbuh cepat, pesat, dan juga kuat. Semua indera menjadi prima. Racun Alpha yang seharusnya hanya untuk bonding menjadi racun yang lebih kuat lagi."
Bayangkan sekuat apa racunnya sehingga mampu mengubah seorang Alpha dengan kekuatan dan dominasi tertinggi menjadi omega yang lemah bahkan dapat dibuahi.
Jika dipikirkan lagi, apapun yang ia ciptakan ini adalah mahakarya yang tiada tandingannya.
"Kau pikir ... semua itu tak ada harganya?" tanya Jehyun pada akhirnya.
Jaehan terdiam.
Dan karena tak ada tanggapan -mungkin karena keterkejutan- Jehyun pun melanjutkan, "Sama seperti Alpha ke Enigma, perubahan juga terjadi dari Alpha yang mating dengan Enigma. Mereka menjadi Omega dalam waktu yang singkat."
Bahkan dengan segala kekuatan yang dimiliki, para Alpha yang mating dengan Enigma tetap berubah dalam semalam.
"Karena perubahan itu, dominasimu perlahan menjadi tak ada arti, sel-sel tubuh yang digunakan untuk bertarung menjadi sel-sel yang mampu bereproduksi ... dan harganya sudah pasti jauh lebih tinggi."
Jaehan memijit pangkal hidungnya, "Katakan yang jelas, Elder-nim. Aku mengerti maksudmu, tapi aku butuh sesuatu yang lebih singkat. Apa yang akan terjadi jika aku tak mempunyai tubuh baru yang sesuai dengan jiwa omega-ku?"
Jehyun mendengus. "Tak ada kesabaran. Kau harus mendengar secara keseluruhan agar tidak salah paham, Luna-nim."
Mm, Oke.
Panggilan baru itu agaknya membuat Jaehan sedikit tersipu. Jehyun yang melihatnya pun hanya bisa memutar bola mata.
"Baiklah, maafkan aku ... silakan lanjutkan."
"Kim Yechan akan abadi di dalam tubuh barunya, Shin Yechan sudah bertahan sejak bayi, tubuhnya benar-benar sudah menyatu dengan sel enigma yang kuberikan. Sementara, Yang Hyuk juga bertahan karena dikurung sekian lama, itu menjinakkan sel enigma yang seharusnya bergerak liar dalam tubuhnya. Tapi, kau dan Sebin berbeda ..."
"Berbeda?"
Jehyun mengangguk, lalu menjelaskan bahwa tubuhnya sudah dirancang sebagai alpha sejak kelahirannya.
"Kesehatan. Tubuhmu perlahan akan rusak. Untuk mencegah itu, kalian harus mencari wadah baru. Omega akan lebih baik."
Jaehan mulai merasa takut untuk alasan yang ia tak mengerti. Bukankah itu berarti ia akan kehilangan tubuh sempurna ini?
Belum lagi fisik yang berbeda ... tidak! Jaehan tidak akan pernah mau menukar tubuhnya dengan siapapun.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan. Tenang saja, masih banyak waktu untuk berpikir. Kau mungkin masih akan bertahan untuk beberapa tahun ke depan. Tapi, saudara kembarmu itu -Kim Sebin ... kurasa dia adalah yang paling membutuhkan tubuh baru."
Karena sudah hampir delapan belas tahun Sebin menahannya.
"Sebenarnya keberuntungan baginya dengan Hyuk ditahan selama ini. Semakin sering berhubungan, itu akan mempercepat kerusakan." Jehyun mengangkat bahu, "Yah, setidaknya sebelum kalian mati, berikan Antella keturunan terlebih dahulu. Anak-anak kalian akan menjadi bibit unggul untuk pack kita, Luna-nim ..."
Karena Jehyun juga tak peduli jika Kim Jaehan ataupun Kim Sebin mati. Satu-satunya yang ia mau hanyalah para Alpha yang sudah menjadi omega ini akan memberinya bayi.
Tujuannya adalah untuk memberi Antella keturunan-keturunan terbaik. Tak peduli dari rahim siapa, ia berjanji akan merawatnya.