66

146 16 5
                                        

"Pergilah ke Yeomra. Cari wadah baru untuk jiwamu. Lakukan persis seperti yang Kim Yechan lakukan di masa lalu. Jalan itu akan menyelamatkanmu ..."

"Karena itu kau datang kemari? Bagaimana jika aku tidak ke sini? Apa kau sungguh akan melakukan apa yang Jehyun sarankan tanpa mempertimbangkan apa yang mungkin aku katakan?"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Karena itu kau datang kemari? Bagaimana jika aku tidak ke sini? Apa kau sungguh akan melakukan apa yang Jehyun sarankan tanpa mempertimbangkan apa yang mungkin aku katakan?"

Jaehan menggeleng, "Aku datang karena ingin bertanya, aku hanya ingin mencari kebenarannya, dan aku yakin Yeomra selalu memiliki jawabannya."

Antella memang pack terbesar, namun pengetahuan para tetuanya sudah terkontaminasi oleh keegoisan mereka sendiri.

Jaehan kemari karena tak yakin akan apa yang Jehyun katakan. Hatinya juga menolak atas semua yang Jehyun katakan. Karena itu ia ke sini.

Jaehan merasa bahwa jika Yeomra berkata iya, maka mungkin itulah kebenarannya. Ia bahkan tak menyangka Yechan ada di sini.

Tak hanya Yechan, bahkan Hyuk dan Sebin juga.

Mendengar apa yang Jaehan katakan, Yechan mendengus pelan, "Kalian berdua ..." Yechan tidak tahu kenapa Jaehan dan Sebin bisa semirip itu. Yah, mereka memang kembar, tapi Kim Yechan tidak begitu.

"Yechanie, apa Sebin mengatakan hal yang sama?"

Yechan mengangguk.

"Jadi, apa tadi Sebin sudah bertanya?"

Sekali lagi, Yechan memberikan anggukan.

"Apa hasilnya?"

"Apa lagi yang kalian harapkan? Yeomra itu tempat untuk menghukum penjahat, bukan tempat untuk hal-hal seperti yang kalian ributkan."

Jaehan merengut. Ia sering melihat Yechan kesal, tapi kesal padanya ... ini masih terasa asing baginya.

"Tapi, pasti ada jawabannya, 'kan?"

"Jaehanie, tak peduli ada atau tidak perubahan dalam tubuh kita, mati adalah hal yang pasti. Apa yang kau takutkan? Jika kau mati, aku juga. Tak peduli sekarang atau nanti. Lagi pula, Sebin baik-baik saja selama belasan tahun ini. Kau juga sama, kau akan baik-baik saja."

Akan tetapi, Jaehan seolah tak mendengarkan ini.

"Jadi, apa kalian mendapatkan jawabannya?"

Ya.

Yechan ingin sekali mengatakannya. Namun, kenapa ia merasa ragu?

Padahal hal itu bukan sesuatu yang merugikan juga.

Memiliki anak bersama mate, bukankah itu yang semua pasangan werewolf idamkan?

Hanya saja, mengapa Yechan merasa bahwa  jawaban ini akan membebani Jaehan nanti?

Tak cukup dengan berubah menjadi omega, Jaehan pun harus menanggung takdir untuk mengandung anak mereka.

Tidak. Yechan tidak ingin Jaehan merasa terpaksa.

"Cukup tentang ini. Mari kita beristirahat dulu, Jaehanie. Jika kau memang  menginginkan jawaban, ayo kita temui leader pack dan para elder di Yeomra esok hari."

Merasa dirinya pun sama lelahnya, Jaehan pun menghela napas sebelum mengiyakan.

Tak ada lagi bantahan, Jaehan menurut, dan kembali berjalan. Keduanya beriringan dengan jemari yang saling bertautan.

Sesekali mereka berbincang, namun hanya seputar hal-hal ringan. Jaehan juga menghindari pembahasan tentang apapun yang berhubungan dengan kedatangannya.

Tak lama, keduanya tiba. Rumah kecil itu tampak berdiri sendirian di tengah kegelapan hutan. Tak ada penerangan, karena memang sudah lama ditinggalkan.

Namun, saat membuka pintu, Yechan dibuat terkejut melihat betapa bersihnya rumah itu.

Tak terkecuali Jaehan yang masih berdiri di belakangnya. Omega itu sedikit melongok untuk melihat mengapa mate-nya tiba-tiba menghentikan langkah.

"Bukankah kau bilang ini terbengkalai?"

Yechan mengangguk, "Mm, kupikir begitu ..."

Karena keluarganya sudah mati -di tangan Kim Yechan dan dirinya sendiri.

Genggaman terlepas, tak peduli jika mata mereka bisa melihat dengan jelas di kegelapan, Yechan tetap mencari lilin untuk penerangan.

Dan benar saja, lilin dan korek api bahkan ada di meja. Seolah rumah ini dibersihkan dan disambangi setiap hari.

Tidak mungkin ...

"Yechanie, bagaimana jika rumah ini ada yang menempati?"

"Tapi, aku tak mencium ada werewolf lain di sini."

Ah, benar juga. Batin Jaehan membenarkan.

"Lalu, kita harus bagaimana? Tiba-tiba aku merasa takut, Yechanie. Bagaimana jika rumah ini berpenghuni?"

Yechan tampak diam, rautnya juga penuh kebingungan. Namun, Yechan tetap menggelengkan kepala.

"Tidak. Ini tidak berpenghuni. Tidurlah. Aku akan berjaga sebentar untuk memastikan."

Jaehan tak ingin menambah beban di hati Yechan, jadi omega itu mengiyakan setelah meminta izin untuk membersikan diri di kamar mandi yang tentu saja sama bersihnya.

Jaehan semakin yakin jika rumah ini tidak mungkin kosong.

Saat berbaring di kasur lantai yang Yechan siapkan di ruang tengah, Jaehan pun mengatakan apa yang tiba-tiba terlintas dalam benaknya.

"Yechanie, aku ingin tinggal di sini."

Kampung halaman mate-nya.

"Kau tahu aku tidak diterima di sini. Selain karena asal usulku, apa yang ada di dalam diriku juga masih sulit diterima oleh pack."

Enigma biasanya sulit menerima dominasi dari werewolf yang berada di bawahnya, tak peduli jika itu adalah Alpha.

Ia bahkan merasa jika leader pack masih tak menyukainya. Bagaimana pun mereka sempat menjadi rival.

Yechan juga dulu pergi karena tak bisa menerima kekalahan -kekalahan yang dipaksakan. Jadi, tidak mungkin sekarang ia akan mengulangi kesalahan. Apalagi  dengan membawa Jaehan.

"Akan tetapi, Antella terlalu bising, terlalu sibuk, terlalu rumit ... aku ingin berada di tempat seperti ini. Tenang dan sepi. Hanya ada kau dan aku. Aku sungguh menginginkan hal itu."

Yechan tertawa, "Kau yakin bisa meninggalkan hidup mewahmu di Antella?"

Jaehan tampak terdiam, lalu tertawa juga pada akhirnya.

"Aku lupa memikirkannya."

"Lagi pula, kita ini makhluk yang harus berkelompok. Entah masuk ke dalam pack, meneruskan pack, atau membangun pack."

Pilihan ketiga entah mengapa membuat Yechan merasa sentakan kuat di dadanya. Ada gejolak dan ambisi yang tiba-tiba tumbuh di dalam dirinya.

"Sudahlah. Kau harus istirahat, Jaehanie."

Jaehan mengangguk, lalu menepuk tempat di sisinya.

"Aku hanya akan tidur jika kau berbaring di dekatku, Yechanie."

Tak bisa menolak, Yechan pun menuruti apa yang omeganya inginkan. Walau Yechan tetap tak memejamkan mata, sampai matahari menyapa mereka berdua.

Namun, saat Jaehan terlelap, tanpa diduga ada yang datang menemui Yechan.





Enigma☑️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang