"Hm, Jaehan Hyung?!"
Jaehan menunjukkan cengiran saat melihat Sebin yang baru saja keluar dari rumah keluarga Shin Yechan.
"Kau sungguhan datang? Kenapa? Apa Yechan memanggilmu?"
Jaehan menggeleng, sementara Yechan hanya menatapnya tanpa mengatakan apa-apa.
Tahu bahwa Yechan mungkin masih marah, Sebin pun mendekat. "Yechan-ah, mian ... aku tak berpikir panjang. Apa kau ... mau memaafkanku?"
Lirih Sebin mengatakannya. Di belakangnya ada Hyuk yang menatap Yechan. Tampaknya juga berharap hal yang sama. Berharap Yechan mau memaafkan mereka.
Akan tetapi, Yechan tak cukup naif untuk melakukan itu. Tak peduli jika Jaehan sudah meminta pengampunan untuk adiknya tadi, ia tetap tak bisa membiarkan ini.
"Kalian tahu betapa berbahayanya bermain-main dengan werewolf-werewolf liar tanpa kawanan itu?"
Sebin semakin menunduk, sementara Hyuk terlihat tak terima karena Yechan yang terus menekan kekasihnya dengan dominasi dan intimidasi.
Yechan tak peduli. Bukan karena ia kesal pada Sebin atas perlakuannya kemarin atau apa, Yechan hanya khawatir jika terjadi sesuatu pada mereka.
Ia cukup lama berada di jalanan, cukup lama berkeliaran tanpa kawanan, dan ia jelas tahu betapa berbahayanya werewolf-werewolf itu. Ia tak mau Sebin berada dalam bahaya. Walaupun ia juga memahami mengapa Sebin melakukan ini.
Ketakutan karena pernah kehilangan, Sebin tak ingin lagi merasakan. Trauma itu membuat Sebin tak ingin terjadi sesuatu pada Jaehan alih-alih dirinya.
Yechan menghela napasnya, "Kalian akan ku urus nanti. Sekarang, aku hanya ingin fokus pada Moon Jehyun terlebih dahulu."
Tahu bahwa dirinya salah, Sebin pun tak lagi berusaha untuk membela dirinya. Ia hanya cemberut sembari mendekat pada Hyuk yang mencoba untuk menenangkannya.
"Hyukie, apa hukumannya akan berat?" tanyanya pelan.
"Aku tidak tahu." ucap Hyuk saat itu. Yang tentu semakin menambah beban pikiran di hati omeganya.
Akan tetapi, tak ada yang bisa ia lakukan juga. Tak peduli jika dominasi mereka setara, Yechan masih tetap di atasnya karena pemuda itu yang memegang tahta tertinggi di Antella sekarang ini.
Ia jelas harus menghormati pemimpin tak peduli jika harus merendahkan diri. Lagi pula, selama ini Yechan cukup memandang dirinya sebagai yang lebih tua, mungkin karena kejadian kemarin, rasa hormat itu perlahan sirna. Hyuk bisa memahaminya. Ini juga kesalahannya.
"Jangan mengganggunya dulu, suasana hatinya memburuk sejak pagi." Jaehan mendekat dan berbisik pada Sebin. Meski percuma juga karena sudah pasti Yechan bisa mendengarnya dengan jelas sekali.
Sebin semakin cemberut, rautnya terlihat cukup menyedihkan. Jaehan pun berusaha mencairkan suasananya.
"Sebinie, apa kau baik-baik saja? Kalian terdengar cukup liar semalam."
Tak hanya Sebin, tapi Hyuk yang mendengar itu pun wajahnya langsung memerah.
"Hyung!"
Jaehan tertawa, "Tak apa, Sebinie ... kata Yechan, itu baik untuk kalian. Agar kau tak berpikiran yang macam-macam dan kembali menyalahkannya."
"Tapi, aku tetap masih takut. Hyung, aku ingin melihatmu dalam waktu yang lama. Aku tak mau meninggalkanmu ataupun ditinggalkan olehmu. Kau ... harus tetap bersamaku."
Tak peduli jika mereka sudah memiliki pasangan masing-masing, bagi Sebin ... Jaehan adalah yang pertama di hatinya. Kakaknya, saudara kembarnya, seseorang yang selalu ada di saat terburuk dalam hidupnya. Seseorang yang selalu melindunginya.
