49. FAKTA PILU

44 4 0
                                        

SIAP BACA CERITA BARU BUT GENGSTER

Sorry banget baru update lagi ehehe insyaallah soon rajin up,
anw buat yang lupa alur, bisa baca dari beberapa part sebelumnya yau

.
.
.

Leon mengendarai motornya menuju markas kebesaran mereka, rasanya markas itu semakin lama semakin hampa karena tak lagi ada ketua yang mengisi, tak lagi ada canda tawa yang keluar dari mulut mereka. Ia berjalan kedalam ruangan itu namun ia hanya menemukan Putra yang tengah tertidur disofa.

Ia menggoyang-goyangkan badan Putra "Put" yang disenggol pun tak memberikan respon apa-apa.

"Put, mumpung ada lo doang, bangun dulu ngapa" Ujarnya semakin memberikan guncangan untuk membangunkan Putra.

"Apasih lu berisik ah"

"Ya makanya denger dulu"

"Denger apaan si?" Putra duduk, menatap Leon bingung.

"Gua bingung harus mulai darimana tapi menurut gua, lu har—"

"—nope kita" Ujar Leon meralat perkataannya,  karena memang betul tidak hanya Putra yang harus tau tetapi Bevan dan Nabil juga harus tau mengenai hal ini.

Biarkan saja, Leon sudah tidak memikirkan lagi apa yang akan dilakukan oleh Zayn kepada dirinya karena sudah membeberkan rahasia yang selama ini ia simpan rapat-rapat. Sangat berat jika harus ia simpan sendiri, rasanya salah.

Betul Leon, Jika kamu saja merasa berat lantas bagaimana dengan Zayn yang menanggung semua ini? rasanya dunia memang benar benar tidak pernah berpihak pada Zayn ya? kata orang-orang kalau tidak beruntung di keluarga maka ia akan beruntung di aspek lainnya, tapi nyatanya apa? kisah cintanya juga tidak beruntung, jika kita liat lagi dari segi apa Zayn sih yang beruntung? kecuali dari segi pertemanannya yang tercipta di Lexis itu.

"So?" Tanya Putra

"Nabil sama Bevan mana? mereka perlu denger juga" Sahut Leon

"Lagi keluar beli makan, paling tar lagi juga balik" Leon mangut-mangut mendengar ucapan Putra

"Tapi ini apadah yon? kok lo serius amat mukanya? tumben"

"Emang serius ini, makanya gua kumpulin lo pada dulu" Balasnya.

"Zayn ya?" tebak Putra, Leon hanya mengangguk.

Tak berselang lama setelah itu, Nabil dan Bevan datang dengan membawa makanan yang mereka beli dari luar "Baru sampe yon?" tanya Bevan, Leon mengangguk sebagai jawaban.

"Nah udah, lu mau ngomongin apa yon?" Sahut Putra, Nabil menyeringit bingung "Apaan nih?" Katanya, sementara Putra mengedikkan bahunya tak tau.

Leon menghela nafasnya pelan "Kali ini gue serius ya" Ucapnya yang di balas anggukan oleh ketiga temannya.

"Sebelumnya gue minta maaf karena udah nyembunyiin ini dari kalian, gue tau gue salah tapi gue juga gabisa bantah apa maunya Zayn, kita sama-sama tau dia orangnya kaya apa" Ketiganya masih setia mendengarkan

"Zayn kena gagal ginjal, that's why dia akhir akhir ini sering keliatan gak oke, gue juga baru tau ini sekitar sebulanan yang lalu"

Melihat Bevan yang hendak angkat bicara, Leon mengangkat tangannya menandakan bahwa Bevan sedang tidak diizinkan berbicara bukan Bevan saja tetapi yang lainnya juga "Dengerin gue dulu, jangan ada yang motong" Tukasnya.

"Gue tau ini juga bukan karena dikasih tau sama Zayn, gue tau sendiri. Waktu itu gue gak sengaja denger Zayn sama Zidny lagi bahas tentang obat di kantong plastik yang ditemuin Zidny di dalam nakasnya Zayn, awalnya gue mau bodo amat aja tapi pas gue udah sampe rumah gue kepikiran mulu sama kantong itu, kalian jangan judge atau ngerasa kenapa gue gak ngasih tau kalian atau kenapa gue ga ajak kalian. Pertama, gue belum tau pasti itu apa dan gue mau mastiin kesana. Kedua, kita sama tau tipikal Zayn kaya gimana dia ga akan mau terbuka masalah gini ginian sama kita."

'BOUT GENGSTER (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang