Devil Sister ft. Whitory
Hanya cerita tentang Leona yang menyukai Arthur, kakanya sendiri.
__
⚠️ 17+
⚠️ Hanya fiksi, jangan terlalu diambil hati
⚠️ Dilarang plagiat
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sorry buat kalian nunggu lama, selamat menunaikan ibadah puasa buat kalian yang menjalankan. Terimakasih ya sudah mau selalu baca cerita ini
Btw, ini LAST CHAPTER 😌
Selamat baca ya:)
°•°
Leona menemui Arthur dikamar lelaki itu. Ternyata Arthur sedang duduk melamun dibalkon kamar. Dengan rokok yang diapit di sela telunjuk juga jari tengahnya. Leona berjalan mendekat, lalu ikut duduk disamping lelaki itu.
"Hai, Arthur." sapa Leona sambil tersenyum.
Arthur menoleh sekilas. Lalu beralih mematikan rokoknya. Ya, karna Arthur tau, asap rokok tidak baik untuk ibu hamil.
"Ngapain?" tanya Arthur.
"Gak, gue mau ketemu aja sama lo. Kenapa lo gak ikut sarapan?"
"Gak papa." jawab Arthur.
Leona membenarkan posisi duduknya. Menatap lurus ke depan dengan tangan yang dilipat didepan dada.
"Eum, Leona, sorry for everything, ya."
Leona menoleh pada Arthur lalu tertawa, "Gue bosen denger kata maaf lo, Arthur. Kalo aja kata maaf itu bisa dirubah jadi uang, gue udah kaya raya kayaknya."
Arthur tersenyum, "Gue akan terus minta maaf sama lo, sampe lo beneran udah maafin gue."
"Gue udah maafin lo, Arthur. Lagian ini semua terjadi bukan hanya karna salah lo, gue juga salah dalam masalah ini. Tapi yang gak gue sangka malah jadi banyak orang yang terlibat sama masalah ini."
"Dan ya, kata maaf dari lo juga gak akan buat semuanya berubah, kan? Maaf dari lo gak akan ngerubah rasa excited gue ke lo balik kaya dulu. Gak akan ngerubah apapun, Arthur. Gak akan buat James balik idup, gak akan ngebuat salah satu dari bayi di perut gue jadi ada dua lagi."
"It's okay, anggap aja ini cara semesta bekerja untuk kita. Karma, right?"
Arthur mengangguk, semuanya mungkin memang karma.
"Gak cuma karma buat lo, tapi juga buat gue. Dan menurut gue ini semua adil. Kita semua sama-sama mengalami kehancuran, cuma caranya beda-beda."
Setelah itu keduanya sama-sama terdiam. Hanyut dalam pikiran masing-masing.