♧♧♧
Author pov
Beberapa minggu telah berlalu sejak Asa menangis ketakutan karena merasa akan kehilangan Canny. Sejak kejadian itu, Asa menjadi sangat bergantung pada suaminya. Ia selalu ingin berada di dekat Canny, bahkan dalam seminggu terakhir, kondisinya semakin parah. Setiap pagi, Asa merengek, menahan Canny agar tidak pergi bekerja, dan memaksanya untuk ikut ke kantornya. Padahal, sebelumnya Asa dikenal sebagai wanita yang mandiri dan jarang menunjukkan sisi emosionalnya. Namun kini, suasana hatinya menjadi sangat labil__ia mudah menangis, cepat tersinggung, menjadi posesif, dan sering kali cemburu tanpa alasan yang jelas. Perubahan sikap Asa ini membuat Canny kebingungan.
Pagi tadi, Asa kembali berusaha menahan Canny agar tak pergi bekerja dan menemaninya di kantor. Beruntung, Canny berhasil membujuknya. Kini, sesuai janjinya, ia sudah tiba di perusahaan sang istri usai menyelesaikan meeting.
Canny membawa beberapa pekerjaan dari kantornya agar tetap bisa diselesaikan di sana. Asistennya mengikuti dari belakang sambil membawa dokumen dan perlengkapan kerja, sementara urusan kantor lainnya ia limpahkan sementara kepada sekretarisnya.
Sesampainya di depan ruangan Asa, Canny mengetuk dan menunggu izin masuk. Saat melangkah ke dalam, ia mendapati Asa masih sibuk bekerja, belum menyadari kehadirannya.
"Letakin barang saya di situ, dan kamu boleh keluar," ujar Canny kepada asistennya, yang langsung mengangguk dan pergi setelah menurunkan barang-barang tersebut.
Asa masih fokus pada pekerjaannya, mengira suara itu berasal dari asistennya. Namun, begitu ia mengenali nada suara Canny, ia langsung menoleh. Tanpa ragu, ia berjalan mendekat sebelum memeluk suaminya erat, seolah mereka sudah terpisah selama berminggu-minggu.
"Kangen..." rengeknya pelan, membuat Canny terkekeh melihat betapa manja istrinya.
"Baru beberapa jam, loh, sayang... Masa sudah kangen?" goda Canny sambil melonggarkan pelukan dan menatap Asa.
"Gak tahu... entah kenapa aku selalu kangen sama kamu, Can. Aku gak mau jauh-jauh dari kamu," ungkap Asa jujur, menatap suaminya dengan mata berbinar.
Canny terkekeh lagi. "Aku aneh, ya?" tanya Asa ragu.
Canny menggeleng cepat. "Enggak kok. Aku malah suka kalau kamu clingy kayak gini. Suka banget malah," balasnya dengan senyum hangat.
Asa pun ikut tersenyum, lalu menarik tangan Canny ke sofa agar mereka bisa duduk bersama. Meski sudah duduk, Asa tetap menempel erat pada suaminya.
"Kamu udah makan?" tanyanya sambil menyandarkan kepalanya di bahu Canny.
"Belum. Aku mau makan bareng kamu aja. Lagipula, aku sudah beli makanannya kok," ujar Canny sambil menunjuk kantong yang tadi dibawa asistennya.
"Kamu mau makan sekarang?"
Asa menggeleng pelan. "Nanti aja. Aku masih mau meluk kamu biar energiku balik lagi," ucapnya manja.
Canny hanya tersenyum dan mengangguk, membiarkan Asa memeluknya lebih lama. Mereka pun terdiam dalam pelukan hangat itu selama beberapa menit, menikmati momen kebersamaan tanpa gangguan.
Sampai akhirnya, Asa mendongak menatap Canny dari bawah. "Can," panggilnya pelan, membuat Canny menoleh dengan pandangan lembut.
"Kenapa?" tanya Canny, suaranya juga lembut.
"Nanti malam tahun baru, kan?" Asa bertanya, yang langsung dibalas anggukan kecil dari Canny tanpa mengalihkan pandangan darinya.
Sebelum Asa sempat bicara lagi, Canny sudah lebih dulu menjelaskan, "Aku udah bilang ke papa, mama, sama kakak-kakak kita. Nanti malam kita semua bakal kumpul di mansion buat ngerayain tahun baru. Barang-barangnya juga udah aku minta maid beliin, kok."
KAMU SEDANG MEMBACA
I'm Not Him [END]
RomanceBagaimana kehidupan Tyaga Canny Arkatama setelah ia diminta oleh kakaknya, Canna Arkatama, untuk menikahi tunangan Canna sendiri, Enemy Asa Astara, sebagai permintaan terakhir sebelum kepergian sang kakak? Mampukah Tyaga dan Enemy saling menerima, l...
![I'm Not Him [END]](https://img.wattpad.com/cover/377857675-64-k228086.jpg)