37.

470 58 17
                                        

♧♧♧


Author pov

Keesokan Harinya

Sepanjang hari ini, baik Canny maupun Asa hanya menghabiskan waktu berdua dengan baik sebelum besok pagi Canny harus pergi.

Kini mereka sudah berada di kamar setelah sebelumnya selesai makan malam.

Canny lebih dulu selesai mandi. Kini pria itu tengah duduk di ranjang, menunggu istrinya yang masih berada di kamar mandi. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam__waktu yang biasanya mereka habiskan dengan obrolan ringan sebelum tidur. Kebiasaan kecil yang selalu mereka nikmati bersama.

Beberapa menit berlalu, hingga akhirnya Asa keluar dari kamar mandi. Ia sudah mengenakan pakaian tidurnya sejak di dalam. Begitu matanya menyapu ke arah ranjang, ia mendapati suaminya telah tertidur pulas, dengan ponsel yang masih tergeletak di atas dadanya.

"Kamu kecapekan banget, ya..." gumam Asa pelan sambil tersenyum tipis. Ia duduk di sisi ranjang, lalu membelai rambut Canny dengan lembut. Setelah itu, ia mengambil ponsel dari dada suaminya dan meletakkannya di atas nakas.

Setelah itu, Asa berjalan ke arah meja, mengambil sticky note berwarna putih, lalu menulis sesuatu di atasnya. Ia menghias sedikit pinggiran sticky note itu sebelum akhirnya memasukkannya ke dalam sebuah kotak kecil berisi beberapa barang.

Asa tersenyum kecil sambil menatap kotak itu. Ia menarik napas dalam-dalam. "Semoga kamu seneng, ya," lirihnya pelan.

Setelah itu, ia melangkah pelan menuju koper Canny yang terbuka di sudut ruangan. Dengan hati-hati, Asa menyelipkan kotak kecil itu di antara tumpukan pakaian suaminya, memastikan letaknya tersembunyi namun tetap mudah ditemukan.

Setelah selesai, Asa berbalik dan berjalan ke arah kasur. Ia perlahan merebahkan tubuhnya di samping Canny, lalu memandangi wajah suaminya yang terlihat begitu damai dalam tidur.

Asa mengamati wajah itu dalam diam, membiarkan jemarinya menyusuri garis rahang Canny dengan lembut.

"Aku pasti bakalan kangen banget sama kamu... cepat pulang, ya," bisik Asa pelan, hampir tak terdengar.

Tanpa sadar, setetes air mata jatuh dari sudut matanya. Asa buru-buru mengusapnya, lalu bergeser sedikit dan memeluk Canny erat-erat, seolah enggan melepaskannya.

♧♧♧

Pagi ini, Asa terbangun lebih dulu. Matanya sembab, sisa tangis semalam masih terasa. Ia menoleh ke samping, menemukan Canny yang masih tertidur lelap di sebelahnya.

Asa tersenyum kecil, meski hatinya berat. Perlahan, ia membelai rambut Canny sebelum bangkit dari tempat tidur untuk bersiap. Hari ini, Canny harus berangkat.

Beberapa saat kemudian, Canny terbangun. Ia mengerjap pelan, sedikit bingung, sebelum akhirnya sadar__ini adalah pagi terakhirnya bersama Asa sebelum keberangkatan.

"Morning, sayang," ucap Canny dengan suara serak, matanya setengah terbuka menatap Asa yang duduk di samping ranjang, memandangi wajahnya tanpa henti.

"Too, baby," balas Asa sambil tersenyum kecil, lalu mengecup singkat bibir suaminya. Setelah itu, pandangannya kembali terpaku pada wajah Canny, penuh sayang.

Canny membalas tatapan itu dengan senyum lembut, lalu mengangkat tangannya, membelai pipi Asa dengan pelan.

"Kamu pasti nangis lagi semalam, ya?" tanyanya pelan, kini sudah duduk berhadapan langsung dengan sang istri.

Asa tidak langsung menjawab, hanya menunduk sebentar sebelum akhirnya menatap Canny lagi dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Asa... aku janji akan cepat pulang. Aku nggak akan lama-lama di sana. Jadi, jangan nangis terus, ya. Aku nggak suka lihat kamu kayak gini. Hati aku jadi berat ninggalin kamu di sini," lirih Canny sambil menangkup pipi Asa dengan kedua tangannya.

I'm Not Him [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang