♧♧♧
Author pov
Setelah mengirim beberapa pesan ke Canny lewat handphone, Asa pun duduk bersandar di sandaran ranjang sambil tersenyum kecil menatap layar ponselnya. Wajahnya tampak bahagia, meski ada sedikit keraguan yang terselip. Ia bertanya-tanya dalam hati__apakah Canny akan senang membaca pesan-pesannya? Apakah ia akan bahagia saat akhirnya menemukan sticky note didalam kotak itu yang Asa selipkan di koper, lengkap dengan testpack dan kabar tentang kehamilannya?
Sudah hampir seminggu Canny berada di Jepang untuk urusan kerja. Meski sibuk, pria itu tetap berusaha mengabari Asa setiap pagi sebelum berangkat kantor, dan setiap malam mereka masih menyempatkan diri untuk video call sebelum tidur. Tapi Asa tahu, jadwal Canny sangat padat. Ia bahkan belum sempat membuka isi koper dengan benar, apalagi membaca sticky note itu. Bahkan wajah Canny pun mulai tampak kelelahan belakangan ini.
Tiba-tiba, Asa dikejutkan oleh suara Ayana, calon adik iparnya, yang entah sejak kapan sudah duduk di sampingnya. Tatapan Ayana langsung tertuju ke layar ponsel Asa yang masih menyala. Panik, Asa buru-buru mematikannya__malu kalau-kalau Ayana sempat membaca. Tapi sudah terlambat. Gadis itu sudah lebih dulu membacanya dan kini tersenyum geli, bahkan gemas.
"Ay... nggak sopan ngintip-ngintip pesan orang," tegur Asa, menatap Ayana tajam, pipinya memerah karena malu.
"Aya nggak ngintip, Kak... Aya cuma lirik-lirik aja kok," jawab Ayana polos, membuat Asa menghela napas panjang dan menepuk kepalanya sendiri.
Asa mencubit pipi Ayana pelan, gemas. "Sama aja, Aya."
Alih-alih membalas, Ayana malah mengganti topik. "Lucu banget sih kakak... ucapin selamat pagi kayak gitu ke suaminya. Gemesss! Kan aku kepengen cepet-cepet dinikahin Rora juga jadinya," ucapnya sambil tertawa geli.
Asa ikut terkekeh dan membalas dengan senyum lembut. "Kalau gitu, minta gih cepet-cepet ke Rora. Biar kamu tahu seenak apa rasanya punya suami."
Ayana tersenyum nakal. "Pasti rasanya enak, lah. Tapi... enak yang biasa aja atau enak yang luar biasa, nih kak?" godanya, mengedipkan sebelah mata.
Asa langsung memelototinya. "Ayana..." tegurnya dengan nada mengancam, walau wajahnya sudah merah padam.
Ayana hanya nyengir, lalu mengacungkan dua jari membentuk tanda peace.
Hening sebentar. Mereka terdiam dalam suasana yang tenang. Asa termenung, pikirannya melayang entah ke mana. Tiba-tiba, Ayana mengelus pelan perut Asa sambil tersenyum lembut. Asa terdiam dengan tatapan yang terlihat sendu.
"Yakin deh sama Aya, Kak. Canny pasti seneng banget denger kabar kehamilan Kakak. Bahkan habis baca teks terakhir Kakak, tuh bocah pasti langsung panik dan nyari sticky note itu di kopernya. Percaya deh, Kak."
Asa hanya tertawa kecil. Ia menunduk, memeluk bantal di pelukannya erat-erat.
"Gimana kalau besok kita shopping, nyalon, spa, atau ngapain kek seharian? Biar pas Canny pulang, Kakak makin cantik pas ketemu dia. Gimana? Kakak mau, nggak?" tanya Ayana semangat.
Asa mengangguk penuh antusias. "Boleh... nanti Kakak ajak Kak Rita juga yaaa. Biar makin rame."
Ayana mengangguk senang dan mulai membaringkan tubuhnya. Asa pun ikut merebahkan diri di sebelah Ayana yang sudah memejamkan mata.
KAMU SEDANG MEMBACA
I'm Not Him [END]
RomanceBagaimana kehidupan Tyaga Canny Arkatama setelah ia diminta oleh kakaknya, Canna Arkatama, untuk menikahi tunangan Canna sendiri, Enemy Asa Astara, sebagai permintaan terakhir sebelum kepergian sang kakak? Mampukah Tyaga dan Enemy saling menerima, l...
![I'm Not Him [END]](https://img.wattpad.com/cover/377857675-64-k228086.jpg)