38

322 61 11
                                        

♧♧♧

Author pov

Setelah tadi Asa menyantap masakan yang telah disiapkan Ayana, ia memilih berdiam diri di kamar. Sepanjang waktu itu, pikirannya tak lepas dari sosok Canny. Lamunan panjang membuatnya tak sadar bahwa ia telah tertidur cukup lama. Ia baru terbangun saat jam menunjukkan pukul enam sore, dan tak lama kemudian, Rora mengajaknya makan malam.

▪︎▪︎▪︎

19.30

Kini Asa baru saja selesai mandi. Ia masih mengenakan bathrobe dan tengah mencari baju di kopernya, yang sudah berisi pakaian serta perlengkapan kecantikannya. Wajahnya tampak segar, tapi matanya masih jelas menunjukkan bekas tangis__bengkak dan sembap.

Tiba-tiba kegiatannya terhenti saat mendengar dering ponsel. Asa refleks berlari kecil ke arah nakas, lalu meraih ponselnya dengan semangat membuncah. Tanpa mengganti baju terlebih dahulu.

Ia segera duduk di tepi kasur dan menjawab panggilan itu, menempelkan ponsel ke telinga.

"Hai, cantik!" terdengar suara yang selama ini memenuhi pikiran-nya__seseorang yang sangat ia rindukan.

"Cannyyy!!" pekik Asa semangat, namun matanya mulai berkaca-kaca.

Canny di seberang telepon tertawa pelan. "Asaaa," ucapnya menirukan Asa, membuat mereka tertawa bersama.

"Aku ubah ke video call, ya. Aku kangen lihat wajah kamu," kata Canny, langsung mengganti sambungan ke video call.

"Sayanggg," panggil Canny begitu Asa mengangkat video call-nya. Asa terkejut sejenak, lalu mengarahkan kamera ke wajahnya.

Canny langsung tersenyum manis melihat wajah Asa. Begitu pun Asa, meski air matanya mulai menggenang lagi.

"Kamu habis mandi, ya?" tanya Canny lembut.

Asa hanya mengangguk pelan.

"Yaudah, sana pakai baju dulu. Nanti masuk angin," ujar Canny, menatap Asa dengan dalam. Asa malah cemberut sebaliknya.

"Cannn... cepet pulang... aku kangen kamu," rengek Asa. Air matanya mulai menetes, membuat Canny hanya bisa tersenyum kecil sambil mengusap dadanya sendiri.

"Aku juga kangen kamu, sa. Tapi kan aku kerja. Baru juga besok mulai kerjanya, masa udah mau pulang? Nggak bisa dong," jawab Canny lembut, mencoba membujuk Asa yang mulai rapuh.

Asa menyeka air matanya sebelum kembali bicara. "Tapi aku udah kangen banget sama kamu, Can... kangen pelukan kamu, kangen wajah kamu, kangen bau badan kamu, kangen suara kamu... semua yang ada di kamu aku kangenin..."

Canny terkekeh pelan. Ia merasa bahagia mendengar Asa berkata seperti itu, sekaligus sedih karena tak bisa langsung memeluk istrinya. Sebenarnya, ia juga merasakan hal yang sama.

"Sama dong... aku juga. Jangan-jangan kita... jodoh lagi?" ucapnya dramatis, "Wow wow wow, jodoh!" Ia menutup mulut pura-pura terkejut, berusaha membuat Asa tertawa.

Asa pun menangis sambil tertawa. Tingkah Canny yang seperti itu sangat langka. Seorang Canny yang dingin, cuek, dan irit bicara__hanya bisa berlaku seperti ini pada dua orang: bundanya dan istrinya.

"Cannn seriussss" rengek Asa, tertawa kecil sambil menyeka air mata. Canny hanya terkekeh melihat ekspresi manja istrinya.

"Iya sayang, aku ngerti. Sabar yaa... Tujuh hari lagi aku pulang, kok. Nggak lama lah itu. Aku yakin kita bisa kuat. Kan kita... manusia-manusia kuat itu kita~" ucap Canny sambil menyanyikan lirik di akhir kalimatnya, membuat Asa kembali tertawa sambil menghapus air matanya.

I'm Not Him [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang