☆
◇
☆
£♡♧
♡
♧
♡
♧♧♧
Author pov
Tiga tahun kemudian
Langit sore ini memancarkan semburat jingga keemasan yang hangat, menyapu pelan pepohonan dan halaman belakang mansion Asa dan Canny. Senja belum turun sepenuhnya__cahayanya masih lembut, seperti pelukan yang tak ingin cepat berlalu. Di taman, tawa keluarga menggema. Beberapa tikar digelar, keranjang makanan terbuka, dan anak-anak berlarian di antara semak bunga yang sedang mekar. Mereka sedang piknik, menikmati waktu langka yang akhirnya mempertemukan semua ditengah kesibukan mereka selama ini.
Sedikit menjauh dari keramaian itu, seorang wanita berjalan pelan ke arah ayunan kain yang tergantung di bawah pohon besar. Langkahnya tenang, tapi matanya menyimpan sesuatu yang dalam__kenangan yang tak lekang waktu. Angin sore membelai lembut rambutnya yang tergerai.
Dia adalah Asa.
Ia mendudukkan diri di ayunan itu, membawa serta sebuah buku dan pena. Ia membuka halaman kosong dan menatap sejenak ke arah taman. Tempat itu masih sama__masih seperti saat terakhir kali ia dan Canny menghabiskan malam tahun baru bersama. Saat semuanya terasa lengkap.
Asa mulai menulis.
"Terkadang... aku berharap kamu gak pernah pergi ke Jepang buat kerja, Can," bisiknya nyaris tak terdengar, tapi cukup untuk memenuhi ruang kecil di hatinya yang kosong.
"Andai waktu itu aku bisa maksa kamu buat tetap tinggal... mungkin kamu masih di sini sekarang."
Ia menarik napas panjang, menunduk, menggenggam sisi ayunan yang mulai dingin. Tapi cahaya senja masih memeluk wajahnya dengan hangat.
"Aku nyesel, Can... nyesel pernah biarin kamu pergi ke sana__ke negara yang dulu aku suka banget. Ironis ya? Tempat yang dulu aku impikan, justru jadi tempat terakhir kamu menginjak bumi ini."
Setetes air mata jatuh ke halaman buku.
"Kalau saja aku bisa melarang kamu waktu itu... kamu gak akan ninggalin aku dan anak kita secepat ini, kan?"
Keheningan menyelubungi sejenak. Tapi angin yang berhembus pelan seolah menjadi jawaban yang tak bisa diucapkan dengan kata.
"Tapi seperti yang selalu kamu bilang... hidup dan mati bukan kita yang tentuin. Semua udah digariskan. Tuhan yang atur. Mungkin kamu memang harus pergi lebih dulu... Tapi Can, gak ada satu haripun aku gak mikirin kamu."
Langit di atasnya masih berwarna hangat, awan-awan oranye bergerak perlahan seperti waktu yang tak ingin terburu-buru.
"Rasanya aneh banget, tahu gak? Jalanin hari-hari tanpa kamu di samping aku. Setiap sudut kota, setiap lagu, setiap aroma yang lewat... semuanya ngingetin aku ke kamu. Kadang aku bisa ketawa, inget hal-hal lucu yang kita lakuin bareng. Tapi lebih sering... aku cuma diam. Karena hati aku masih berat."
KAMU SEDANG MEMBACA
I'm Not Him [END]
RomanceBagaimana kehidupan Tyaga Canny Arkatama setelah ia diminta oleh kakaknya, Canna Arkatama, untuk menikahi tunangan Canna sendiri, Enemy Asa Astara, sebagai permintaan terakhir sebelum kepergian sang kakak? Mampukah Tyaga dan Enemy saling menerima, l...
![I'm Not Him [END]](https://img.wattpad.com/cover/377857675-64-k228086.jpg)