Author pov
Perusahaan itu berdiri megah di jantung kota, menjulang tinggi dengan dinding kaca yang memantulkan cahaya senja. Dari lantai 25, pemandangan menakjubkan terhampar luas__lalu lintas yang tertib, pepohonan yang melambai pelan ditiup angin, dan gedung-gedung lain yang tampak kecil dari ketinggian. Suasana sore itu terasa damai dan teratur seperti biasa.
Di ruang rapat utama, deretan kursi terisi oleh orang-orang bersetelan jas, masing-masing fokus pada presentasi yang sedang berlangsung. Lampu-lampu hangat menerangi ruangan, dan suara klak-klik remote presentasi jadi satu-satunya yang terdengar selain detik jam dinding.
Di antara mereka, Canny duduk sambil menahan senyum kecil. Tangannya tersembunyi di bawah meja, menggenggam kotak kecil yang ia bawa sejak pagi tadi. Di dalamnya, terselip tiga benda: sebuah testpack dengan dua garis merah tegas, sebuah boneka kecil, dan secarik sticky note berwarna putih. Tulisan tangan Asa masih segar di benaknya.
Tapi kebahagiaan itu tak bertahan lama.
Seketika, lantai bergetar hebat. Lampu gantung bergoyang liar. Suara gemuruh datang dari segala arah, membuat semua orang di ruangan itu langsung panik. Beberapa berteriak, sebagian merunduk, yang lain berlari ke arah pintu darurat.
"Gempa!"
Canny refleks berdiri, kursinya terguling ke belakang. Matanya melebar, napas tercekat. Ia menoleh ke jendela__langit berubah kelabu. Dari lantai setinggi itu, ia bisa melihat bangunan lain bergoyang seperti terbuat dari kertas.
"Kita harus turun sekarang!" teriaknya pada timnya, tapi lorong sudah mulai retak, dan alarm darurat meraung tanpa henti.
Gedung berguncang semakin keras. Sebuah rak besi roboh tak jauh dari tempatnya berdiri, memecah kaca, membuat serpihan beterbangan ke mana-mana. Canny berusaha menahan seimbang, tapi guncangan itu terlalu kuat. Ia terjatuh, tubuhnya terbentur sisi meja. Pelipisnya terluka, darah mengalir pelan.
Dalam kantong jasnya, kotak kecil itu ikut terguncang__tapi tak hancur.
"Asa..." gumamnya lirih. Dalam kepanikan dan ketakutan itu, pikirannya hanya tertuju pada satu hal: pulang.
Namun bencana belum berakhir.
Suara gemuruh baru terdengar dari kejauhan__berbeda. Berat. Dalam. Seperti amukan samudra yang menggulung daratan. Ia menoleh ke jendela yang retak, dan dunia serasa berhenti.
Gelombang besar. Tsunami.
Air hitam setinggi bangunan itu sendiri datang melaju dari arah laut. Tidak ada waktu untuk melarikan diri. Tidak ada tempat untuk sembunyi. Hanya sempat menarik napas dalam-dalam dan menatap lurus ke depan.
Detik berikutnya, air menghantam gedung itu dengan kekuatan luar biasa. Dinding kaca hancur seketika, dan air menerobos masuk seperti monster tak terbendung. Seluruh lantai rapat tertelan gelombang__penuh puing, pecahan, tubuh, dan suara-suara yang tercekik oleh air.
Canny terbawa deras. Tubuhnya terbentur meja, pilar, dan serpihan besi. Tapi di tengah segala kehancuran itu, tangannya masih menggenggam kotak kecil itu erat di dada. Seolah benda itu adalah satu-satunya yang membuatnya tetap hidup.
Di dalam pusaran arus yang tak berujung, tubuhnya mulai melemah. Nafas tak lagi sempat dicari. Tapi bahkan saat air memeluknya semakin dalam, bibirnya masih bergetar, menyebut satu nama yang tak pernah pergi dari pikirannya.
"Asa..."
Dalam sisa kesadarannya yang nyaris padam, bayangan senyum Asa muncul__hangat, lembut, penuh cahaya. Suara Asa seolah menggema di benaknya, memanggil namanya dengan lembut, merayu agar ia segera pulang, bersama Asa dan anak mereka yang baru saja ia ketahui tadi pagi. Dengan tenaga yang hampir habis, Canny menarik kotak kecil itu lebih dekat ke dada, seolah melindungi satu-satunya harapan yang ia miliki.
KAMU SEDANG MEMBACA
I'm Not Him [END]
Roman d'amourBagaimana kehidupan Tyaga Canny Arkatama setelah ia diminta oleh kakaknya, Canna Arkatama, untuk menikahi tunangan Canna sendiri, Enemy Asa Astara, sebagai permintaan terakhir sebelum kepergian sang kakak? Mampukah Tyaga dan Enemy saling menerima, l...
![I'm Not Him [END]](https://img.wattpad.com/cover/377857675-64-k228086.jpg)