♧♧♧
Author pov
Canny dan Asa menghabiskan waktu di kafe bersama Anna dan Ella__sambil menunggu Ayana dan Rorafa menyelesaikan masalah mereka. Asa asyik berbincang dengan Anna dan Ella, sementara Canny lebih banyak diam, hanya menyimak percakapan sambil menikmati camilan dan minuman yang sebelumnya dipesan Asa untuknya__mungkin agar pria itu tidak terlihat seperti anak hilang karena terlalu diam.
Selama menunggu, Canny dengan clingy-nya sering memainkan tangan Asa dan mengelus rambut gadis itu setiap kali Asa tertawa. Anna dan Ella yang melihatnya bisa merasakan betapa besar cinta Canny untuk Asa. Sementara itu, Asa tetap bersemangat mengobrol tanpa menyadari perhatian berlebihan dari pria di sampingnya. Setiap kali Asa tersenyum, Canny ikut tersenyum, menikmati setiap perubahan ekspresi wanita itu, sesekali menyantap camilannya sambil tetap mencuri-curi pandang ke arah Asa.
Sampai akhirnya, Ayana dan Rorafa kembali, menarik perhatian mereka semua, termasuk Canny. Pandangan mereka tertuju pada Ayana dan Rorafa yang matanya masih sedikit bengkak__mungkin akibat tangisan sebelumnya__tetapi senyum bahagia jelas terpancar dari wajah keduanya. Kini, mereka sudah duduk di samping Canny dan Asa, tangan mereka saling menggenggam erat.
"Gimana? Udah baikan?" tanya Asa sambil menatap Ayana yang duduk di sebelahnya.
Rorafa duduk di sisi Ayana, sementara Canny berada di tepi Asa. Dengan posisi seperti itu, Asa dan Ayana berada di tengah-tengah kedua laki-laki itu.
Ayana yang ditanya langsung menunjukkan genggaman tangannya dengan Rorafa, lalu tersenyum. "Udah, Kak. Malahan tadi Rora ngelamar aku," ucapnya.
Mendengar itu, semua yang ada di sana langsung terkejut, lalu ikut merasa senang.
"Wah... ada yang mau nikah nih?" goda Ella sambil menaikkan alis ke arah Ayana.
"Kapan, Ay?" tanya Anna juga, ikut tersenyum.
Ayana hanya bisa tersipu malu. Ia menatap Ella dan Anna dengan kesal bercampur blushing karena digoda seperti itu. "Kok tanya gue? Tanya Rora-nya lah," ucapnya, melirik ke arah tunangannya.
Rorafa hanya terkekeh melihat reaksi Ayana yang mulai merona. Namun tiba-tiba, suara Asa membuat keduanya menoleh.
"Kakak ikut senang melihat kalian. Semoga langgeng, ya. Jangan pisah-pisah lagi. Kakak gak suka," ucap Asa dengan tulus.
Ayana dan Rorafa tersenyum mendengar itu. Namun, bukannya menjawab dengan serius, Ayana malah menggoda Asa. "Iya, Mama asa," ujarnya jahil.
Asa yang mendengar itu langsung ingin protes, tetapi Rorafa lebih dulu ikut menggoda. "Papa... gak mau nambahin juga apa yang Mama omongin? Nasihatin kek anaknya atau ucapin selamat juga gitu kayak Mama," katanya sambil menaikkan alis ke arah Canny, yang sedari tadi hanya diam menatap asa.
Anna dan Ella terkekeh melihat interaksi mereka.
Mendengar godaan itu, Canny langsung menatap Rorafa dengan datar. "Wih... santai dong, Pa. Jangan marah gitu," Rorafa masih saja menggoda, seolah tidak takut dengan tatapan datar Canny.
Asa berniat menimpali, tetapi Canny justru lebih dulu berbicara. "Gue ikut senang, Ra, Na," ucapnya singkat, lalu tersenyum tipis ke arah mereka berdua.
Asa justru tertawa kecil saat mendengar kata-kata singkat itu. Padahal, kalau bersamanya, Canny biasanya tidak pernah berbicara sesingkat dan sekaku itu. Dulu, mungkin Asa tak akan tertawa seperti ini, karena memang begitulah sikap Canny dulu__cuek, kaku, dan dingin terhadapnya. Tapi sekarang semuanya terasa berbeda, dan justru karena perbedaan itulah Asa jadi terkekeh sendiri melihatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
I'm Not Him [END]
RomanceBagaimana kehidupan Tyaga Canny Arkatama setelah ia diminta oleh kakaknya, Canna Arkatama, untuk menikahi tunangan Canna sendiri, Enemy Asa Astara, sebagai permintaan terakhir sebelum kepergian sang kakak? Mampukah Tyaga dan Enemy saling menerima, l...
![I'm Not Him [END]](https://img.wattpad.com/cover/377857675-64-k228086.jpg)