Sisa Waktu Yang Terlupa

2 0 0
                                        

Di antara retakan waktu yang tak pernah kita rasakan,
ada kata yang terdiam di bibir langit,
yang tak pernah terucap,
hanya mencipta bayang-bayang,
seperti jejak yang tak ingin dikenal.

Sudahkah aku cukup, hidup sebagai manusia?
Aku bertanya, bukan karena ingin tahu,
tapi karena ada ruang kosong yang terus berteriak,
terus mencari jawaban di dalam diam.
Sebuah tanya yang tak pernah selesai,
seperti senja yang enggan menghilang
dan pagi yang tak tahu bagaimana cara kembali.

Aku berdiri di tempat yang tak pernah aku kenali,
dan di sini, antara ruang yang aku buat,
aku menunggu jawab yang tak pernah datang.
Aku melihat sebuah kursi yang kosong,
terlupakan di sudut yang tidak pernah disinggahi
oleh kaki siapapun,
seperti aku yang menunggu,
terlupakan, namun selalu ada.

Waktu mengajarkan kita tentang ketidaktahuan,
tentang segala hal yang tidak kita pahami,
seperti kenangan yang tumbuh di dalam dada,
tapi tak pernah terlihat oleh mata.
Apa yang kita sebut sebagai waktu,
hanya ilusi yang dipertontonkan,
sementara kita hanya duduk,
menunggu sesuatu yang tak pernah bisa kita raih.

Ada tawa di udara yang terlalu jauh,
ada suara yang menyentuh tanpa bisa didengar,
dan aku tahu,
semuanya adalah permainan yang terlalu absurd
untuk dimengerti.
Tapi, entah kenapa, aku tetap bersyukur.
Bersyukur untuk jejak kaki yang hilang,
untuk kalimat yang tak pernah terucap,
untuk segala rasa yang tak bisa disampaikan
dengan kata-kata.

Aku bersyukur untuk secangkir kopi yang terlalu pahit,
untuk malam yang tak pernah selesai,
untuk semua hal yang tak pernah terungkap,
dan terutama untukmu,
yang ada tanpa harus ada,
yang mengisi ruang ini dengan keheningan
yang lebih berarti daripada seribu kata.

Kau tahu, dalam setiap detik yang kita lewati,
ada rasa yang tak pernah usai.
Dan aku menyadari,
bahwa hidup ini bukan soal "cukup" atau "tidak",
tapi tentang menerima,
tentang berjalan meski tak tahu arah,
tentang mencintai meski tak ada alasan.

Di antara segala absurditas yang ada,
ada satu hal yang tak pernah berubah
"aku mencintaimu"
bukan karena kau sempurna,
bukan karena kau harus ada,
tapi karena kau adalah bagian dari waktu
yang kujalani dengan penuh syukur,
meski tak pernah aku tahu
bagaimana cara mengungkapkan semua itu.

 this will never endTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang