Perjalanan Yang Tak Pernah Kutanyakan

3 0 0
                                        

aku pernah mendengar,
bahwa orang-orang pergi untuk pulang pada dirinya sendiri,
dan hari ini kau pergi,
membawa punggungmu ke tempat yang tak pernah kusinggahi,
ke tanah lapang yang menelanjangi siang,
membiarkan malam menelusup ke tulangmu
dalam sunyi yang kau sebut tugas dan bakti.

aku tidak tau,
apakah tanah di sana akan mengerti tapak kakimu,
atau justru kau akan melupakan caramu pulang
ketika matahari tak lagi mencatat langkahmu
dan hanya bulan yang menatapmu dari jauh,
menjadi saksi bahwa tak ada doa yang benar-benar selesai.

di sini,
meja kopi kita tetap diam,
kursi itu menatapku sepi,
sendok bergeming di pinggir gelas,
menunggu sesuatu yang tak pernah kita bahas,
bagaimana jika pulang tak lagi punya rumah?
bagaimana jika rindu tak pernah sampai,
karena tak ada alamat selain dadaku sendiri?

aku menulis ini di antara pukul satu dan dua pagi,
ketika seluruh kota menutup matanya,
kecuali lampu-lampu jalan yang menunggu langkahmu pulang.
aku ingin menjadi lampu itu,
meski redup dan nyaris padam,
setidaknya aku tau
aku menunggumu dengan cahaya,
bukan prasangka.

dan jika kau pulang nanti,
tak perlu kau ceritakan apa-apa,
aku hanya ingin menatapmu diam,
karena pada akhirnya,
orang-orang yang benar-benar mencintai
tak pernah menuntut pulang
hanya menyiapkan tempat duduk
yang tak pernah mereka tanyakan
apakah masih akan terisi,
atau akan tetap kosong
dalam sunyi yang menua bersama waktu.

 this will never endTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang