DESA [4]

105 13 1
                                        

Malam semakin larut tapi Lisa tidak bisa memejamkan matanya sama sekali, bisikan yang terdengar tadi amat jelas ditelinga nya.

Matanya menatap sekeliling tapi tidak menemukan apapun selain saudaranya yang sudah terlelap, mengarungi dunia mimpi.

Lisa mencoba mengabaikan perasaan takutnya dengan kembali memejamkan mata nya, namun suara gesekan dan seretan tadi semakin terdengar nyaring dikepalanya.

Srettttt

Sretttt

Bunyi langkah kaki dilorong hotel pun terdengar nyaring karena sepinya malam.

Duk

Duk

Duk

Lisa senantiasa mendengarkan suara suara itu, jantung nya mulai berdegup kencang apabila langkah kaki itu tak lagi terdengar.

Dengan tangan gemetar Lisa mencoba membangunkan Rosè yang memang tertidur di sebelahnya.

"Rosè Rosè, bangun" ujar nya pelan seraya menepuk nepuk tangan si empu.

Namun gadis bersurai blonde itu tak menyahut, hanya menggeliat kecil. Lisa berdecak kesal Rosè memang susah dibangunkan jika sudah terlelap.

Tak menyerah, Lisa memajukan badan nya untuk menepuk tangan Jennie yang tidur di sebelah Rosè. "Kak Jen, bangun," ucapnya

Tak mendapat respon pada panggilan pertama, Lisa tetap mencoba membangunkan Jennie lagi. "Bangun Kak Jen,"

"Kenapa Lis?" Tanya Jennie dengan suara parau serta mata yang masih tertutup.

"Lo denger suara gak tadi?" Tanya Lisa

Jennie menguap lalu berusaha membuka matanya, "Hah? Suara apaan? Gue gak denger apa apa tuh," sahutnya pelan

"Udahlah Lis, lu tidur aja. Halu kali lu gegara kecapekan," lanjutnya seraya kembali memejamkan matanya.

Lisa menurut, ia membaringkan kembali badannya dan mulai terpejam.

•••

Pagi hari tiba, kesembilan gadis itu sudah siap untuk mengeksplor Desa Halott ini.

Jika dilihat saat pagi hari, suasana sekitar penginapan ini tidak menyeramkan justru sangat asri dengan besarnya pohon pohon pinus disekitarnya.

"Yaudah yuk, kita mau kemana dulu? Katanya di dekat sini ada danau nya loh." Tanya Irene yang baru selesai berbincang dengan staff penginapan.

"Wii boleh tuh, kita kesana dulu aja kalo gitu." Ajak Wendy menyetujui.

Mereka pun mulai berjalan keluar area penginapan dan mulai menyusuri jalanan kecil yang beralaskan semen itu.

Sajauh mata memandang, tempat ini memang banyak di kelilingi pepohonan menambah kesan sejuk karena matahari tidak dapat menembus langsung ke kulit.

Selama perjalanan itu juga mereka banyak menjumpai stand makanan yang menjual berbagai minuman dan makanan ringan.

Jennie dan Joy sedari tadi tak berhenti untuk memotret setiap objek yang memanjakan mata.

"Wah gila, bagus banget jalan nya," ujarnya kagum, matanya menatap ke sekeliling dengan binar di matanya.

Joy mengangguk setuju, "Bener banget, cocok nih buat feed instagram gue."

"Ternyata disini gak ada sinyal ya," celetuk Jisoo yang juga tengah memainkan ponselnya.

Mendengar itu mereka pun melihat ponselnya masing masing, dan benar saja disini memang tidak ada sinyal," Lah iya kaga ada, untung di hotel masih ada sinyal." Sahut Seulgi

DESA | Blackvelvet [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang