Masih dihari yang sama, tepat nya siang hari sekitar pukul dua siang. Mereka bersembilan tidak jadi kembali ke penginapan dan malah berujung di tempat objek wisata berfoto.
Disana ada sebuah ayunan yang terbuat dari kayu yang berhadapan langsung dengan tepi tebing.
Tak jauh dari sana juga terdapat saung tempat para wisatawan beristirahat, lalu di depan saung juga terdapat tempat duduk berbentuk segitiga yang terbuat dari anyaman rotan.
Lalu dari tepi tebing pun ada pembatas yang menghalangi, dan sebuah benda berbentuk tangan yang sangat besar sebagai tempat berfoto.
"Gila gila, bagus banget anjir pemandangan nya," kagum Joy saat pertama kali tiba.
Matanya langsung disuguhkan pemandangan langit serta bukit yang indah.
"Mau naik ayunan neng?" Tanya salah satu penjaga disana pada mereka.
"Boleh, bayar berapa mang?" Sahut Wendy seraya mendekat kearah sebuah ayunan.
Kali ini ia sangat tertarik untuk bermain ayunan disini, "Gratis kok neng, kecuali eneng mau naik yang itu baru bayar," balas penjaga itu sambil menunjuk sebuah wahana uji nyali yang terjun dari atas tebing.
"Saya naik ini aja mang," ujar Wendy seraya duduk di atas ayunan, dengan sigap penjaga itu mulai memasangkan alat keselamatan agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan.
"Jen fotoin gue dong, buat kenang kenangan," ucap Wendy dengan sedikit kencang karena saat ini Jennie memilih untuk duduk di tempat duduk yang berbentuk segitiga itu.
Jennie menoleh ke arah Wendy, lalu dengan semangat mulai memvideokan Wendy serta memotretnya.
•••
Berbeda dengan Wendy dan Jennie yang sibuk bergantian bermain ayunan. Joy, Rosè dan Seulgi memilih untuk berjalan ke tepi tebing.
"Anjay, cakep banget," decak Joy kagum, bibirnya sedari tadi tak berhenti tersenyum.
Seulgi mengangguk setuju, "Yah walaupun gak bagus bagus banget tapi masih oke lah."
"Kak Seul, Joy kita kesana yuk!" Ajak Rosè antusias sambil menunjuk objek wisata sebuah tangan raksasa yang tak jauh dari mereka.
"Gak ah, ngeri gue." Tolak Seulgi
"Ayolah kak Seul, masa cuma aku sama Joy doang si," rengek Rosè yang mulai bergelayut ditangan Seulgi.
Di samping itu Joy hanya mampu tertawa terbahak bahak, pasalnya tinggi badan kedua nya terpaut cukup jauh dengan Rosè yang lebih tinggi membuat siapapun akan tertawa jika melihat keduanya ditambah wajah Seulgi yang mulai asam.
"Udah lah Rosè, lo galiat noh muka nya kak Seul udah sepet," katanya saat sudah menghentikan tawa nya.
Rosè mengerucutkan bibirnya sebal, "Kak Seul nanti berdiri di tepi aja jangan naik ke tangan nya." Pinta Rosè lagi
Menghela nafas lelah, mau tak mau Seulgi memilih untuk menuruti keinginan gadis bersurai blonde itu jika tidak sampe kapan pun gadis itu akan terus memaksanya.
Melihat Seulgi yang sudah setuju Rosè pun dengan semangat langsung menggandeng tangan Joy dan Seulgi ke arah objek tersebut.
•••
"Capek banget please," rengek Lisa seraya memijit kaki jenjang nya.
"Yeu, dasar remaja jompo gitu aja udah ngeluh capek," ledek Yeri yang juga mendudukan diri nya samping Lisa.
Saat ini ke empat gadis itu Lisa, Yeri, Irene dan Jisoo memilih untuk duduk di saung yang tak jauh dari tempat Jennie duduk tadi.
Tak menjawab, Lisa memilih untuk mengabaikan nya saat ini dia tidak ada semangat untuk meladeni ucapan si bontot.
KAMU SEDANG MEMBACA
DESA | Blackvelvet [END]
Misteri / ThrillerKarena Yeri mendapat peringkat satu pararel di sekolah nya, Ia meminta ke delapan kakak sepupu nya untuk liburan bareng ke sebuah desa yang pernah di rekomendasikan oleh teman nya. Namun, liburan yang seharus nya menyenangkan berubah menjadi sebuah...
![DESA | Blackvelvet [END]](https://img.wattpad.com/cover/303196862-64-k35598.jpg)