DESA [6]

106 15 2
                                        

Malam telah tiba, kini kesembilan gadis itu sudah berada di kamar nomor 17 sehabis makan malam tadi.

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam yang mengharuskan ke empat gadis itu kembali kekamar nya.

"Boleh tidur disini aja gak si? Gue mager banget," rengek Rosè yang masik asik tiduran disebelah Wendy.

"Gak gak gak boleh, enak aja lo mau nginep ntar gue tidur dimana?" Sewot Joy seraya mengambil guling yang di peluk oleh Rosè.

"Udah gih sana balik ke kamar kalian," usir Irene yang mulai jengah dengan sikap sepupunya.

Dengan sebal namun pasrah Rosè bangun dari aksi rebahan nya, ia menggandeng tangan Jennie menarik nya keluar dari kamar, "Ish, yaudah deh gue balik dulu."

Jennie yang terseret pun tak bisa menolak karena ia sangat lelah. Lisa dan Jisoo pun ikutan bangun dari duduknya dan pamit ke kamar mereka.

Sepeninggal keempat orang itu, tanpa banyak bicara kelima nya memutuskan untuk langsung tidur.

Namun, belum sempat memejamkan mata mereka mendengar suara ketukan pintu.

Ditempatnya Seulgi sudah berdecak sebal lantaran ia sangat amat ingin istirahat namun suara ketukan pintu sangat mengganggu indra pendengarnya.

"Yer bukain gih," suruhnya pada Yeri yang memang tidur di kasur kecil disamping kasur yang besar.

Malas berdebat membuat Yeri mau tak mau menurut, ia dengan langkah gontai membuka pintu sembari hendak memaki jika yang mengetuk pintu itu adalah sepupunya yang lain, namun belum sempat kata makian itu terucap bibirnya sontak dibuat terkatup kala matanya menatap asing pada sosok didepan nya.

"Maaf ada apa ya?" Tanya Yeri sopan, netranya menatap gadis yang bediri didepan nya dengan tatapan bingung.

Gadis itu mengenakan pakaian staff penginapan dengan nampan ditangannya.

"Kami menyiapkan dessert untuk penghuni penginapan, silahkan." Ujarnya menjelaskan seraya memberikan satu dessert berukuran besar.

Dengan bingung Yeri pun menerima dessert itu, "Ah iya makasih mbak."

Pelayan itu menganggukkan kepalanya dengan senyum yang masih terpatri diwajahnya, "Sama sama, selamat malam." Ujarnya namun tak kunjung beranjak dari tempatnya dan malah menatap Yeri dengan intens.

Tak ambil pusing Yeri pun segera menutup pintu kamarnya, dan mengintip sejenak apakah pelayan itu sudah pergi atau masih berdiri di depan kamar penginapannya.

Matanya melotot tak percaya kala ia masih melihat pelayan itu masih berdiri didepan kamar nya, ia melihat pelayan itu menggumamkan sesuatu namun tak terdengar dengan jelas.

Ingin melihat gerak bibir pelayan itupun Yeri tidak bisa karena lubang yang ada dipintu kamarnya sangat kecil.

Melihat tingkah Yeri yang tak kunjung mendekat dan malah mengintip membuat Seulgi heran. Ia pun berniat untuk memanggilnya namun segera di hentikan Wendy.

Seulgi menatap Wendy dengan pandangan bertanya, namun Wendy hanya menggelengkan kepalanya lalu membuat gestur diam dengan menaruh jari telunjuknya didepan mulut.

Tak lama kemudian akhirnya Yeri menghentikan aksi mengintipnya lalu berjalan tergesa gesa ke arah yang lain, "Gila gila gila, apa apaan tadi itu." Ujarnya dengan bergidik ngeri.

Irene menatap Yeri bingung, "Kenapa Yer?"

Yeri menatap ke arah sepupunya secara bergantian lalu menaruh dessert cake yang diberikan oleh pelayan itu di depan TV yang memang ada diruangan mereka.

DESA | Blackvelvet [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang