DESA [7]

94 10 2
                                        

DISCLAIMER!!

PART INI MENGANDUNG KEKERASAN FISIK, DARAH, SATANISME. JIKA MUAL DIANJURKAN SKIP KE CHAP SELANJUTNYA!

(oh ya aku juga gak begitu paham si soal satanisme, jadi kalo misal ada kesalahan tolong di koreksi, terimakasih.)













"Gue beneran udah gak tahan lagi, gue mau pulang sekarang," kata Seulgi lantas bangkit dari duduk nya, tapi sebuah cekalan tangan menghentikan nya lebih dulu sebelum beranjak jalan.

Seulgi menoleh ke arah Wendy dengan mengangkat sebelah alisnya, "Lo mau kemana?" Tanyanya

"Gue mau ke kamar kita, beresin semua barang barang dan pergi dari sini," ujar Seulgi

Wendy menatap Seulgi datar, "Lo mau pergi tanpa persiapan apapun gitu?"

Seulgi menggeram kesal, emosi nya sudah sampai di ubun ubun dan siap ia tumpah kan, "Terus lo mau gue harus gimana hah?! Nunggu kita jadi santapan manusia kanibal itu?!"

"Maksud Wendy kita harus buat rencana dulu sebelum pergi dari sini Seul, kita gatau ada ancaman apa aja yang bakal kita temuin kalo maksa pergi tanpa persiapan apapun," Lerai Irene cepat sebelum terjadi pertengkaran.

Seulgi menurunkan egonya, ia duduk dengan kasar di tempatnya menatap yang lain nya serius, "Terus apa rencana kalian?"

"Yang pasti kita gak bisa pergi gitu aja, mengingat kondisi Kak Ji yang masih lemes," celetuk Jennie yang tengah mengusap surai Jisoo. Sedangkan Jisoo tengah terlelap sejak beberapa menit yang lalu.

"Kalian parkir mobil dimana?" Tanya Rosè

"Jauh dari sini, Gue sama Kak Seul parkir mobil di pintu masuk Desa." Jawab Jennie

"Jarak antara penginapan ini ke tempat mobil lumayan jauh, kita gabisa sembarangan pergi gitu aja karena jalanan yang kita lewatin juga cukup seram kalo kita jalan sekarang," Jelas Rosè seraya menatap sepupunya bergantian.

"Emangnya gabisa nunggu besok pagi aja?" Tanya Joy dengan wajah yang masih pucat.

Lisa mengangguk setuju, "Gue gak sanggup kalo harus pergi sekarang," timpal nya dengan mata yang menatap kosong kedepan.

Irene menghela nafas berat, ini sangat sulit. Sebagai Kakak tertua ia merasa harus melindungi Sepupu serta Adiknya.

Hening, tak ada yang sanggup mengluarkan suara apapun. Mereka sibuk dangan pikiran nya masing masing, sampai sebuah gedoran pintu membuyarkan lamunan mereka.

Brak

Brak

Brak

"PERGI! KALIAN SEMUA HARUS PERGI!" Suara wanita itu terdengar sangat nyaring dari balik pintu, tangan nya tak berhenti untuk mengetuk ngetuk.

"PERGI! PERGI! PERGI!"

Semuanya terdiam tak ada yang berani untuk beranjak, namun perkataan selanjutnya dari wanita itu membuat bulu kuduk mereka merinding, "DATANG, DIA DATANG, PERGI JIKA KALIAN INGIN HIDUP!"

Wendy beranjak dan berjalan mendekati pintu, ia mengintip sejenak lewat celah lubang yang ada pada pintu. Matanya terbelalak kaget saat mengenali wajah wanita itu, ternyata wanita itu adalah wanita yang ia jumpai di lantai tiga.

Tangan nya bergerak membuka pintu, "LO MAU NGAPAIN WEN?!" teriak Seulgi kaget atas tingkah Wendy.

"Dia wanita dari lantai tiga," singkat Wendy dan langsung membuka pintu.

Pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah, penampilan wanita itu yang sangat lusuh dengan darah dimana mana.

Wendy menutup mulutnya terkejut, "Astaga, kamu kenapa?!"

DESA | Blackvelvet [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang