chapter 2

36 3 0
                                        

DUK

"auwwh" ringisnya ketika kepalanya terbentur sudut nakas. Lingga terduduk di atas  kasur, "Sial, cuman mimpi" gumamnya dengan nada kecewa, sambil menghela napas panjang ia membiarkan kepalanya kembali ke bantal, merasa sedih karena kenyataan yang tidak sesuai dengan mimpinya. Lingga memilih untuk tidur kembali, karena saat ini jam masih menunjukkan pukul 02.30.

Hari ini adalah hari Minggu, hari yang paling ditunggu oleh Lingga karena bebas dari hiruk pikuk rutinitas sekolah, memberinya kesempatan untuk menikmati waktu luang dan melakukan hal-hal yang disukainya dengan santai. 

Pagi yang cerah menyambut Lingga saat ia memutuskan untuk mengawali harinya dengan joging santai di taman dekat rumahnya, menikmati udara segar dan pemandangan alam yang indah sambil membakar semangatnya untuk hari yang baru. Lingga terbangun, duduk sebentar untuk meregangkan tubuhnya dan menguapkan kantuk, Lingga bangkit dari tempat tidur, lalu bersiap-siap dengan mengenakan pakaian olahraga simpel, siap untuk memulai rutinitas jogging pagi yang menyegarkan.

Dengan langkah ringan dan irama musik yang mengalun di telinganya, Lingga berlari santai di jalur joging taman, menikmati setiap langkahnya sambil membiarkan lagu favoritnya membawanya ke dalam suasana yang lebih rileks dan menyenangkan.

Dalam momentum berlari, Lingga tidak memperhatikan sekitar dengan baik dan tanpa sengaja menabrak seseorang di depannya, gadis itu terjatuh, ia menunduk, tangannya memegang siku yang terasa sakit akibat jatuh, dan dari wajahnya terlihat sedikit rintihan nyeri yang ditahan, membuat Lingga merasa bersalah dan segera menawarkan bantuan untuknya berdiri. 

Gadis itu mendongak menatap lingga. Saat mata mereka bertemu, Lingga terkejut dan tertegun, karena gadis di depannya adalah orang yang sama dengan orang yang pernah menyelamatkannya waktu itu, gadis yang masuk kedalam mimpinya.

"heh cowok aneh, ternyata lo yang nabrak gue" ujarnya sambil membersihkan celana belakangnya yang kotor terkena tanah.

"gue ga liat lo" ucapnya sponta, sambil matanya tetap terpaku pada wajah gadis itu, seolah tak percaya bahwa sosok yang pernah menyelamatkannya dan menghantui mimpinya kini berdiri tepat di hadapannya.

"alasan, mana mungkin lo ga liat gue"

"lo pendek, ga liat tadi"

"enak aja ngatain gue pendek, dasar cowok aneh" ujarnya kesal.

Lingga tersenyum tipis, sangat tipis sampai gadis itu pun tidak bisa melihat senyumnya. "gue minta maaf" ucap lingga pada gadis itu.

"minta maaf doang? ga cukup"

Lingga mengeluarkan dompet dari saku celananya, menyodorkan 5 lembar uang merah pada gadis itu.

Gadis itu terkejut melihat itu, "gue banyak duit, ngapain kasik gue" tanyanya bingung.

Lingga memasukkan kembali uang itu ke dompetnya, "trus lo mau apa?"

"obatin luka gue, ini siku gue berdarah gara-gara lo" ucapnya sambil menunjukkan sikunya yang sedikit tergores dan mengeluarkan darah.

Dengan gerakan lembut, Lingga menarik tangan gadis itu menuju bangku di taman dan menyuruhnya duduk, "tunggu di sini sebentar". 

Lingga kembali dengan membawa kotak P3K dan dengan hati-hati membersihkan luka di tangan Nala, kemudian memberikan obat dan membalutnya dengan lembut. Nala menatapnya dengan rasa terkejut dan sedikit kagum melihat perhatian Lingga.

"makasih" ucap gadis itu ketika melihat lingga sudah selesai mengobati lukanya.

"hm"

"nama lo siapa?" tanya lingga sedikit gugup, sambil menatap mata gadis itu dengan harapan besar bahwa jawabannya akan menghilangkan keraguan di hatinya. Ia takut jika gadis di depannya bukanlah Nala yang dikenalnya, tapi di sisi lain, ia takut berharap terlalu banyak tanpa kepastian.

Hujan kala ituTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang