"Lagi nunggu apa?"
Kalea berbalik cepat, terkejut. Di sampingnya, Lingga sudah berdiri tegak, dengan Vespa kuningnya terparkir rapi di belakangnya.
Lingga menatapnya dengan ekspresi datar, sedikit alisnya terangkat. Kehadirannya yang tiba-tiba membuat jantung Kalea kembali berdegup kencang, kali ini karena kaget.
"Lingga?! Kok lo...?" Kalea tergagap, mencari kata-kata. Ia menyangka Lingga sudah pergi.
"gue nyariin lo," jawab Lingga santai.
"Vespa gue butuh di cek dulu tadi." Ia melirik ponsel di tangan Kalea. "Lagi nunggu siapa? Ojol?"
Kalea mengangguk kaku, sedikit gugup karena tertangkap basah. "Iya."
"Kan udah janji mau ke toko buku bareng," kata Lingga, "Kenapa malah pesen ojol?" tanya lingga sambil menaikkan alisnya.
Kalea terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Haruskah ia menceritakan kejadian dengan Gina? Atau pura-pura tidak terjadi apa-apa?. Kayaknya opsi kedua paling tepat buat saat ini.
"Gue... gue ada perlu mendadak di rumah," jawab Kalea, memilih alasan yang paling aman. Ia mencoba terlihat setenang mungkin.
Lingga menatapnya lekat, seolah mencoba membaca kebohongan di balik mata Kalea. Namun, ia tidak bertanya lebih jauh. "Ya udah," katanya, menghela napas tipis.
"Sekarang udah nggak mendadak kan? Ayo gue anter aja."
"Tapi ojol gue udah deket," protes Kalea pelan, menunjuk layar ponselnya.
"Biarin aja," kata Lingga datar. Ia sudah menaiki Vespanya. "Nanti gue kasih bintang lima." Ada sedikit senyum geli di bibirnya.
Kalea ragu sejenak. Jika ia menolak, Lingga mungkin akan curiga. Lagipula, ia memang ingin pergi ke toko buku itu. Dengan berat hati, ia membatalkan pesanan ojolnya, lalu naik ke jok belakang Vespa Lingga.
"Duduk yang bener," perintah Lingga, lalu memutar gas. Vespa kuning itu pun melaju, meninggalkan area sekolah menuju toko buku yang mereka janjikan. Kalea hanya bisa menghela napas. Rencananya untuk menghindari Lingga gagal total. Dan kini.
Selama perjalanan, Kalea diam saja. Ia sesekali mencuri pandang ke punggung Lingga, bertanya-tanya apakah cowok itu menyadari kegelisahannya. Tapi Lingga terlihat santai, fokus mengemudi, sesekali menyalip kendaraan lain. Tampak biasa saja.
Akhirnya, mereka tiba di toko buku. Lingga memarkir Vespadnya, lalu mereka masuk. Aroma khas kertas dan buku baru langsung menyambut.
Kalea menjelajahi deretan rak, matanya menyapu setiap judul. Sebuah novel dengan sampul menarik di rak paling atas menarik perhatiannya. Ia berjinjit, mencoba meraihnya, namun tingginya tak cukup. Jari-jarinya hanya menyentuh ujung buku. Kalea mendengus pelan, sedikit kesal.
Lingga, yang sedari tadi mengekor di belakangnya, melihat kesulitan Kalea. Tanpa berkata apa-apa, ia melangkah maju, menjangkau rak itu dengan mudah. Tangannya meraih novel yang diinginkan Kalea, lalu menyerahkannya pada gadis itu.
Kalea sedikit terkejut dengan kehadiran Lingga yang tiba-tiba, tapi senyum langsung mengembang di wajahnya. "Makasih, Lingga" ucap kalea antusias.
Lingga hanya mengangguk tipis, ekspresinya datar seperti biasa. Namun, ada kilatan samar di matanya saat melihat Kalea begitu antusias membolak-balik novel di tangannya. Ia kembali berdiri di samping Kalea, membiarkan gadis itu menikmati dunianya, sementara ia sesekali melirik judul-judul di sekitarnya.
Pandangan Lingga tertuju pada sebuah novel yang terpajang. Sebuah senyum tipis terukir di wajahnya saat ia melihat judulnya: "Hujan Kala Itu". Ia meraih novel itu, memegangnya dengan hati-hati, seolah benda itu menyimpan banyak kenangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan kala itu
Teen FictionLingga tumbuh dewasa dengan bayang-bayang masa lalu yang selalu mengikutinya. Ia terjebak dalam kenangan lama yang tak pernah hilang, Dan hujan selalu datang bersama dengan ingatannya kala itu. Namun, ketika Lingga bertemu dengan seseorang yang spes...
