Di sebuah cafe Lingga duduk di salah satu kursi kosong dekat jendela yang menghadap langsung ke arah luar. Hari ini, langit bandung terlihat sendu, sesekali berhiasi kilat petir yang diiringi gemuruh guntur yang saling bersahutan. Langit mulai menghitam sepenuhnya, sinar matahari seakan enggang menapakkan diri.
Dalam hitungan menit, butir butir air perlahan turun membasahi kota bandung. semakin lama semakin deras. Lingga menatap keluar jendela, hanyut dalam pikirannya sendiri. Ia tidak terlalu menyukai hujan. Hujan membuat beberapa orang harus menunda aktivitasnya, dan hujan pula yang merebut seseorang darinya.
Seorang gadis keluar dari cafe itu, berjalan perlahan ke tengah jalan, membiarkan tetes demi tetes hujan membasahi tubuhnya. Ia melompat di genangan air menciptakan cipratan kecil. Wajahnya tampak bahagia, terlihat saat dia tersenyum sembari menutup mata lalu mendongak ke arah langit, air dan angin melebur menerpa kulitnya.
"eh kakak suka main hujan hujanan juga?" tanya anak kecil perempuan tiba-tiba.
Dia membuka matanya, lalu sedikit menunduk untuk melihat siapa yang berbicara, "ah iya, kakak suka main hujan" jawabnya sambil tersenyum manis ke arah anak kecil itu.
"aku juga suka hujan kak" anak kecil itu berhenti sejenak, "tapi kenapa yaa sebagian orang ga suka sama hujan? padahal hujan itu indah" lanjutnya dengan raut bingung dan muram.
"setiap orang memiliki alasan dan preferensi yang berbeda-beda, mungkin untuk sebagian orang, hujan hanya sebuah bencana yang mengganggu aktivitas mereka atau mungkin mereka takut basah?, tapi bagiku hidup itu bukan tentang menunggu badai berlalu, tapi tentang bagaimana belajar menari dalam hujan" ucapnya sambil mengelus kepala anak kecil itu.
Anak kecil itu tersenyum, "aku setuju sama kakak, hujan harus dinikmati agar kita bisa merasakan pelangi selepas hujan". gadis itu mengangguk setuju.
"aku pergi dulu ya kak, nanti aku di cariin mama, byee" teriak anak kecil itu sambil berlari-lari kecil.
Dia tersenyum menatap kepergian anak kecil itu.
Pemandangan itu tak luput dari penglihatan lingga, "gadis aneh" gumamnya pelan.
Hujan sedikit mulai reda, lingga keluar dari cafe, sorot matanya melirik ke arah gadis aneh tadi, gadis itu masih saja betah bermain hujan, seakan hujan tak lagi turun lain waktu.
Lingga menatap gadis di seberang jalan itu cukup lama, entah kenapa rasa khawatir terhadap gadis itu tiba-tiba muncul, lingga berusaha menepis perasaan itu tapi justru membuat ia semakin khawatir akan kesehatannya.
Hujan sudah sepenuhnya berhenti, gadis itu juga sudah berlalu pergi entah kemana,
lingga sedikit bingung dengan dirinya, kenapa ia harus khawatir pada gadis aneh itu? tak mau pikir panjang lingga pun memutuskan untuk pergi dari tempat itu.
˚₊‧꒰ა ☆ ໒꒱ ‧₊˚
Pagi ini bandung sudah kembali cerah, tapi tidak dengan suasana hati lingga. Langkahnya menggema di koridor sekolah, setiap detik terasa berat, seperti menghitung harapan yang tersisa.
Lingga masuk ke dalam kelas, berjalan pelan ke arah mejanya. Kelas yang tadinya bising seketika menjadi tenang ketika melihat kedatangan lingga. Bagaimana tidak? lingga dijuluki jalak julig bandung. Tidak ada yang berani berurusan dengannya. Karena itu lingga tidak memiliki teman sama sekali.
Lingga duduk di bangkunya, manik itu menatap ke arah jendela yang langsung mengarah ke lapangan. Entah kenapa otaknya selalu saja memutar memori lama yang selalu dia rindukan. Dan untuk sekian kalinya lingga hanyut dalam pikirannya sendiri.
Setelah berjam-jam membosankan di sekolah, waktu pulang pun telah tiba. Semua murid berbondong-bondong keluar kelas. Lingga berjalan santai di koridor.
"lingga" teriak seorang gadis yang berada di belakang lingga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan kala itu
Teen FictionLingga tumbuh dewasa dengan bayang-bayang masa lalu yang selalu mengikutinya. Ia terjebak dalam kenangan lama yang tak pernah hilang, Dan hujan selalu datang bersama dengan ingatannya kala itu. Namun, ketika Lingga bertemu dengan seseorang yang spes...
