chapter 3

24 4 0
                                        

Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah jendela, membelai wajah Lingga yang masih terlelap, membuat mata yang tertutup pertahan terbuka. Lingga bangun dengan perasaan yang berbeda, perasaan yang sedikit lebih membaik dari sebelumnya.

Dengan langkah yang masih berat karena kantuk, Lingga berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah mandi, dia mengenakan seragam sekolahnya tidak terlalu rapi.

Lingga berjalan menuruni tangga. Berhenti di meja makan, lalu duduk di salah satu kursinya . Wulan datang membawa secangkir susu hangat dan roti selai coklat kesukaan lingga.

"Kata ayahmu, dia makin lama di bogor" kata Wulan sembari duduk di depan Lingga, sambil menyodorkan secangkir susu hangat dan roti ke arahnya.

"bukannya hari ini udah balik, bun?" tanya lingga sambil memasukkan roti kedalam mulutnya.

"ada pekerjaan yang harus di selesaikan lingga"

"omong kosong, ayah emang udah ga peduli sama kita" ketusnya sambil berdiri dari duduknya, "lingga pamit mau sekolah, takut telat" lanjutnya, lalu menyalami tangan Wulan.

"kapan kamu akan mengerti semua ini lingga.." ucapnya lirih sambil menatap punggung lingga yang perlahan menghilang di balik pintu.

Dengan mesin yang mendengung, Lingga mengendarai motor Vespa-nya, membelah jalanan. Angin pagi berhembus lembut menerpa kulitnya. Suasana yang cerah berbanding terbalik dengan perasaan lingga saat ini.

Lingga memasuki pekarangan sekolah. Dia memarkir motornya asal, lalu berjalan menuju gedung sekolah dengan langkah yang berat, seakan-akan setiap langkahnya dipaksakan.

Hari Senin menyambut kedatangannya membawa kembali hiruk pikuk aktivitas dan kewajiban, termasuk upacara yang bagi beberapa orang bisa menjadi momok melelahkan, termasuk lingga.

Di lapangan upacara, murid-murid sekolah berdiri dengan rapi dalam barisan yang teratur sesuai kelas masing-masing, bendera merah putih berkibar di tengah mereka. Para guru dan staf sekolah berdiri di depan, memantau kesiapan upacara yang akan dimulai.

Lingga berdiri di barisan kelasnya, tampak kurang bersemangat. Meskipun berusaha untuk terlihat tenang, rasa bosan terpancar jelas dari ekspresinya. Rasanya dia ingin cepat-cepat masuk kedalam kelas.

Setelah upacara selesai, Lingga berjalan menyusuri koridor sekolah yang mulai dipenuhi siswa yang bergerombol. Wajahnya terlihat murung, seolah beban pikirannya tak terbendung. Saat masuk kelas, dia langsung menuju tempat duduk di pojok belakang, tempat dia bisa sendirian dengan pikirannya.

Lingga memandang ke luar jendela, membiarkan pikirannya melayang ke hal-hal yang tidak bisa dia kontrol. Sejak Nala pergi waktu itu, ayahnya jadi sering ke bogor, katanya untuk kerja, tapi lingga sendiri tidak tahu apa yang dikerja ayahnya itu.

Guru berjalan masuk ke dalam kelas, "Selamat siang, anak-anak," kata Bu Susi, guru bahasa Indonesia yang terkenal dengan julukannya sebagai "Buk Killer" karena sikapnya yang tegas dan selalu berhadapan dengan siswa bandel. Tapi buk Susi selalu angkat tangan ketika berhadapan dengan lingga, seakan sudah menyerah memperingati anak itu.

"pagi buk" ucap murid di kelas serempak. Lingga tersentak, lalu mengalihkan pandangannya kedepan, menatap bu susi dengan pandangan malas.

"Baiklah, anak-anak," kata Bu Susi dengan suara yang tegas, "hari ini kita akan membahas tentang struktur kalimat efektif dalam bahasa Indonesia. Perhatikan baik-baik, karena ini sangat penting untuk tulisan-tulisan kalian di masa depan." Sementara itu, Lingga tetap memandang kosong ke depan, tidak peduli dengan penjelasan Bu Susi.

Dengan senyum getir, Bu Susi menggelengkan kepala melihat Lingga yang tetap tidak memperhatikan. Dia sudah terbiasa dengan sikap Lingga yang kadang-kadang tidak peduli, tapi dia tetap berharap Lingga bisa berubah.

Hujan kala ituTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang