Setelah mengantar Kalea pulang, Lingga segera membersihkan diri. Ia melangkah ke kamar mandi, dan tak lama kemudian, ia sudah berganti pakaian.
Lingga melangkah ringan menuju kasurnya, embusan napas lega menyertainya. Ia menjatuhkan diri di tepi ranjang, punggungnya bersandar nyaman di kepala ranjang yang empuk, sementara jemarinya terulur meraih buku novel-"hujan kala itu" yang menanti di atas nakas.
Cowok langka di antara kaum adam karena kecintaannya pada fiksi, kamarnya menjelma menjadi perpustakaan mini, "Hujan Kala Itu" bukan sekadar novel fiksi biasa. Buku itu adalah salah satu permata di antara koleksinya, sebuah kisah yang selalu berhasil memikat hatinya.
Bukan hanya terpikat oleh kata-kata, Lingga menemukan cermin dalam novel itu, seolah-olah sang penulis telah merangkai setiap bab berdasarkan kisah dan pengalaman yang pernah ia rasakan dalam perjalanannya sendiri.
Lingga menutup novelnya perlahan, bunyi klik tipis dari sampul yang bertemu itu memecah keheningan sore. Tatapannya kosong, menembus dinding kamar, seakan masih melihat lanskap fiksi yang baru saja ia tinggalkan.
Kenyamanan... itulah kata yang terus berputar di benaknya. Setiap kali ia bersama Kalea, rasa nyaman itu menyelimutinya, hangat dan menenangkan. Persis seperti rasa nyaman yang selalu ia rasakan saat bersama Nala. Tapi, Lingga tahu betul, Kalea bukanlah Nala. Mereka berbeda, sangat berbeda.
Yang lebih membingungkan adalah bagaimana, setiap kali ia tenggelam dalam tawa dan cerita bersama Kalea, bayangan Nala seolah memudar, bahkan hilang sejenak. Hatinya terasa ringan, pikirannya tak lagi dibebani nostalgia. Namun, begitu Kalea pergi, atau saat ia kembali menyendiri seperti sekarang, Nala kembali hadir, menuntut tempatnya.
Lingga menghela napas panjang, berat. Ia bingung dengan perasaannya sendiri. Apakah ini sebuah pengkhianatan terhadap kenangan Nala? Atau apakah ini adalah tanda bahwa hatinya mulai menemukan tempat lain untuk berlabuh? Ia tidak tahu. Yang jelas, novel yang baru saja selesai ia baca tidak punya jawaban untuk teka-teki serumit ini.
Dunia fiksi itu menawarkan pelarian, tapi tidak dengan solusi atas kebingungan di hatinya. Ia hanya duduk di sana, melamun, di antara dua nama yang sama-sama membawa rasa nyaman, namun dengan cara yang sangat berbeda.
Sebuah panggilan lembut memecah lamunannya yang panjang, "Lingga, ayo makan, Nak." Suara wulan seperti jangkar yang dilempar, menarik Lingga kembali dari pusaran pikirannya.
"Iya, Bun, bentar," sahut Lingga. Ia meletakkan bukunya di atas nakas, lalu berjalan ke bawah.
Lingga menuruni anak tangga, aroma masakan Bundanya semakin kuat tercium, menuntunnya menuju meja makan. Di sana, Wulan sudah duduk dengan senyum hangat menghiasi wajahnya.
Lingga pun duduk. "Makan apa, Bun?" tanyanya, sambil mengambil piring. Ia mencium aroma ayam goreng yang menggoda, juga sayur sop hangat yang mengepulkan uap. Lamunannya tadi sudah benar-benar lenyap, tergantikan oleh rasa lapar yang tiba-tiba menyerbu.
Wulan tersenyum, lalu menyendokkan nasi ke piring Lingga. "Ayam goreng kesukaanmu, sama sop," jawab wulan, suaranya lembut. "Tadi habis baca buku ya? Sampai dipanggil-panggil lama banget."
Lingga hanya cengengesan. Ia tahu Bunda pasti menyadari kalau ia sedang "kabur" ke dunia buku. Tapi Wulan tidak pernah marah, hanya senyum maklum. Ia mulai mengambil sepotong ayam dan sayur sop ke piringnya.
Lingga mengunyah ayam gorengnya perlahan, menikmati setiap gigitan. Wulan sesekali meliriknya, senyum tipis terukir di bibirnya. Mereka tidak banyak bicara saat makan, sebuah kebiasaan yang Lingga syukuri.
Tapi, pikiran Lingga memang sulit diajak kompromi. Bahkan di tengah lezatnya ayam goreng, bayangan Kalea dan Nala tetap menari-nari di benaknya.
"Lingga, kenapa diam aja?" Suara Wulan memecah lamunannya lagi. "Ada masalah?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan kala itu
Fiksi RemajaLingga tumbuh dewasa dengan bayang-bayang masa lalu yang selalu mengikutinya. Ia terjebak dalam kenangan lama yang tak pernah hilang, Dan hujan selalu datang bersama dengan ingatannya kala itu. Namun, ketika Lingga bertemu dengan seseorang yang spes...
