Sorry for typo(s)
Kabar gembira datang dari anak lanang tersayang dari Jeffriyan. Bocah yang suka sekali dengan Mi Gelas rasa Ayam Bawang itu sudah masuk sekolah TK. Namun, bukannya happy justru Jeananda sedang merenung di antara keriuwehan keluarganya.
Duduk bersebelahan dengan sang sepupu, bibir anak itu meju dengan kedua tangan terlipat di depan dada dan diapit oleh ketiaknya.
"Kamu nggak papa?" tanya Sean penuh selidik.
"Aku papa."
Kedua alis Sean terangkat. "Hah?"
"Kan Kak Nu tanya aku ndak papa? Aku jawab papa soalnya aku tuh ndak ndak apa-apa," jawab Jeananda dengan polos.
Respons tersebut membuat Sean menggaruk pipinya kebingungan. "Mbuh ah." [Nggak tahu ah]
"Dek Non! Ayooo! Heh, kamu belum pakai sepatu, tah?!" seru sang ayah yang berlari membawa sepatu dari rak, bergegas memakainya karena dikejar oleh jam.
Dua anak di sana terlampau tenang, melihat orang tua mereka berlalu lalang menyiapkan segala kebutuhan sekolah. Tubuh Jeananda digendong oleh sang ayah kemudian didudukkan pada jok depan motor, begitu pula Sean dengan orang tuanya. Mereka sepakat berangkat kerja siang supaya bisa mengantar anak-anak di hari pertama masuk.
Jarak sekolah dengan rumah tidak jauh, hanya berjarak empat gang.
Halaman depan TK tersebut sudah begitu ramai, Jeananda semakin mengerutkan dahi merasa gugup dan sikap tersebut disadari oleh sang ayah.
"Kenapa? Takut, Dek?"
Wajah mungilnya ditangkup, Jeffriyan merapikan surai sang buah hati yang sudah beranjak besar. Seragam biru putih yang puluhan tahun pernah dipakainya semasa kecil ternyata begitu cocok juga untuk Jeananda.
"Ndak bisa Basa Jawa, Pi."
"Ya nggak harus ngomong Jawa, Dek. Ibu Gurunya nanti pasti pakai Bahasa Indonesia kok. Percaya sama Papi," ucapnya seraya mencium kedua pipi sang buah hati.
Tentu si kecil percaya pada ucapan Jeffriyan dan juga ada Sean yang bisa membantunya. Dengan begitu, anak-anak berpamitan kepada kedua orang tua mereka setelah memastikan Jeananda serta sepupunya dapat tempat duduk.
Salah satu hal yang mengejutkan bagi Jeananda adalah melihat Hanenda duduk di belakang berkumpul dengan anak-anak lain. Saat mereka saling menatap, anak itu heboh sembari menunjuk-nunjuk.
"JIN, SINIII KOE!"
Tanpa mengajak Sean, putra tunggal Jeffriyan berjalan menyusul. Senyumnya merekah lebar kala menemukan tetangga rumah juga ada di sana. "JEO!"
"Halo, Na!" sapanya dengan senyuman sampai kedua mata itu membentuk bulan sabit.
"Mantap, bareng kabeh!" [Kumpul semua] akan tetapi, Hanenda mulai memanggil dua teman lagi yang baru masuk ke dalam kelas. "JUN, JI! RENEEE!" [Kemarj]
Jeananda menoleh dan menemukan dua anak yang dipanggil oleh Hanenda, salah satunya digandeng karena nampak malas-malasan untuk mendekat dan yang menggandeng terlihat begitu antusias.
"Iki koncoku, jenenge Jenanda. Ngko diajak main bal-balan yo! Eh karo Sean yoan!“ [Ini temanku, namanya Jenanda. Nanti diajak main bola ya. Sama Sean sekalian]
KAMU SEDANG MEMBACA
Keluarga Numpang [Lokal]
Fanfictionadalah menceritakan kehidupan Papi dan putra kesayangannya. "Salamnya mana, Dek?" "Jangan lupa like, komen, dan subscribe!" "Pinter, i love you." "Lobe you too, Papi!" ©piyelur, Juni 2022.
![Keluarga Numpang [Lokal]](https://img.wattpad.com/cover/312265524-64-k548112.jpg)