Author pov:
Malam itu setelah Gracia pulang, Hujan turun tipis, membasahi jendela ruang makan yang tak ditutup tirainya. Cahaya lampu di sudut ruangan menyorot Chika yang masih duduk sendirian di meja makan. Di hadapannya terbuka buku pelajaran matematika dan kertas-kertas coretan rumus. Tangannya memutar pensil, kadang-kadang menunduk menulis, kadang berhenti sejenak, melamun.
Hari itu ia merasa lelah. Bukan karena belajar atau pergi dengan Ara tadi siang, tapi karena rumah ini terasa semakin berat setiap kali ia memasukinya. Tidak ada pelukan. Tidak ada kata “selamat datang.” Hanya keheningan yang mengintai seperti bayangan.
Namun malam ini ada sesuatu yang berbeda.
Langkah kaki ringan terdengar dari arah tangga. Chika awalnya tidak memperhatikan, pikirnya mungkin Christy yang ingin ke kamar mandi. Tapi langkah itu berhenti di ambang dapur. Chika menoleh pelan.
Itu Shani.
Kakaknya berdiri di sana, mengenakan hoodie abu dan celana pendek, rambutnya masih sedikit berantakan karena tidur. Biasanya, pandangan Shani padanya penuh dingin, penuh jarak. Tapi malam ini... ada sesuatu yang lebih lembut di mata itu. Ada letih. Ada keraguan. Ada luka.
Mereka hanya saling menatap selama beberapa detik, dan anehnya, tak ada satupun dari mereka yang menghindar lebih dulu.
Shani membuka mulutnya lebih dulu.
"Belajar apa?"
Chika nyaris menjatuhkan pensilnya karena tak menyangka kalimat itu keluar dari bibir sang kakak tanpa sindiran, tanpa nada ketus.
"Ehm..." Chika menunduk sebentar, canggung. "Matematika. Buat persiapan seleksi SMA."
Shani mengangguk pelan.
"Oh."
Satu kata sederhana, tapi terasa seperti celah kecil yang akhirnya muncul di tembok tinggi bernama kebekuan.
Shani melangkah pelan, berjalan ke arah kulkas lalu mengambil sebotol air. Tapi ia tidak langsung kembali ke atas. Ia berdiri di sana, memandang Chika dari kejauhan. Seolah sedang berperang dengan pikirannya sendiri.
Lalu suara itu keluar.
Pelan. Retak. Tapi nyata.
"Chika, maaf..."
Chika sontak mendongak.
Jantungnya seakan berhenti berdetak.
"Apa... Kakak bilang apa tadi?" suaranya nyaris berbisik.
Shani menatapnya penuh beban.
"Cici minta maaf."
Ia menarik napas dalam.
"Selama ini... Cici terlalu kejam. Terlalu jahat. Cici tau itu."
Chika hanya bisa terpaku di tempatnya. Matanya mulai memanas. Dadanya sesak. Semua emosi yang ia tekan selama bertahun-tahun mulai naik ke permukaan, mengguncangnya.
"Cici gak pernah benar-benar benci kamu, Chik," lanjut Shani. "Cici cuma... terlalu marah sama hidup. Sama Tuhan. Sama semuanya. Cici gak tahu harus nyalahin siapa. Jadi yang paling mudah disalahin ya kamu. Karena... kamu yang terakhir mereka selamatin..."
Suara Shani pecah di ujung kalimat.
Matanya berkaca-kaca. Tangannya bergetar saat meletakkan botol air di meja.
"Setiap kali cici lihat kamu, cici ngerasa bersalah karena... karena cici tahu kamu gak salah. Tapi cici terlalu pengecut buat ngakuin itu."
Chika berdiri perlahan, air matanya mulai jatuh satu-satu.
"Aku... aku selalu berharap Kakak bisa lihat aku sebagai adik. Bukan sebagai bayang-bayang masa lalu yang bikin Kakak hancur..."
Tangis mereka pecah bersamaan.
Shani mendekat perlahan. Lalu memeluk Chika erat. Untuk pertama kalinya sejak kepergian orang tua mereka, pelukan itu bukan karena formalitas, bukan karena terpaksa. Tapi karena rindu. Karena luka mereka akhirnya bisa bertemu di titik yang sama rasa kehilangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Better (End)
FanfictionCuma cerita Fiksi jadi jangan dianggap serius! "Aku ingin yang baik demi yang terbaik" Yssc Tmr "Baik belum tentu bisa menjadi yang terbaik" Zhr N K Kisah seorang gadis malang yang menginginkan hal terbaik menjadi penyempurna hidupnya. Tapi, jika...
