Better (29)

147 23 0
                                        

Author POV:

Langit sore itu menggantung kelabu, bukan gelap, bukan juga cerah. Seperti perasaan Chika ketika melangkah keluar dari ruang BK bersama Ara, Shani, Gracia, dan Veranda. Ada kelegaan. Tapi juga ada sisa-sisa getar yang belum sepenuhnya reda.

Lorong sekolah terasa lebih panjang dari biasanya.
Beberapa siswa menoleh, sebagian pura-pura tak melihat. Nama Chika sudah terlalu dikenal mantan Ketua OSIS yang prestasinya selalu rapi, nyaris sempurna. Dan Ara? Semua orang tahu siapa dia. Bukan hanya karena kelakuannya yang sering “santai bikin onar”, tapi karena status yang tak pernah ia pamerkan dengan suara keras yakni pemilik sekolah itu.

Namun hari itu, mereka berjalan sejajar. Tidak ada yang di depan. Tidak ada yang tertinggal.

Ara menoleh sekilas pada Chika. Wajah Chika tenang, tapi Ara tahu ketenangan itu hasil dari menahan banyak hal sekaligus.

“Kak,” panggil Ara pelan. “Kalau kamu capek… bilang ya.

Chika tersenyum tipis. “Aku capek dari dulu. Tapi hari ini… capeknya beda.”

“Apa bedanya?”

“Capek tapi nggak sendirian.”

Ara berhenti melangkah sejenak. Ia menatap Chika, lalu tersenyum kecil senyum yang jarang ia perlihatkan di sekolah.

“Berarti aku berhasil,” katanya santai. “Minimal sebagai pacar yang bikin capek tapi nemenin.”

“Dasar,” Chika menggeleng, tapi senyumnya menghangat.

Malam itu, mereka berkumpul di rumah Shani, bukan pertemuan resmi. Tidak ada agenda tertulis. Hanya meja makan yang diisi teh hangat, camilan sederhana, dan kehadiran yang utuh.

Chika duduk di ujung meja, membuka buku catatan ujiannya. Tangannya bergerak, tapi pikirannya masih tertinggal di siang tadi.

Gracia memperhatikannya dari seberang. “Kamu belajar atau cuma buka halaman?”

Chika tersenyum kecil. “Kebiasaan lama Ci..”Gracia berdiri, lalu duduk di sampingnya.

“Kamu tahu nggak, Chik Orang yang paling keras sama dirinya sendiri biasanya yang paling lupa istirahat.”

Chika menutup bukunya perlahan. “Aku cuma takut… semua ini ganggu fokus ujian aku.”

Shani yang sejak tadi diam akhirnya bersuara. “Makanya kita rapikan sekarang. Supaya menjelang hari-H, kamu tinggal fokus jadi murid. Bukan jadi tameng.”

Ara yang duduk di lantai bersandar santai ke sofa mengangkat tangan. “Dan aku sudah berjanji buat jadi anak baik.” Semua menoleh. “…di jam sekolah,” Ara menambahkan cepat.

Veranda terkekeh. “Itu sudah kemajuan.”

Ara melirik ibunya. “Ma, serius deh. Aku tahu Papa udah beresin semuanya di level atas. Tapi aku juga tahu… yang diuji sekarang bukan status. Tapi kedewasaan.”

Shani mengangguk pelan. “Dan itulah kenapa kita duduk di sini.”

Christy yang sejak tadi diam tiba-tiba bertanya, “Kalau nanti Kak Chika lulus… rumah ini masih rame nggak?”
Pertanyaan itu membuat ruangan hening sejenak.

Chika menoleh ke adiknya. “Kenapa tanya gitu?”

Christy menggigit bibir. “Aku takut kalau Kak Chika lulus, semua orang pergi.”

Gracia meraih tangan Christy. “Rumah itu bukan soal siapa yang tinggal paling lama. Tapi siapa yang selalu bisa pulang.”

Shani menatap Chika. “Dan kamu selalu punya tempat pulang.” Chika menunduk. Matanya berkaca-kaca, tapi ia tersenyum.

Hari-hari berikutnya berjalan dengan ritme yang lebih teratur. Ara benar-benar menepati janjinya setidaknya sebagian. Ia masih santai, masih sering menggoda Chika di sela jam kosong, tapi tanpa melanggar batas yang telah disepakati.

“Ketemu lima menit aja, Kak Ketua,” bisiknya suatu kali di koridor.

“Aku bukan ketua lagi,” jawab Chika datar.

Ara tersenyum. “Justru itu. Sekarang kamu cuma pacarku.”

Chika memukul lengannya pelan. “Ara.”

“Iya, iya. Belajar. Aku jaga jarak.”

Ia mundur dua langkah. “Segini cukup?”

Chika menahan senyum. “Ra.. Please!”

Ara pergi sambil melambaikan tangan, membuat beberapa guru menggeleng geli.

Di rumah, Shani semakin sering mengecek jadwal Chika bukan dengan tekanan, tapi dengan kehadiran. Ia menemani belajar, membuatkan minum, memastikan Chika tidur cukup.

Gracia mengambil peran yang lebih lembut. Ia mendengarkan. Benar-benar mendengarkan. Tentang kecemasan, tentang mimpi setelah lulus, tentang ketakutan yang tak pernah Chika ucapkan sebelumnya.

“Aku takut gagal Ci,” ujar Chika suatu malam.

Gracia mengangguk. “Takut itu wajar.”

“Tapi aku takut gagal padahal semua orang sudah berdiri di belakangku.”

Gracia menggenggam tangannya. “Kalau kamu jatuh pun, kami tetap di sini. Itu bedanya.”

Chika mengangguk tersenyum, ia meyakinkan diri bahwa dia tidak akan membuat semua orang yang sudah mendukung nya itu kecewa.

Sore itu, Chika tidak belajar. Ia duduk di kamar, menatap catatan yang sudah rapi. Ara mengetuk pelan pintu.

“Boleh masuk?” Chika pun mengiyakan.

Ara duduk di lantai, seperti biasa. “Aku nggak mau ganggu kamu. Aku cuma mau bilang…”

Ia menghela napas. “Besok, apa pun hasilnya, aku bangga sama kamu.”

Chika menatapnya. “Aku belum apa-apa.”

“Kamu bertahan,” jawab Ara. “Itu sudah lebih dari cukup.”

Chika turun dari kursi, duduk di sampingnya. “Kamu tahu nggak? Aku dulu insecure sama kamu.”

Ara tertawa kecil. “Tapi kenapa kamu berusaha deketin aku?”

“Nggak papa sih, aku cuma nyaman aja”

“Aku gak peduli mau kayak gimana pun juga, yang jelas aku bakal selalu ada dideket kamu.”

Chika menyandarkan kepalanya di bahu Ara. “Terima kasih… sudah bikin ribut hidupku.”

Ara tersenyum. “Sama-sama. Aku spesialis chaos yang setia.”

~~~

Hai hai, gimana part kali ini? Siap-siap untuk menuju ending ya.

Better (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang