Better (28)

273 32 0
                                        

Author POV:

Hujan turun lagi malam itu, membasuh halaman kecil rumah Shani. Cahaya lampu ruang makan menetes lembut ke dinding, membentuk bayangan-bayangan familiar yang selama ini hilang seperti rumah yang perlahan menemukan bentuknya kembali.

Chika duduk di kursi, masih dengan sisa stres dari panggilan BK waktu itu. Dengan pakaian santai, rambutnya sedikit kusut. Di depannya, sup ayam buatan Gracia mengepul pelan, tapi ia hanya mengaduk tanpa niat menyuap.

Gracia menarik kursi dan duduk di sebelahnya. “Kalau kamu cuma ngeliatin sup nya, dia gak bakal nyelesain masalahmu, Chik”

Chika menghela napas. “Aku cuma… takut besok nggak berjalan baik.”

“Kalau takut, bilang,” suara Shani muncul dari arah dapur. Ia membawa dua cangkir cokelat panas. “Takut tuh bukan berarti lemah. Itu artinya kamu peduli.”

Christy, adik bungsu mereka, yang duduk di samping Shani mengangkat tangannya kecil-kecil, “Kalau kakak takut, aku peluk. Biar setengahnya pindah ke aku.”

Shani dan Gracia tertawa kecil. Chika hanya bisa mengulas senyum, meski samar. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, rasanya ia tidak sendirian menanggung semuanya.

Hujan masih menetes di luar ketika bel rumah berbunyi. Shani berjalan ke pintu dengan langkah ragu, sementara Chika dan Christy berhenti makan. Begitu pintu terbuka, dua sosok berdiri di ambang yaitu Veranda dan Ara.

Veranda tersenyum sopan. “Permisi. Ara memaksa ingin mengantar saya, jadi… kami datang bersama.”

Ara mengangguk pelan, lebih canggung dari biasanya. “Halo… semuanya.”

Shani mempersilakan masuk. Mereka duduk di ruang tamu, suasana hening beberapa detik sebelum Veranda membuka percakapan.

“Saya sebenarnya sudah tahu tentang hubungan Ara dan Chika,” katanya tenang, tanpa nada marah. “Karena waktu itu dia pernah mengenalkan gadis cantiknya itu.”

Chika spontan melirik Ara, yang hanya menggaruk tengkuk sembari cengengesan malu.

“Aku kan cuma jujur,” gumam Ara. “Kalo pacaran, ya aku bilang pacaran.”

Shani tersenyum tipis mendengar itu, tapi tetap menjaga sikap. Di sisi lain, Veranda tampak menatap Shani lama seolah ada teka-teki yang baru saja terjawab.

“Yang membuat saya terkejut,” lanjut Veranda, “bukan hubungan mereka.”
Ia menggeser pandangannya.
“Melainkan… kamu, Miss Shani. Kamu kakaknya Chika.”

Shani terdiam sebentar, lalu mengangguk. “Iya, Miss. Saya kakaknya. Dan saya juga lagi belajar memperbaiki apa yang rusak selama ini.”

Veranda menarik napas lembut, ekspresinya berubah bukan kaget yang buruk, tapi seperti seseorang yang baru menemukan kepingan puzzle terakhir.
Selama ini ia mengenal Shani dalam konteks kerja sama bisnis profesional, tegas, dewasa. Ia tidak pernah menyangka bahwa di balik semua itu, ada hubungan pribadi yang menyambung ke anaknya sendiri.

“Sungguh dunia ini kecil,” gumam Veranda. “Dan terkadang… semesta punya caranya sendiri menyatukan orang.”

Christy, yang tadi diam, tiba-tiba nyeletuk polos. “Berarti Tante sama Kak Shani temenan duluan sebelum tahu hubungan kak Chika dan kak Ara?”

Veranda tersenyum. “Bisa dibilang begitu, sayang.”

Ara mencondongkan badan, mencoba mencairkan keadaan. “Jadi… mama gak kaget aku pacaran sama Chika, tapi kaget karena Shani kakaknya?”

Veranda mengangguk. “Betul. Kan waktu itu mama sudah tahu tentang kalian berdua, yang menjadi pertanyaan mama kenapa waktu Shani menghadiri acara mama waktu itu dia tidak bilang?”

Better (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang