Better (27)

252 42 2
                                        

Author POV:

Pagi itu, ruang kelas 12 IPA 1 terasa lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada canda berlebihan, tidak ada kursi yang ditarik sembarangan. Semua seolah sepakat bahwa fase ini bukan lagi tentang siapa yang paling ribut atau paling populer melainkan tentang siapa yang paling siap menghadapi akhir.

Chika duduk di bangku dekat jendela, buku catatan tebal terbuka di depannya. Pulpen di tangannya bergerak cepat, menandai poin-poin penting. Sesekali ia menatap ke luar, melihat halaman sekolah yang mulai ramai oleh siswa kelas lain.

“Fokus, Chika. Tinggal beberapa bulan lagi,” gumamnya pada diri sendiri.

Sejak tak lagi menjabat sebagai Ketua OSIS, ritmenya berubah drastis. Tidak ada lagi rapat sampai sore, tidak ada lagi proposal kegiatan. Sekarang, hidupnya dipenuhi jadwal bimbingan belajar, try out, dan simulasi ujian. Ia tahu ini penting. Ia tahu masa depannya sedang dipertaruhkan.

Namun, ketenangan itu hanya bertahan sampai suara dari luar kelas terdengar.

“Permisiiii… numpang lewat sebentar.”

Beberapa siswa kelas 12 menoleh ke arah pintu. Dan seperti dugaan, sosok yang berdiri di sana adalah Ara, dengan senyum santainya dan ekspresi seolah dunia ini tak pernah memberinya beban.

Chika menutup matanya sejenak.
“Kenapa dia selalu muncul di jam-jam rawan konsentrasi?”

Ara melangkah masuk, membawa map tipis di tangan. Guru belum datang, jadi tak ada yang berani menegurnya. Beberapa teman Chika sudah berbisik-bisik, senyum menggoda muncul di sana-sini.

Ara berhenti tepat di samping bangku Chika.
“Pagi, mantan Ketua OSIS favorit se sekolah,” katanya pelan.

Chika tidak menoleh. “Ara. Ini jam pelajaran.”

“Belum mulai,” balas Ara ringan. “Aku cuma mau nganter ini.”

Ia meletakkan map di atas meja Chika. Chika melirik isinya lembar soal try out tambahan, lengkap dengan catatan kecil di sudut kertas.

> ‘Biar kamu nggak lupa istirahat. Jangan keras sama diri sendiri.’

Chika terdiam.
Ia mendongak. “Kamu yang nyiapin ini?”

Ara mengangkat bahu. “Aku yang minta guru BK cetakin. Aku tahu kamu pasti ngerjain sendiri tanpa minta bantuan.”

Chika mendesah. “Kamu itu… nyebelin.”

“Tapi kamu suka,” jawab Ara cepat.

Wajah Chika memerah. “Keluar sana sebelum aku suruh satpam angkat kamu.”

Ara terkekeh, lalu sedikit menunduk mendekat. “Nanti pulang bareng ya. Jangan nolak.”

Chika akhirnya menatapnya tajam. “Ara, aku lagi fokus. Jangan bikin aku tambah susah.”

Ara terdiam sejenak. Senyumnya meredup, meski hanya sedikit.
“Oke,” katanya akhirnya. “Aku nggak mau ganggu. Tapi jangan lupa… kamu nggak sendirian.”

Ia melangkah pergi, meninggalkan ruang kelas dengan langkah santai. Chika memandangi punggungnya sampai menghilang di balik pintu.

Dan entah kenapa, dadanya terasa hangat.

Siang hari di kantin, Chika duduk bersama Dey dan Eli. Mereka membicarakan jurusan, kampus impian, dan kekhawatiran masing-masing. Namun pembicaraan tiba-tiba bergeser.

“Chik,” bisik Dey “itu Ara beneran pacar lo?”

Chika mengangguk pelan. “Iya.”

“Berani banget ya. Dia kan anak pemilik sekolah.”Sahut Eli.

Better (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang