Author pov:
Malam itu...
Setelah pelukan hangat, pelukan pertama setelah bertahun-tahun saling diam, saling menjauh, dan saling menyimpan luka, keduanya masih berdiri dalam keheningan. Chika bisa merasakan tangan kakaknya sedikit gemetar. Pelan-pelan, Shani melepaskan pelukan itu, lalu mengusap air matanya sendiri.
“Maaf ya... Cici terlambat sadar,” ucapnya pelan. “Cici harusnya jadi tempat kamu pulang, bukan malah bikin kamu ngerasa sendiri di rumah ini.”
Chika menggeleng, meski matanya masih sembab. “Aku juga gak pernah bener-bener ngerti cara deketin cici... Aku takut, aku salah ngomong, salah langkah... terus cici makin jauh.”
Shani menarik kursi lalu duduk di sebelah adiknya. Tangannya menyentuh buku catatan milik Chika, lalu matanya melirik sekilas angka-angka rumus matematika di sana.
“Masih inget dulu waktu kecil, kamu suka ngambek tiap cici bantuin PR matematika kamu?” tanya Shani, senyum kecil muncul di bibirnya.
Chika tersenyum malu, mengangguk pelan. “Soalnya cici cerewet banget waktu itu.”
“Hah! Lha iyalah. Kamu itu dulu susah banget diajarin, maunya main boneka terus,” goda Shani, tawa kecil keluar dari mulutnya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tawa itu terdengar lagi di rumah itu. Bukan tawa pura-pura. Bukan basa-basi. Tapi tawa tulus dari dua saudara yang akhirnya membuka hati mereka.
Lalu tiba-tiba terdengar langkah kecil mendekat. Christy, adik bungsu mereka, berdiri di ambang pintu dapur sambil mengucek matanya.
“Kalian kenapa sih? Nangis-nangis... pelukan... kayak di sinetron...” gumamnya setengah mengantuk.
Shani dan Chika saling pandang, lalu tertawa. Shani membuka lengannya.
“Sini, bocil. Peluk sekalian.”
Christy berjalan mendekat dan langsung bergabung dalam pelukan itu, meski masih belum benar benar sadar apa yang sedang terjadi. Yang ia tahu, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, rumah ini terasa hangat lagi. Tidak ada lagi aura dingin dari Shani. Tidak ada lagi keheningan yang menakutkan. Semua terasa berbeda... terasa benar.
Keesokan paginya...
Udara pagi menyusup masuk lewat jendela ruang makan yang terbuka. Aroma roti panggang dan susu hangat memenuhi rumah. Di meja makan, Chika duduk dengan rambut masih basah habis mandi, sementara Christy sibuk mengoleskan selai cokelat ke rotinya.
Shani muncul dari dapur sambil membawa satu piring besar berisi telur dadar gulung dan sosis. Chika menatap kakaknya dengan tatapan terheran-heran.
“Eh, siapa yang nyuruh cici masak pagi-pagi gini?”
“Tumben ya ci?” sambung Christy dengan mulut masih penuh.
Shani menaruh piringnya di atas meja lalu duduk sambil mengambil sosis satu. “Mulai sekarang... rumah ini harus berubah. Gak bisa terus dingin kayak kulkas. Kita harus bikin suasana yang kita pengenin. Rumah ini bukan cuma tempat tinggal, tapi tempat pulang.”
Chika memandangi wajah kakaknya. Ada sesuatu yang baru dalam ekspresi Shani. Bukan hanya ketulusan, tapi juga tekad.
“Mimpi Mama dan Papa itu nggak cuma soal kita sekolah tinggi atau sukses kerja... Tapi juga supaya kita tetap bareng-bareng, saling jaga.”
Christy mengangguk mantap. “Iyaaa! Aku suka yang ini. Kayak rumah di drama Korea, yang semua orang bisa curhat satu sama lain.”
Shani dan Chika tertawa bersamaan. Percakapan berlanjut ringan tentang tugas sekolah, tentang kegiatan ekskul Christy, tentang rencana Chika menghadapi ujian disekolah, dan tentang masa depan mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Better (End)
Fiksi PenggemarCuma cerita Fiksi jadi jangan dianggap serius! "Aku ingin yang baik demi yang terbaik" Yssc Tmr "Baik belum tentu bisa menjadi yang terbaik" Zhr N K Kisah seorang gadis malang yang menginginkan hal terbaik menjadi penyempurna hidupnya. Tapi, jika...
