Better (30) End

224 25 0
                                        

Author POV:

Beberapa Minggu kemudian..

Pagi hari ini seperti biasanya, langit cerah seperti pagi-pagi lainnya, matahari naik dengan ritme yang sama, dan burung-burung tetap berkicau tanpa tahu bahwa hari itu adalah garis akhir dari sebuah perjalanan panjang.

Namun bagi Chika, pagi itu adalah penanda.
Ia berdiri di depan cermin kamar, mengenakan seragam rapi yang terakhir kali akan ia pakai sebagai siswi SMA. Rambutnya diikat sederhana, wajahnya bersih tanpa rias berlebihan.

Di balik pantulan kaca itu, ia melihat dirinya yang dulu gadis yang pernah terlalu keras pada dunia, terlalu diam pada dirinya sendiri. Dan hari ini… ia melihat seseorang yang utuh.

Christy muncul di ambang pintu, mengenakan seragam SMP dengan tas yang tampak kebesaran di tubuh kecilnya.

“Kak… jangan lama-lama lulusnya,” katanya polos.

Chika tersenyum. “Kenapa dek?”

“Nanti aku sendirian di rumah.”

Chika mendekat, merapikan pita di rambut adiknya. “Kamu nggak sendirian. Kamu cuma belajar berdiri sebentar tanpa aku.”

Christy mengangguk, meski wajahnya masih cemberut. “Tapi pulang ya.”

“Iya sayang, kakak akan selalu pulang untuk adik kesayangannya kakak hehe.”Jawabnya dengan mencubit gemas pipi adik kecilnya itu.

Di luar kamar, Shani sudah menunggu. Ia tidak banyak bicara pagi itu. Hanya satu kalimat saat Chika melangkah keluar.

“Hari ini kamu tidak membawa beban siapa pun. Hanya dirimu sendiri.”

Gracia menyodorkan kotak kecil. “Bekal. Jangan lupa makan.”

Chika tertawa kecil. “Aku bukan anak SD lagi Ci.”

“Justru karena kamu bukan anak kecil lagi,” jawab Gracia lembut.

"Terimakasih Ci Gre.."Ucap Chika tulus dan dibalas anggukan oleh Gracia.

Halaman sekolah sudah ramai. Spanduk kelulusan tergantung di depan gedung utama. Wajah-wajah siswa kelas 12 dipenuhi senyum, tawa, juga mata yang berkaca-kaca.

Ara berdiri di dekat gerbang, mengenakan seragam yang sama rapi sesuatu yang jarang terjadi. Di sekelilingnya berdiri teman-temannya.

Adel menyenggol lengannya. “Eh, pemilik sekolah hari ini rapi amat. Mau pidato?”

Ara mendengus. “Hari ini gue bukan siapa-siapa. Tapi, gue cuma pacarnya mantan ketua OSIS.”

Oniel terkekeh. “Demi apa? Dari semua orang, lo doang yang bucin paling parah Ra..”

Olla melipat tangan. “Tapi jujur, Ara. Lo beda sih sekarang.”

Ara menoleh. “Maksud?”

“Lo kelihatan… tenang,” jawab Olla.

Ara tidak menjawab. Matanya tertuju pada sosok Chika yang baru saja masuk halaman sekolah, berjalan bersama Eli dan Dey.

Eli langsung melambaikan tangan. “CHIKAAA!”

Dey tersenyum hangat. “Akhirnya hari ini datang juga.”

Chika menghela napas pelan. “Gue kira nggak bakal sampe di titik ini.”

Eli menggeleng. “Lo terlalu kuat buat gagal Chik..”

Ara melangkah mendekat. Semua mata otomatis tertuju pada mereka pasangan yang sempat jadi bahan bisik-bisik, rumor, bahkan rapat BK.

Better (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang