Pernikahan yeri dan jaehyun berawal dari tuntutan keluarga jung demi menjaga nama baik, bukan dari cinta yang tulus. Namun, di balik semua keterpaksaan itu, yeri benar-benar mencintai jaehyun. Meski dikhianati dan disakiti, perasaannya tidak pernah...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy Reading
Lorong kantor itu terasa lebih sempit setiap kali suara langkah kaki Jaehyun terdengar. Yeri bahkan sudah hafal cara lantai keramik itu memantulkan suara sepatu kulit milik pria itu. Tegas. Pelan. Tapi selalu mengarah ke mejanya.
Dan hari ini, dia datang lagi.
"Selamat pagi, Pak Jaehyun," sapa resepsionis dengan suara sedikit gemetar. Bukan karena takut, tapi karena pria itu selalu membawa aura dingin yang membuat ruangan seolah menahan napas.
"Yeri di dalam?" tanyanya to the point, tanpa senyum, tanpa basa-basi.
"Seperti biasa, Pak. Di ruangannya."
Jaehyun mengangguk sekali, lalu melangkah menuju ruang kerja Yeri tanpa menunggu izin. Dia sudah hafal lorong ini, bahkan mungkin lebih dari lorong kantornya sendiri. Tangannya sudah refleks membuka pintu kaca bening itu.
Yeri sedang mengetik. Suara pintu yang terbuka membuatnya menoleh, dan seperti biasa, wajahnya langsung berubah dingin.
“Kau salah tempat, Jaehyun,” ucapnya datar.
“Salah tempat?” Jaehyun menaikkan alis. “Aku pikir tempat ini sudah seperti rumah kedua bagiku sekarang.”
Yeri berdiri, menyilangkan tangan di depan dada. “Kau tidak punya urusan dengan kantor ini. Kau bukan klien kami. Jadi kenapa kau terus datang ke sini?”
Jaehyun tersenyum kecil, menyandarkan punggung ke sisi pintu. “Aku punya urusan dengan direktur Kang. Kerjasama kami belum selesai.”
“Kau bisa langsung menghubunginya. Kau CEO. Gunakan kuasamu dengan benar.”
“Tapi kenapa harus lewat telpon kalau aku bisa melihatmu langsung di sini?” ucapnya pelan, seolah kalimat itu adalah hal yang wajar.
Yeri menarik napas panjang, mencoba tetap tenang. “Aku tidak mau menjadi bagian dari permainan obsesifmu, Jaehyun. Kita sudah bercerai sepuluh tahun lalu. Kita bukan siapa-siapa.”
Jaehyun melangkah mendekat. Wajahnya berubah lebih serius. "Kita bukan siapa-siapa, tapi kita pernah menjadi segalanya. Apa kau benar-benar bisa mengabaikannya begitu saja?"
Yeri menunduk.
“Aku sudah melangkah jauh darimu,” gumamnya. “Jangan tarik aku kembali.”
Jaehyun menatapnya lekat-lekat, lalu mengubah ekspresinya menjadi lebih tenang. “Aku hanya ingin makan siang bersamamu. Itu saja. Tidak lebih.”
“Tidak,” Yeri menjawab cepat. “Aku punya banyak pekerjaan.”
“Tiap hari kau punya banyak alasan.”
“Dan tiap hari kau makin keterlaluan.”
Suasana ruang kerja itu seketika membeku. Tidak ada suara selain detak jarum jam di dinding. Yeri menunduk, mencoba melanjutkan pekerjaannya, tapi kehadiran Jaehyun terlalu mencolok.