Pernikahan yeri dan jaehyun berawal dari tuntutan keluarga jung demi menjaga nama baik, bukan dari cinta yang tulus. Namun, di balik semua keterpaksaan itu, yeri benar-benar mencintai jaehyun. Meski dikhianati dan disakiti, perasaannya tidak pernah...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy reading
Yeri sangat membenci jaehyun. Bukan hanya karena itu mengingatkan pada masa lalu yang ingin ia lupakan, tapi karena fakta bahwa ia masih bisa merasakan degup jantungnya sendiri berubah ketika mengingat tatapan jaehyun.
Dan jaehyun, alih-alih memudar dari hidupnya, justru semakin nyata.
Setiap sore, di luar gedung kantornya, mobil hitam itu selalu ada. Parkir di sudut yang sama, dengan jendela setengah terbuka, membiarkan udara sore masuk.
Jaehyun selalu di sana.
Kadang bersandar di samping pintu mobilnya kadang berdiri dengan tangan di saku jas, tapi matanya tak pernah lepas dari pintu keluar kantor.
Hari ini pun sama. Matahari sudah condong ke barat, langit seoul berwarna orange keemasan. Beberapa orang mulai keluar satu per satu, beberapa saling mengobrol, beberapa berjalan cepat menuju halte bus atau stasiun terdekat.
Dan di antara kerumunan itu, jaehyun berdiri.
Begitu matanya menangkap sosok yang ia tunggu, senyum tipis otomatis terukir di sudut bibirnya. Senyum yang bukan milik siapa pun selain yeri.
Yeri keluar dari pintu kaca besar kantor, mengenakan trench coat krem yang dibalutkan rapat di tubuhnya, rambutnya sedikit berantakan tertiup angin sore. Begitu melihat jaehyun di sana lagi ia memutar bola matanya, jelas menunjukkan rasa muak yang sudah tak bisa ditutup-tutupi.
Langkahnya dipercepat, berusaha melewati jaehyun tanpa sepatah kata.
Tapi sebelum ia sempat melangkah lebih jauh, tangan jaehyun bergerak cepat. Genggamannya melingkari pergelangan tangan yeri, cukup kuat untuk menghentikan langkahnya tapi tidak kasar.
“Pulang bersama,” ucap jaehyun pelan.
Yeri menoleh, menatapnya dengan tatapan tajam. “Lepas jaehyun.”
“Aku cuma ingin mengantarmu,”
“Aku tidak perlu diantar.” yeri menarik tangannya, tapi jaehyun belum melepaskannya. “Berhenti mengikutiku setiap hari. Ini sudah keterlaluan.”
Jaehyun tersenyum tipis “Kau pikir aku akan berhenti hanya karena kau bilang berhenti? Aku sudah menunggumu terlalu lama, yeri.”
“Aku tidak peduli berapa lama kau menunggu. Aku tidak meminta itu.”
“Aku tidak butuh kau memintanya.”
Yeri menghela napas panjang, mencoba mengatur emosi. “Kau tidak sadar, ya? Semua ini hanya membuatku semakin ingin menjauh darimu.”
Jaehyun justru mendekat selangkah, cukup untuk membuat jarak di antara mereka menipis. “Kalau benar kau ingin menjauh, kenapa kau selalu berhenti ketika aku menahanmu?”