Pernikahan yeri dan jaehyun berawal dari tuntutan keluarga jung demi menjaga nama baik, bukan dari cinta yang tulus. Namun, di balik semua keterpaksaan itu, yeri benar-benar mencintai jaehyun. Meski dikhianati dan disakiti, perasaannya tidak pernah...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy reading
Setelah pertemuan itu, yeri berharap segalanya akan tetap tenang. Tapi ia lupa, jaehyun bukan pria yang akan tinggal diam saat pikirannya penuh tanda tanya.
Dua hari setelah pertemuan mereka, jaehyun muncul lagi di lobi kantor tempat yeri bekerja. Tubuhnya menjulang dengan jas hitam elegan, wajahnya tenang tapi sorot matanya tajam dan menuntut.
Yeri menarik napas panjang saat melihat pria itu berdiri di depan lift, seolah telah menunggunya sepanjang hari.
"Aku hanya ingin bicara sebentar" katanya saat yeri hendak melewatinya.
"Aku sibuk," balas yeri cepat, melangkah ke dalam lift.
Jaehyun masuk sebelum pintu menutup."Kau hamil, yeri. Dulu. Setelah kita bercerai. Aku tahu itu."
Yeri menoleh, matanya menusuk. "Ya. Tapi aku keguguran."
Lift berhenti sejenak di lantai lima, tapi tidak ada yang masuk. Hening.
"Kau bukan orang ceroboh, yeri. Bahkan saat kita bertengkar hebat pun, kau selalu menjaga dirimu. Menjaga apa pun yang berharga bagimu." Jaehyun mencondongkan tubuh, suaranya menurun menjadi bisikan tajam. "Aku tahu anak itu masih hidup."
Yeri membeku. Tapi ia hanya berkata, "Kau terlalu percaya pada intuisi yang salah."
Jaehyun mendorong tubuh yeri hingga tersudut di dalam lift. Genggaman tangannya melingkari pergelangan tangan yeri, erat, tapi tak menyakitkan. Tatapannya menusuk, dan yeri bisa merasakan betapa seriusnya pria itu.
"Aku mohon, yeri. Aku hanya ingin melihatnya sekali saja," bisiknya, nyaris patah.
Yeri memalingkan wajah. "Kau tidak tahu apa-apa tentang apa yang terjadi setelah kau pergi, Jaehyun."
"Aku tahu aku salah. Tapi aku tetap ayahnya."
"Tidak" Yeri menjawab dingin, lalu menepis tangannya tepat saat pintu lift terbuka di lantai satu. Ia melangkah cepat keluar, meninggalkan jaehyun yang terdiam di balik pintu lift yang perlahan tertutup.
Jaehyun berdiri diam dalam lift yang menutup. Tubuhnya kaku, pikirannya kacau. Kata-kata Yeri tadi bergema keras di kepalanya:
"Tidak" Satu kata. Tapi rasanya seperti sesuatu yang tajam menusuk dadanya.