Pernikahan yeri dan jaehyun berawal dari tuntutan keluarga jung demi menjaga nama baik, bukan dari cinta yang tulus. Namun, di balik semua keterpaksaan itu, yeri benar-benar mencintai jaehyun. Meski dikhianati dan disakiti, perasaannya tidak pernah...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy reading
Sore itu, yeri singgah di sebuah toko roti kecil di sudut jalan. Ia membeli beberapa roti hangat lalu segera menaiki taksi menuju sebuah rumah yang terletak cukup jauh dari pusat kota. Sesampainya di tujuan, dari kejauhan yeri sudah melihat sepasang suami istri bersama seorang anak kecil berdiri di halaman rumah.
Senyum hangat terpancar dari wajah mereka seakan menyambut kedatangan yeri dengan penuh keakraban. Namun, yang paling bersemangat adalah anak laki-laki itu. Dengan langkah kecilnya yang tergesa ia berlari menghampiri yeri dan langsung memeluk tubuhnya erat-erat.
“Mama!” panggilnya dengan suara penuh kerinduan.
Yeri terdiam sejenak. Pelukan itu selalu menjadi pengingat betapa besar perjuangannya untuk melindungi anaknya. Sebelum kembali ke korea, yeri sempat berpikir keras dimana ia harus menyembunyikan putranya? Ia tahu cepat atau lambat pertemuannya dengan jaehyun akan terjadi jika ia kembali ke korea entah disengaja ataupun tidak. Dan firasat itu kini terbukti benar.
Nayeon, satu-satunya sahabat yang yeri percaya saat itu memberi saran untuk menitipkan anaknya pada kerabat jauhnya. Kebetulan, kerabat jauh nayeon sudah lama mendambakan kehadiran seorang anak. Mereka telah menikah bertahun-tahun tetapi belum juga diberi keturunan.
Sementara proses adopsi di korea begitu rumit dan sulit. Awalnya yeri sedikit ragu dan hatinya menolak melepaskan putranya. Namun nayeon terus meyakinkan bahwa keputusan ini adalah jalan terbaik daripada harus menitipkan anak itu pada penitipan dan akhirnya dengan terpaksa yeri pun menyetujui saran itu.
“Jaehyan kangen mama” ucap bocah itu lagi, suaranya terdengar sangat manja. Yeri tersenyum lembut, menunduk sambil mengusap kepala putranya. “Mama juga kangen banget dengan jaehyan.”
Jung jaehyan. Nama yang begitu mirip dengan Jung jaehyun. Entah apa yang ada di pikiran yeri kala itu. Saat pertama kali melihat wajah mungil putranya tanpa ragu yeri menamainya demikian. Setiap kali menatap putranya, yeri seakan terus diingatkan pada jaehyun. Jaehyan tumbuh dengan wajah yang nyaris serupa dengan jaehyun bahkan lesung pipinya pun berada di tempat yang sama dengan jaehyun.
Malam itu, di rumah sakit paris yeri masih terbaring lemah setelah melahirkan. Bayi kecilnya diletakkan di pelukannya untuk pertama kali. Tubuh mungil itu bergerak pelan, bibirnya terbuka seakan mencari kehangatan. Yeri menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Jaehyun…” bisiknya lirih tanpa sadar. Nama itu keluar begitu saja. Yeri menunduk, mengusap pipi bayinya dengan jemari gemetar. "Jung jaehyan.”
Sejak saat itu, setiap kali yeri menatap putranya pikirannya selalu teringat pada jaehyun. Wajah kecil itu begitu mirip, garis rahang, tatapan mata, bahkan lesung pipi yang sama persis dengan jaehyun.
•
Yeri dan jaehyan kini sudah berada di kamar jaehyan. Setiap kali yeri datang, pasangan suami istri yang merawat jaehyan selalu memberi mereka ruang, membiarkan ibu dan anak itu menghabiskan waktu berdua tanpa gangguan.