Walau dibilang Irene tidur dengan paman putra mahkota, tapi sesungguhnya Izek tidak setua itu. Kebiasaan di jaman ini adalah menikah muda bahkan bisa disebut belia. Jadi saat putra mahkota hadir a.k.a pemeran utama dari Never Ending ini, Izek mungkin hanya terpaut kurang lebih 10 tahun dari putra mahkota.
"Apa yang kau pikirkan?"
Irene memandang sengit pria di depannya. Mansion pribadi milik keluarga Duke Arthar yang berada di pinggiran kota tempat Irene bersembunyi. Betapa kebetulannya hidup ini saat Izek di tugaskan ekspedisi membasmi monster di wilayah ini dan menemukan partner One Night Standnya sedang berjalanjalan dengan riangnya di tengah kota.
Keberuntungannya tidak sampai di situ, Izek yang membawa penyihir untuk ekspedisi ini langsung membuat rencana penangkapan, yang dengan sekali percobaan kelinci pembangkang yang selama ini lari darinya tertangkap.
"Apa urusanmu?! Lepaskan aku!" Irene berontak dari ikatannya.
Mansion ini sudah di pasang semacam radar sihir untuk melumpuhkan penyihir atau bisa di sebut anti mana. Jadi bisa di pastikan Irene yang sekarang sama seperti orang biasa lainnya.
Jawaban kasar Irene tidak Izek tanggapi, namun pria itu malah menarik kursi Irene dan menempatkannya di tengatengah kakinya yang besar. Menghimpitnya dan memaksanya untuk berada dekat pada pria itu.
Perlakuan Izek makin membuat Irene marah, tapi dalam lubuk hatinya dia takut. Dia sangat takut kalau harus pergi dari dunia ini sekarang juga. Dunia yang dari dahulu sangat dia idamkan, dunia yang dulunya hanyalah sebuah angan baginya.
Kehidupan Irene yang dulu sangat bertolak belakang dengan sekarang. Dulu untuk makan dengan layak dalam satu hari sangat susah dia dapatkan. Tidur hanya 3jam dalam sehari, kemudian bangun dan berkerja lagi. Maka saat dia terbangun dengan sendok emas di mulutnya, dia menjadi serakah dan tidak ingin meninggalkannya.
Keringat dingin mengalir dari pelipis Irene, namun tidak ada yang bisa di lakukan ya selain melayangkan tatapan marah pada Izek dan mencoba terlihat kuat didepannya.
"..Kau tidak hamil?"
Pertanyaan yang membuat Irene terkejut. Dia bisa melihat sedikit kekecewaan terpancar dari mata Izek, tapi langsung menghilang secepat rasa kekecewaan itu datang.
"Apa maksudmu? Apa kau kecewa karna tidak memiliki alasan untuk membunuhku?" Irene berkata sengit. Reputasi Izek sangat terkenal di ibu kota.
Pria kejam yang bisa membunuh siapapun yang tidak disukainya. Yang pria itu butuhkan hanya alasan, tapi walaupun dia tak punya, rasanya Pria itu mampu membuat alasan konyol menjadi alasan masuk akal.
Salah satu hal yang melandasinta untuk pergi. Bukan karna jalan cerita tapi karna sebagian rumor di ibukota itu benar dan sebagai seorang yang berada di Utara jauhnya dan berhadapan dengan monster-monster mengerikan, bukan tidak mungkin sifat Izek akan terbawa karna Medan kejam yang selalu dia hadapi.
Izek tidak juga menjawab pernyataan menyakitkan itu. Dia menatap lurus ke arah Irene, di beberapa sisi rumor yang tersebar di ibukota sangat di buatbuat dan selalu ada pihak yang di untungkan di baliknya. Izek tidak pernah peduli akan hal itu, namun kali ini dia menyesal membiarkannya.
"Apa kau pergi karna rumor-rumor itu?" Izek mengatakannya tapi matanya sudah tidak fokus ke arah Irene, sepertinya katakata Irene sebelumnya menyakitinya terlalu dalam.
Perasaan bersalah hinggap di dada Irene, bagaimanapun rumor tersebut tidak ada bukti pastinya, dia lari lebih seperti karna dia ingin mempertahankan hidup bergelimang harta. Tidak seperti hidupnya dahulu.
Irene tidak menjawab pertanyaannya. Tapi ke diamannya seperti menjawab semua.
"Aku tidak seperti itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Oneshoot!
RomanceKumpulan cerita pendek atau oneshot. Dewasanya nyerempetnyerempet aja. Enjoy it! 20+
