Happy Ending

360 31 2
                                        

Bagian terbaik saat terlahir kembali dalam sebuah novel adalah kau bisa meliht karakter favoritmu secara langsung di depan kedua matamu. Namun bagian terburuknya adalah kau menjadi tokoh cerita yang berjalan di alur cerita yang pasti. Akan menjadi kesialan bagimu kalau kau menjadi tokoh antagonisnya.

Namaku dinovel ini Irene Leondwind, seorang npc dalam sebuah novel Never Ending. Sebuah novel cinta yang bercerita tentang perjalanan cinta putra mahkota dengan putri dari penghianat negara. Tentunya dengan bumbu drama dan kesalahpahaman yang kental, cerita ini persis seperti judulnya, tidak ada akhir untuk perjuangan mereka meraih cinta abadi.

Untungnya novel ini happy ending, walau sangat berteletele, aku berhasil menyelesaikannya. Bahkan sampai sekarang aku sangat bersyukur telah melihat akhirnya dan mengetahui endingnya, karna aku bisa berbuat apapun sekarang.

Sesadarnya aku setelah dikecup truk-kun yang ku rasakan adalah kebahagiaan. Irene adalah karakter samping yang merupakan OKB, orang kaya baru. Ayah ibunya adalah seorang pembisnis pakaian jadi dan menjadikannya mampu membeli gelar bangsawan. Dulu sebelum aku merasuki tubuh Irene, aku ingat persis keluarga Irene hanya bisa membeli gelar Baron dan sekarang setibanya aku disini, aku merubahnya dengan membeli gelar bangsawan Earl.

"Ini rotinya, nona."

Aku mengambil roti yang di serahkan penjual dan menyerahkan satu koin perak. Lalu keluar dari sana tanpa meminta kembalian.

Menurunkan tudung jubahku makin rendah. Di jalan sekarang sedang ramai ksatria GrandDuke berlalu lalang. Mereka membawa pedang dan berjalan dengan derap langkah yang berat. Aku makin memeluk erat kantong rotiku.

Aku berbelok digang sepit dan bersembunyi saat beberapa ksatria lewat. Membuka portal teleport menuju rumah kecilku di pinggir kota. Selama proses lingkaran sihir itu terbentuk, pikiranku terbang ke kejadian dua minggu yang lalu.

Sebagai bangsawan, aku di haruskan menghadiri pesta berdirinya kerajaan di istana. Sebelumnya aku tidak pernah menghadiri jamuan seperti itu. Aku sangat menghindari plot cerita novel ini, tidak akan ku biarkan diriku masuk dalam cerita. Lebih kurang karna aku tidak ingin mati dengan tragis ataupun tanpa sepengetahuanku menjadi target antagonis.

Tapi malam itu aku melanggar itu semua. Aku tidur dengan paman putra mahkota a.k.a Duke Artha dari Utara. Aku sangat bangga dengan diriku yang mampu menggoda si dingin dari ujung kerajaan ini, tapi karna itu sekarang aku di buru mati-matian olehnya. Namun harus ku akui itu malam yang sangat panas untukku yang sudah hidup 2 kali.

Aku bahkan masih bisa membayangkan bagaimana dia bergerak di atasku malam itu.

Kembali lagi pada saat malam itu, aku mabuk berat. Alkohol sialan itu menggodaku untuk terus minumnya dan berjalan tanpa arah ke ruang istirahat. Membukanya dengan dentuman keras dan mendapati ruangan itu gelap gulita.

Hanya ada sinar bulan yang masuk dari balkon yang pintunya terbuka. Menghembuskan semilir angin malam yang menerbangkan surai perak yang tertidur di sofa.

Tanpa banyak berpikir aku mengikuti instingku untuk menghampirinya. Aku tidak tau saat itu yang berada di hadapanku GrandDuke Artha, yang ku pikirkan hanya ketampanan dari wayah besurai perak ini.

Wajahnya mempunyai rahang tegas, hidungnya mancung dengan alis tajam. Matanya tertutup, tapi dahinya mengerut seperti menahan sakit.

Dengan kesadaranku yang setipis tisu, aku mengelus pipinya yang juga sepanas api membara. Merasa makin aneh, aku memperhatikannya dari atas kebawah, sampai aku menemukan titik permasalahannya.

Pria ini punya luka di perutnya. Merah darah sudah merembes keluar dari pakaiannya. Sepertinya pria ini tertidur setelah meminum ramuan obat tapi rasa sakit yang di timbulkan dari lukanya itu tidak bisa dia tampung dalam tidurnya.

Oneshoot! Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang