Happy Ending 3

137 10 2
                                        

Seperti yang Izek katakan, besok harinya mereka sudah di temukan oleh regu pencari. Mereka di evakuasi dan di perlakukan seperti kaca yang mudah pecah setelah sampai di barak. Mereka di beri makanan hangat dan juga di periksa kesehatannya oleh pendeta suci. Tidak hanya itu mereka juga diberi obat obatan yang sebenarnya tidak perlu, bahkan ramuan penambah energi untuk mempercepat pemulihn kesehatan mereka.

Padahal kalau di pikir pikir, mereka hanya hilang kurang dari 24jam. Namun mereka memperlakukannya seperti sedang melayani raja. Irene juga merasa tidak semengenaskan itu saat hilang. Irene masih makan makanan enak yang dicari Izek dan tidak ada drama dia kehausan ataupun kelaparan. Mereka terjebak di air terjun, persediaan air melimpah dan sebenarnya tidak terlalu buruk juga untuk makan ikan selama 7 hari kalau perlu.

"Nona! Apa anda tidak apa apa? Apakah ada yang sakit? Saya sangat cemas menunggu anda tidak kembali sejak kemarin!!" Irene datang dan di sambut oleh rengekan kesedihan dari Ruth. Wanita itu datang dengan handuk hangat dan langsung menyelimuti Irene yang masih dengan memakai jubah Izek.

Irene sudah mencoba untuk mengembalikannya pada sang empunya. Tapi Izek masa sekali menanggapi dan malah makin merekatkan ikatan jubahnya di leher Irene. Karnany Izek pulang hanya dengan di balut kaus hitam ketat yang menampilkan seluruh otot ditubuhnya.

Bisa di bayangkan kondisi barak yang hampir kacau, karna para wanita berebut melihat bunga di kubangan lumpur ini.

Irene mengatakan tidak apa pada Ruth dan kembali mengalihkan pandangannya ke arah Izek. Seperti ratu lebah yang di kerubungi para lebah pekerja, Izek sudah di kelilingi bahawannya yang melapor tentang perkembangan di ekspedisi ini. Tidak ada yang benar-benar pduli dengan keselamatan Izek, semua berpikir kalau Izek akan selalu baik-baik saja. Kemanapun dia pergi. Kemanapun bahaya hinggap di pundaknya.

Menyedihkan.

Melihat makin banyak lebah mengelilingi tanpa merasakan kelelahan di mata Izek. Irene seakan memiliki tanggung jawab untuk mengeluarkannya dari sana. Perasaan aneh yang muncul seiring lamanya dia berada di dunia novel ini.

Rasanya dunia ini sudah menjadi realitanya sekarang dan dunianya dulu hanyalah sebuah dongeng di siang hari.

"Duke.."

Hanya panggilan kecil dari Irene, tapi reaksinya di luar perkiraan Irene. Izek langsung menoleh kearahnya dan berjalan menghampirinya.

Komandan pasukan yang berada di sekeliling Izek seketika terdiam. Mengikuti pergerakan Izek seperti hewan buas menemukan mangsanya. Tatapan mereka tajam, walau dalam banyak arti.

"Saya ingin berbicara sebentar, boleh saya meminjam waktu Anda?" Irene berbicara pelan. Semua mata sedang melihat ke arah mereka, tanpa bisa di cegah Irene menggerakkan pundaknya tidak nyaman.

Izek melihatnya sebentar dan langsung mengerti tujuan Irene sebenarnya. "Apakah ini tentang Wyvern yang kita temui? Ayo ke tendaku. Aku memang perlu mendiskusikannya denganmu sebagai penyihir di ekspedisi ini."

Izek mengatakannya keras memastikan semua orang mendengar, lalu berjalan ke arah tenda besarnya. Sambil berjalan pria itu memanggil ajudannya dengan jarinya, membisikan sesuatu yang tidak bisa Irene dengar walau berada di belakangnya. Ajudan itu pergi dan membawa pesan yang membuat para komandan ekspedisi ini bubar ke tendanya masing masing.

Izek membukakan tendanya dan menunggu Irene masuk terlebih dahulu sebelum dirinya masuk. Kini hanya aada mereka berdua didalam tenda Izek. Tendanya lebih luas dari yang Irene tempati, itu hal wajar karna Izek pemimpin ekspedisi ini dan memiliki tanggung jawab yang lebih besar daripada kepalanya.

"Kau ingin teh?" Izek mengatakannya namun tndakannya mendahului perkataannya. Izek sudah menyerahkan teh melati yang harumnya sudah sedari tadi menarik perhatian Irene.

Oneshoot! Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang