[ Yohan ]
__________*
"Abang udah bilang, kamu ga boleh keluar kamar sejengkal pun!"
Yohan blank.
Dia sama sekali tidak memperhatikan atau bahkan mendengar ucapan Ezra yang sedang terlihat terbakar api emosi di hadapannya. Sebelumnya, Yohan terpaku melihat pasien kecelakaan yang ia rasa dia mengenalnya, namun seseorang menarik lengannya begitu kuat dari kerumunan dan membawanya kembali ke tempatnya, ruangan bau obat yang memuakkan.
"Kamu denger abang ga?"
Yohan berkedip, dia sendiri tidak tau mengapa dirinya bisa merasa kehilangan yang amat sangat hanya karena mengetahui Kavin --satu dari kumpulan orang orang yang selalu menganggunya di sekolah-- kecelakaan.
"Iya, adek denger."
Ezra menyugar rambutnya ke belakang, keringat membuat helaian rambut depannya lepek, pemuda itu menghela nafas panjang dan maju beberapa langkah. Kedua tangannya terangkat untuk menangkup wajah adiknya, Yohan entah kenapa terlihat hilang arah, Ezra bahkan tidak tau adiknya sadar atau tidak saat dirinya perlahan mencium kedua matanya.
"Adek.. "
Ezra akan mengutuk dewa yang harus membuat ia seperti ini.
"Adek.. "
Yohan kini berkedip tiga kali, tangannya spontan langsung menyentuh pundak Ezra, "abang, kasih tau adek soal Kavin."
Ezra mengerutkan keningnya, menjauh, membuat jarak di antara mereka.
"Kamu apaan sih? Udah abang bilang kamu itu ga kenal dia."
"Adek kenal!"
Yohan mengatur nafasnya, ingatan ingatan milik Johan yang lain perlahan terputar di otaknya. Ingatan soal Kavin.
"Fuck you, Johan." Yohan berbisik pada dirinya sendiri sebelum berdiri di atas kakinya sendiri, menatap lurus pada Ezra, "kavin, dia anak dari mama, kan?"
Ezra baru saja ingin membuka mulutnya untuk membantah namun Yohan kembali mengambil alih, "ah, ralat, adiknya kavin itu anak mama, kan? Kavin itu sodara gua."
Kedua tangan Ezra mengepal dengan erat kedua sisi tubuhnya. Apa yang Johan ketahui tentang keluarga brengsek itu? Bahkan, sebelum adiknya sempat mati --di nyatakan meninggal, karena seseorang mendorongnya-- Ezra yakin seratus persen, bahwa adiknya Johan berada di pihak sang mama.
Makanya dia tidak mau Johan-nya kembali berada di pihak cewe ular itu yang notabenenya adalah seseorang yang melahirkan ia dan abangnya.
Ernes, Sabiru dan Ezra memang tidak pernah peduli pada kehidupan Johan, karena anak itu sama dengan Catrina -istri Ernes- sama sama penuh manipulasi.
"Ngga." Ezra membantah dengan nada suara yang tajam, "cuma Sabiru sama abang sebagai sodara kamu."
Yohan menggigit bibir bawahnya ketika nama yang ia cari tak kunjung datang dari ingatan Johan, "adek tau semuanya. Adek tau."
"Ayah cerai, mama punya keluarga lain, dia.. " Yohan mencengkram erat baju rumah sakitnya, "dia, anak mama yang dorong aku sampe mati, kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Yohan [ END ]
Teen Fiction[ Brothership, Friendship ] Yohan itu selalu bangga sama tubuh bongsor tingginya, bahkan teman temannya selalu memanfaatkan dia untuk memimpin jalanan agar membuat lawan ketar ketir seolah melihat titan. tapi takdir tidak pernah ada yang tau, Yohan...
![Yohan [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/362366748-64-k313790.jpg)