Chapter 30

4.1K 408 14
                                        

[ Yohan ]

_________*

  Langit biru cerah membentang hari itu, di tambah birunya hamparan pantai pulau Anggrek. Yohan tak henti henti mengagumi laut biru yang tampak cantik karena terbias cahaya matahari.

Sedangkan Ezra sedang duduk di kursi yang tersedia di depan resto, tempat dimana ayah mereka sedang membicarakan bisnis, dan kini Ezra harus duduk bersama Jake. Bersebelahan.

Ezra sudah masang muka dingin aja daritadi, seolah ngasih peringatan senggol bacok, dan Jake ga berhenti berhenti buat menggerutu sambil masang muka sinis.

mereka berdua kayak dua kutub yang di paksa di satukan. Saling tolak menolak.

Ernes, Sabiru, Atthar dan Olin masih sibuk di dalam, kebetulan resto yang mereka kunjungi tepat menghadap ke arah pantai.

  Yohan sudah menenggelamkan setengah kakinya ke dalam air, tertawa kecil ketika sapuan ombak lembut menghantam kakinya.

Ezra dan Jake mau tak mau ikut mendekat, sudah tau Yohan banyak tingkah, dan mereka tak mau mengambil resiko kehilangan anak itu. Bisa bisa dua duanya di tendang dari hotel oleh Ernes.

"Adek."

Yohan menoleh, dan Jake sudah meledek sambil mengikuti perkataan Ezra.

"Lu diem."

"Gua diem daritadi, lu aja yang kepedean."

"Lu ga seneng banget sama gua kayaknya, dari nada bicara lu."

"Emang, masalah buat lu?"

Yohan mengerutkan keningnya dan matanya terus menatap Ezra dan Jake bergantian, apa apaan dua manusia preman ini? kenapa tiba tiba saling sahut sahutan sambil ngegas?

"Jangan mentang mentang lu ketua Axius, lu mikir kalo lu lebih kuat dari pada orang lain."

"Gua ga mikir begitu," Jake maju satu langkah, mendekat ke arah Ezra, "lu aja tiba tiba bawa bawa nama geng gua, geng lu juga gada apa apanya."

"Gausah bawa bawa Karsax."

"Lu bawa bawa Axius duluan, Axius ga sebanding sama Karsax yang isinya cuma banci."

"Maksud lu apa, hah?" Ezra maju tiga langkah, kini mereka sudah saling berhadapan, bahkan nafas keduanya bisa mereka rasakan. Memburu. Penuh emosi.

"Ya emang, kan? isinya cuma anak anak sok malaikat, anak anak SMA aja yang pada fomo dan mau ikut ikutan geng lu, yang gada aksinya sama sekali."

Ezra mendorong pelan bahu Jake, wajahnya sudah merah total, "ga segala hal harus pake kekerasan, bajingan kecil."

"Tapi abang dorong Jake duluan, udah! udah! ngapa jadi ribut si kalian?"

Jake dan Ezra mendorong pelan Yohan agar menjauh.

"Oh ya? gua bakal bikin lu ngaku, kalo kekuatan itu paling utama di bandingkan solidaritas yang selalu Karsax agung agungin."

"Kekuatan gada apa apanya kalo lu ga punya orang orang yang bakal setia di belakang lu."

"Bacot lu, banci, cowo gada apa apanya bisa bisanya bikin dia tertarik."

Yohan  [ END ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang