[ Yohan ]
_________*
"Lu inget kamar ini?"
Yohan sekarang berada di dalam kamar Kavin yang di kelilingi poster band, kamar gelap bercat abu putih hitam kini menjadi tempat pelariannya bolos dari pelajaran sejarah.
Lari dari genggaman Jake saja tadi sudah sangat susah, bagaimana nanti jika Ezra mengetahui dia bolos dan pergi bersama Kavin, jelas jelas Ezra anti sekali kepada pemuda ini.
"Ini, buku punya lu," Kavin menyerahkan sebuat sketchbook dengan sampul awal biru, "dulu ketinggalan, dan selalu gua simpen di kamar ini."
Yohan membuka buku itu, melihat goresan tangan yang indah dan keren, jika saja Kavin tau bahwa yang mengisi tubuh itu sekarang adalah Yohan, pemuda bongsor yang sangat payah dalam hal menggambar apa reaksinya ya?
Yohan dulu di suruh menggambar gunung, sawah sama matahari aja gabisa, gunungnya malah jadi segitiga sama kaki dan mataharinya warna merah, udah kayak mau kiamat.
"Lu masih kepengen jadi pelukis?"
Yohan menggeleng pelan, masih sibuk membalikan kertas, "gua punya keinginan lain sekarang."
"Ohya?" Kavin memiringkan kepalanya, sangat penasaran dengan keinginan Johan, dia mungkin suatu saat bisa mewujudkan apapun yang Johan inginkan, "mau jadi apa?"
"Mukbanger."
Kavin tertawa menutup matanya dengan lengan kanan, image cool menyeramkan yang pernah Yohan sematkan pada pemuda itu hilang, terhempas entah kemana.
"Kok ketawa?"
"Gua ga yakin lambung kecil lu bisa nge-wujudin keinginan lu itu."
"Kok lu kayak ga yakin gitu si sama gua?" Yohan mendengus.
"Ya lagian, dulu gua beliin eskrim seember aja ga di habisin."
"Stress," Yohan berdecak kesal, walaupun tak ingat jika memori Johan ada yang seperti itu, "lu aja sini gua jadiin ember."
Kavin kembali tertawa, menjatuhkan dirinya ke atas kasur dan memeluk boneka monyet sambil terus tertawa.
"Receh banget lu, ketawa mulu."
Kavin meredakan tawa, "lu lucu banget sekarang."
"Dari lahir bos."
"Han."
Yohan berdehem, mendengar panggilan dengan suara lembut itu membangkitkan Yohan kembali, terlempar pada salah satu memori milik Johan.
"Gua ga pernah nyesel ngelakuin segala hal buat lo."
Yohan mengerutkan keningnya, "apapun?"
"Ya, apapun." Kavin duduk di ujung kasur, menatap lembut pada manik Yohan, "apapun yang gua lakuin, entah itu kebaikan atau kejahatan sekalipun, gua selalu seneng kalo alasannya karena lo."
"Agak gila ya kedengerannya."
"Gua emang gila karena lo."
KAMU SEDANG MEMBACA
Yohan [ END ]
Fiksi Remaja[ Brothership, Friendship ] Yohan itu selalu bangga sama tubuh bongsor tingginya, bahkan teman temannya selalu memanfaatkan dia untuk memimpin jalanan agar membuat lawan ketar ketir seolah melihat titan. tapi takdir tidak pernah ada yang tau, Yohan...
![Yohan [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/362366748-64-k313790.jpg)