[ Yohan ]
________*
Ini sudah seminggu berlalu dan Yohan sudah dari 3 hari sebelumnya sudah aktif kembali bersekolah.
"Udah kenapa sih, bisa di kata yang ngga ngga sama satu sekolah woi," Yohan mendorong wajah Ezra yang sedari awal turun dari mobil tak mau menjauh.
"Abang mau kita sekelas."
"Gila kali ni orang," Yohan membuat jarak di antara mereka sebelum akhirnya satu belokan lagi maka mereka akan pergi ke gedung yang berbeda, "adek mau sekolah, bukan mau pergi perang."
"Ya tapi abang gabisa jauh dari kamu."
Alay banget sumpah.
Yohan hanya bisa mengutuk Ezra dalam hatinya, tentu saja dia tak berani jika berkata yang tidak tidak di depan manusia yang sekarang sama sekali tak mau melepaskan tangannya.
"Abang, bentar lagi bel udah bunyi," Yohan meringis ketika melihat Jake dan Rex di kejauhan, sedang memperhatikan.
"Oke, adek janji deh nanti istirahat bakal pergi ke kantin SMA."
"Oke," Ezra langsung menegakkan tubuhnya, mengacak acak sekali rambut adiknya lalu berjalan pergi meninggalkan Yohan sendirian yang sedang kebingungan.
"Stress."
Yohan berjalan ke gedung SMP sambil menggerutu, bibirnya yang kecil terus mengerucut karena ia sibuk mengomel atas kelakuan Ezra sedari kemarin yang selalu ingin mengekorinya selama di sekolahan.
"Adek."
Dan dia harus kembali kesal mendengar suara Jake yang terdengar merendahkan sambil melipat kedua tangan, bersandar pada tembok. Yohan menoleh, dan bersumpah serapah saat menemukan tatapan menggoda dari Jake.
"Adek mau kemana si? Abang nungguin nih dari tadi, pegel kaki abang, dek."
Yohan mendengus.
Memilih meninggalkan keduanya di belakang, Jake tertawa merasa terhibur dan Rex yang terkekeh.
Semuanya berjalan dengan lancar, keluarga, teman teman, segala hal mungkin masih bisa dia kendalikan. Tak ada lagi emosi Johan yang ikut campur, karena Yohan bertekad akan mengambil alih semuanya.
[ Yohan ]
"Lu kayaknya nanti langsung pulang aja deh," Jake duduk bersandar pada punggung kursi, total menghiraukan guru sejarah di depan yang sedang menerangkan pelajaran.
"Kenapa?"
"Mau ada tawuran."
Yohan mendengus, tangannya sibuk menulis poin poin penting yang sang guru jabarkan, biar saja dia di kehidupan sebelumnya tidak pernah mencatat pelajaran, di kehidupan yang sekarang Yohan ingin mengubah otaknya. Alasannya, karena dia sudah tidak bisa menonjol karena kekuatan dan bentuk tubuhnya maka sekarang dia akan menonjolkan diri dengan kepintarannya.
"Gua ikut lah," Yohan masih tetap fokus memperhatikan guru.
"Lu mau ikut tawuran? Gak, gausah gila," Jake menjatuhkan kepalanya ke atas meja, mata tajam itu terbuai untuk memperhatikan Yohan yang sedang serius dalam kesibukannya mencatat, "gua ga punya balon soalnya, takut lu kebacok terus nangis."
KAMU SEDANG MEMBACA
Yohan [ END ]
Teen Fiction[ Brothership, Friendship ] Yohan itu selalu bangga sama tubuh bongsor tingginya, bahkan teman temannya selalu memanfaatkan dia untuk memimpin jalanan agar membuat lawan ketar ketir seolah melihat titan. tapi takdir tidak pernah ada yang tau, Yohan...
![Yohan [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/362366748-64-k313790.jpg)