23

120 19 10
                                        

Angin bertiup lembut, memberikan sensasi yang menyejukkan untuk dua orang yang kini sedang berdiri di atap sembari menatap gedung-gedung pencakar langit yang hampir memenuhi Seoul.

Setelah penjelasan singkat yang di sampaikan Shin Aeri, suasana menjadi hening. Hanya suara angin bertiup yang mengisi telinga. Sohyun tidak membela diri, apa yang di katakan oleh Aeri memang benar adalah kesalahannya.

"Maafkan aku."

Kalimat itu memecah keheningan. Sohyun lalu melanjutkan, "Aku tahu aku salah. Aku terlalu mempercayai pria brengsek itu. Aku tidak tahu apapun yang terjadi padamu, Aeri-ya. Aku hanya mendapatkan kabar bahwa kau kecelakaan dan tidak bisa di selamatkan. Aku sangat menyesal."

Aeri menghela napas pelan, "Aku juga minta maaf padamu, Sohyun. Aku tidak tahu bahwa Juny__, maksudku pria brengsek itu telah melakukan sesuatu yang begitu jahat padamu. Aku hanya mempercayainya karena aku begitu menyukainya, dulu."

Sohyun tersenyum tipis, "Jadi kau sudah memaafkanku?"

Aeri berdehem pelan, "Y-ya."

"Kalau begitu aku juga memaafkanmu, Aeri-ya."

Aeri menatap Sohyun dengan bingung, "Begitu saja?"

"Ya. Kau meminta maaf. Aku meminta maaf, lalu kita saling memaafkan. Itu saja." Jawab Sohyun dengan senyum di wajahnya.

Semudah itu? Pikir Aeri. Padahal selama bertahun-tahun ini dia menyimpan banyak kebencian dan dendam untuk Sohyun. Dan ternyata semua ini hanya kesalahpahaman? Lalu Sohyun memaafkannya begitu saja?

"Terimakasih, Sohyun-ah."

Sohyun tersenyum lalu mengangguk, "Jadi... Bagaimana kau bisa jadi seperti ini... Maksudku.. wajahmu? Aku sama sekali tidak akan mengenalimu jika tidak mendengar bibi memanggil namamu."

"Kecelakaan itu merusak wajahku, hingga aku harus melakukan operasi untuk mengatasinya." Aeri tersenyum tipis, "Aku berpikir untuk membalas dendam padamu, tapi setelah melihat wajahmu, hatiku selalu ragu. Aku kesulitan untuk membencimu, karena dalam ingatanku kau adalah salah satu teman baik yang aku miliki. Sohyun, aku benar-benar minta maaf untuk semuanya. Bisakah kita kembali menjadi teman seperti dulu?"

Sohyun menepuk pelan tangan Aeri yang berada di punggung tangannya. "Tentu saja. Dari dulu hingga sekarang, kau tetap temanku, Aeri-ya."

.

.

.

"Sudah selesai? Kenapa lama sekali?" Taehyung langsung berlari menghampiri Sohyun.

"Iya, sudah selesai. Ada banyak hal yang kami bicarakan tadi."

"Sejak kapan kau berteman dengan Sejong?" Tanya Taehyung penasaran.

"Em.. sejak sekolah menengah pertama." 

"Benarkah? Mengapa kau tidak pernah bilang padaku jika dia adalah temanmu?" Taehyung kembali bertanya setelah menyalakan mesin mobil. Seingatnya.. dulu pertemuan pertama Sohyun dengan Sejong di kantor sangat buruk, Sohyun bahkan memintanya untuk memecat sekretarisnya itu.

Sohyun terkekeh pelan, "Nanti aku akan ceritakan."

Hubungan Taehyung dan Sohyun mulai membaik belakangan ini. Mereka sama-sama membuka diri dan belajar untuk lebih saling memahami. Walau terkadang di beberapa waktu trauma Sohyun masih muncul, namun dia berusaha untuk mengatasinya, Taehyung juga selalu ada untuk menenangkannya ketika trauma itu muncul.

.

.

.

Jarum jam tidak pernah bertanya apakah kita siap untuk melangkah, ia hanya terus berdetak. Musim demi musim berganti hingga garis-garis di sudut mata mulai bercerita tentang tawa yang mulai sering hadir mengimbangi sisa-sisa air mata.

Paenitet ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang