22

145 24 11
                                        

Keringat dingin mengalir membasahi tubuhnya. Lagi-lagi mimpi buruk itu datang menghantui Sohyun. Air mata terus mengalir bersamaan dengan tubuh yang bergetar. Perasaan ini tidak asing. Perasaan gelisa dan khawatir bercampur menjadi satu. Sohyun pernah seperti ini beberapa tahun yang lalu.

Tangannya bergerak mencari sesuatu dari dalam laci kecil di nakas, namun tidak ada. Sohyun lupa jika semua obat penenangnya sudah di buang.

Wanita itu menarik rambutnya, berharap rasa sakit di kepalanya akan berkurang. Namun nihil, sakitnya semakin menjadi-jadi, membuat Sohyun tidak tahan lagi.

"Sakiitt... Sakit sekali..." Ujar Sohyun dengan napas terengah.

Wanita itu juga memukul dada kirinya untuk mengurangi rasa sesak yang di rasakan, namun tetap tidak ada perubahan.

Sohyun takut...

"Sohyun!" Taehyung berlari menghampiri wanita itu. Dia memang tidak bisa tidur sedari tadi, lalu mendengar suara yang sedikit berisik dari kamar Sohyun.

"Berhenti." Pria itu berusaha menghentikan Sohyun yang masih memukul dadanya.

"Sakit, rasanya sangat sakit."

"Tidak apa-apa. Sakitnya akan segera menghilang. Tenanglah." Taehyung menarik Sohyun ke dalam pelukannya. Mengusap punggung wanita itu dengan lembut.

"Tidak apa-apa, Sohyun. Tenanglah, hem? Aku ada di sini bersamamu."

"A-aku takut..." Sohyun meremas baju Taehyung, menyalurkan rasa takutnya.

"Ada aku di sini, kau akan baik-baik saja. Percaya padaku, ya?"

Sohyun mengangguk, namun karena napasnya masih belum teratur. Taehyung melepaskan pelukan, awalnya Sohyun menolak, namun Taehyung menatapnya sembari mengatakan 'sebentar aja'. Akhirnya wanita itu setuju untuk melepaskan pelukan.

"Bernapas perlahan, tarik pelan-pelan, lalu hembuskan."

Sohyun mengikuti intruksi Taehyung, dan mengulanginya beberapa kali.

Setelah napasnya sudah mulai stabil, Taehyung mengusap lembut pipi Sohyun yang basah. "Sudah ya?" Ucapnya lembut, "Sekarang kemari." Pria itu kembali membuka tangannya, dan Sohyun langsung menghamburkan diri ke dalam dekapan hangat sang suami.

Taehyung tidak bertanya apa yang terjadi, dia hanya ingin membuat Sohyun merasa lebih baik sekarang.

Perkataan dokter Yujin benar. Keadaan mental Sohyun saat ini sedang tidak stabil. Saat ini Sohyun hanya perlu di temani.

Lalu bagaimana dengan perkataan wanita itu beberapa saat yang lalu?

Taehyung menunduk, melihat Sohyun yang mulai bernapas dengan stabil. Mata wanita itu mulai tertutup. Taehyung tersenyum kecil lalu mengecup singkat kening wanita yang berstatus istrinya itu.

Selama ini, pasti sangat sulit bagi Sohyun menjalani kehidupan dengan sebuah trauma.

Taehyung merasa iba, ada keinginan untuk menjaga dan melindungi Sohyun. Namun... Apakah itu memungkinkan dengan keadaan mereka yang bahkan tidak saling mencintai?

.

.

.

"Taehyung?" Hyunsik menepuk pelan bahu sepupunya itu. Karena sudah berkali-kali dia memanggil, namun pria hanya diam seperti patung.

"Eoh? Ada apa, Kak?"

Hyunsik membuka mulut tak percaya, "Woah... Ada apa denganmu? Aku sudah berkali-kali memanggilmu untuk meminta tanda tangan berkas ini." Pria itu menyodorkan sebuah map berwarna biru.

Paenitet ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang