Jimin tidak membawa Sohyun ke rumah sakit malam itu, karena yang bersangkutan tidak ingin ke rumah sakit. Mereka kembali ke hotel setelah Sohyun sudah terlihat lebih tenang.
"Bagaimana perasaanmu?" Tanya Jimin sembari meletakkan teh hangat di atas meja.
Sohyun yang duduk di sofa dengan memeluk kedua lututnya itu mengangguk pelan.
"Minumlah dulu." Jimin memberikan gelas berisi teh hangat kepada sang sahabat dan membantu wanita itu untuk minum.
"Keberatan untuk bercerita sesuatu padaku?" Pertanyaan lembut dari Jimin membuat Sohyun menoleh dan menatap pria itu dengan mata sembabnya.
Sohyun terdiam, masih tidak berani untuk bercerita kepada siapapun tentang alasan dia menjadi seperti ini. Jimin sudah lama tahu jika dirinya memiliki masalah kecemasan, namun pria itu tidak tahu alasannya dan tidak pernah bertanya. Baru kali ini pertanyaan itu keluar dari bibirnya.
"Ma-maaf." Hanya kata itu yang keluar dari bibirnya.
Jimin menghela napas pelan, "Tidak apa-apa jika kau belum siap. Aku tidak memaksa. Tapi Sohyun-ah, aku akan selalu siap mendengarkanmu. Tolong jangan memendam semuanya sendiri, kau punya aku, hem? Aku tidak mau melihatmu terus seperti ini. Atau kau bisa pergi ke psikiater. Semua ini demi kebaikanmu. Aku mohon, Sohyun-ah."
Sohyun mengangguk, "Te-terima kasih, Jim. Tolong jangan membenciku apapun yang terjadi."
"Tidak. Untuk apa aku membencimu? Kau adalah teman yang sangat aku sayangi. Aku bisa berjanji untuk itu "
Sohyun sangat bersyukur memilik Jimin dalam hidupnya. Pria itu selalu ada dan bisa membuatnya bertahan sampai sejauh ini.
"Sekarang kau harus istirahat. Besok pagi kita akan kembali ke Seoul. Ayo." Jimin mengulurkan tangannya dan membantu wanita itu untuk istirahat di kamar sebelum kembali ke kamarnya sendiri.
.
.
Sebenarnya tujuan Junyong hadir dalam acara fasion week malam ini hanya untuk memenuhi undangan, dia di undang karena termasuk salah satu pengusaha tersukses di New York yang juga merupakan salah satu sponsor acara. Awalnya dia hanya ingin hadir sebentar karena masih harus mengurus sesuatu di perusahaannya. Namun saat melihat Sohyun yang juga berada disana membuat pria itu ingin menemuinya.
Namun apa terjadi pada wanita yang sudah lama tidak dia temui itu membuatnya cukup heran. Apa Sohyun sakit ?
Junyong mengambil gelas yang telah terisi penuh dengan wine, lalu meminumnya dengan sekali teguk. Dia akan mencaritahu apa yang membuat Sohyun menjadi seperti itu. Dan... Dia juga akan mencari alasan mengapa Sohyun bisa menikah dengan pria seperti Kim Taehyung.
.
.
.
Sohyun tiba di rumah pukul sepuluh malam setelah hampir enam belas jam berada di dalam pesawat. Daeyun menyambutnya dengan senyum yang hangat. Wanita setengah baya tersebut membantu membawakan beberapa barang yang di bawa oleh Sohyun dan mengantarnya ke kamar.
"Nyonya butuh sesuatu?"
"Tidak, bi. Terimakasih. Oh, Apa bibi akan menginap malam ini? " Tanya Sohyun yang sudah merebahkan tubuh di atas kasur. Dia benar-benar merasa sangat lelah.
Wanita setengah baya itu menggeleng pelan, "Saya akan pulang sebentar lagi, nyonya."
Sohyun bangkit dari kasur kemudian mengambil sebuah paper bag. "Ini untuk bibi dan paman."
Daeyun membulatkan matanya melihat paper bag berukuran agak besar itu. "Astaga, seharusnya anda tidak perlu repot-repot nyonya."
"Jangan bilang begitu bi. Ini hanya hadiah kecil, tidak sebanding dengan apa yang bibi lakukan selama ini untukku. Jadi, ambilah." Ucap Sohyun tulus.
KAMU SEDANG MEMBACA
Paenitet ✓
FanfictionBagi Sohyun, pernikahan hanyalah sebuah dokumen, tiket sekali jalan untuk menuju kemerdekaan dari sangkar emas. Dan bagi Taehyung, pernikahan adalah bisnis yang diselimuti simpati. Namun, saat masa lalu yang gelap dan berlumur luka tiba-tiba mengg...
