[ Yohan ]
_________*
Yohan duduk bersandar pada kursi kayu yang tersedia di belakang halaman rumah mereka. Berhadapan langsung dengan harimau yang dulu pernah ingin ia sentuh, namun tak bisa karena Ernes sudah lebih dulu menyadari keberadaannya. Kedua kakinya terangkat dan tangannya sibuk menggenggam paha ayam yang sudah setengah ia makan.
Matanya fokus menatap pada kandang hitam dimana harimau itu tertidur lelap setelah tadi pak Djarot beri makan. Pikirannya melayang jauh, entah kemana, jiwanya terlempar ke masa lalu. Ayam di tangannya bahkan bisa Yohan abaikan kali ini, padahal di hari biasa tulangnya pun bisa dia makan.
Yohan ingat, saat terakhir dia berada di dunia lamanya, sebelum tawuran hari itu.
"Yohan.. "
Yohan, --remaja SMA yang memiliki postur tubuh cukup atletis, dengan tinggi badan yang lebih tinggi dari anak seumurannya serta wajah sempurna yang di turunkan oleh mamanya--. Beranjak dari duduknya segera setelah mendengar suara lembut mendayu memanggil namanya. Hanya satu kali panggilan saja sudah mempu membuat Yohan bergegas menghampiri asal suara.
"Ada apa, ma?"
"Yohan.. "
Yohan langsung membuka pintu kamar bercat putih tepat berada di sebelah ruang TV, tempat dimana dia sebelumnya berada. Setelah pintu terbuka sempurna, suasana hangat dengan tembok berwarna sage di tambah beberapa tanaman palsu di pojok kamar, sontak membuat Yohan terlena. Suasana seperti ini yang selalu membuat Yohan tak tahan berada jauh dari rumah.
Mama berbaring di atas kasur.
berselimut kain pink tipis dengan satu boneka kelinci putih di sebelah wanita itu, Yohan ingat, mama pernah bilang itu adalah hadiah berharga dari ayahnya ketika mereka baru menjalin hubungan. Lucu, Yohan sangat menyukai mamanya ketika wanita itu masih bisa bersemu malu hanya dengan memeluk si boneka.
"Mama laper? ada yang mau di makan?"
"Kamu kenapa ga pake baju, sih?" Mama mendengus melihat anaknya, hanya memakai celana pendek selutut tanpa atasan, "gimana kalo kamu masuk angin, ih!"
Yohan langsung bergegas menghampiri ranjang ketika sang mama baru saja ingin bangkit, "mama jangan langsung begitu dong, nanti kalo pusing kan Yohan juga ikut pusing," Yohan perlahan duduk di bibir ranjang, salah satu tangannya menggenggam tangan sang mama dengan lembut, "Yohan mau nyombong, badan secakep ini masa ga di sombongin, sih?"
Yohan meringis.
Sebab mama langsung memukul pahanya, tidak kencang, tidak juga menimbulkan rasa sakit, itu hanya reflek.
"Apasih, ma?"
"Yohan.."
"Tuh, ga jelas emang cewe mah, dikit dikit ngamuk, dikit dikit cemberut," Yohan terkekeh, ibu jarinya bergerak untuk mengelus punggung tangan mamanya.
"Ish! mama tuh mau curhat.."
"Sorry mah, Yohan emang terkenal tapi Yohan bukan mamah dede."
Mama tertawa, "kamu tuh ya! ngeselin, mama mau ngomong serius tau!"
"Ada apa sih, mama sayang? Yohan kurang apa? itu bubur dari pagi ga di makan udah Yohan beliin, bak mandi udah Yohan bersihin, teras udah Yohan buat kinclong, bahkan kandang ayam pak Tarno aja sampe Yohan jual."
KAMU SEDANG MEMBACA
Yohan [ END ]
Teen Fiction[ Brothership, Friendship ] Yohan itu selalu bangga sama tubuh bongsor tingginya, bahkan teman temannya selalu memanfaatkan dia untuk memimpin jalanan agar membuat lawan ketar ketir seolah melihat titan. tapi takdir tidak pernah ada yang tau, Yohan...
![Yohan [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/362366748-64-k313790.jpg)