Happy reading 💔✨
(◡‿◡✿)
Malam itu terasa panjang.
Terlalu panjang... bahkan untuk sekadar memejamkan mata.
Aina berdiri di depan wastafel dapur, mencuci piring satu per satu. Air mengalir tanpa henti, seperti pikirannya yang tak berhenti berputar.
Di ruang tamu... suara langkah pelan terdengar.
Gus Dika.
Ia berdiri beberapa saat, menatap punggung Aina yang tampak kecil dari kejauhan.
Biasanya... perempuan itu akan bercerita banyak hal sebelum tidur.
Tentang hal kecil, tentang hal sepele.
Tapi malam ini-
Tidak ada apa-apa.
"Aina..." panggilnya pelan.
Tidak ada jawaban.
Aina tetap mencuci piring.
Air terus mengalir.
Seolah-olah ia tidak mendengar.
Gus Dika mendekat sedikit.
"Aina, kita perlu bicara."
Aina mematikan keran.
Sunyi.
Ia mengeringkan tangannya dengan lap, lalu berbalik.
Tatapannya datar.
"Bicara apa lagi?"
Nada suaranya... dingin.
Sangat dingin.
Gus Dika menelan ludah.
"Tentang kita."
Aina tertawa kecil.
Namun tidak ada bahagia di sana.
"Kita?"
Ia melipat tangan di depan dada.
"Kita yang mana, Gus?"
Deg.
Pertanyaan itu menusuk.
Gus Dika tidak langsung menjawab.
Aina melanjutkan pelan-
"Kita yang dulu? Atau kita yang sekarang?"
Sunyi.
"Aina... jangan seperti ini."
Aina menatapnya lama.
Lalu tersenyum tipis.
"Seperti apa?"
Gus Dika menghela napas.
"Mas tahu kamu sakit."
Aina langsung menyela.
"Semua orang juga tahu."
Kalimat itu keluar cepat.
Tanpa emosi.
Justru itu yang membuatnya lebih menyakitkan.
Aina melangkah melewati Gus Dika.
Namun saat melewati, ia berhenti.
Sangat dekat.
"Cuma bedanya..."
Aina menoleh sedikit.
"Semua orang menganggap itu biasa."
Langkahnya kembali berjalan.
Meninggalkan Gus Dika yang membeku di tempat.
KAMU SEDANG MEMBACA
perjodohan dengan Gus (ON GOING)
Teen FictionIni kisah aina yang harus menerima perjodohan dengan gus nya sendiri, juga gus dika yang harus membimbing santri abinya yang kini berstatus sebagai istrinya. Sifat keduanya sungguh berbanding berbalik, gus dika yang memiliki sifat penyabar dan tegas...
